SULIT BERSAING: Hotel di Kota Semarang saat ini hanya mengandalkan okupansi dari tamu bisnis, sehingga membuat hotel kehilangan banyak pemasukan dibanding tahun-tahun sebelumnya. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
SULIT BERSAING: Hotel di Kota Semarang saat ini hanya mengandalkan okupansi dari tamu bisnis, sehingga membuat hotel kehilangan banyak pemasukan dibanding tahun-tahun sebelumnya. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
SULIT BERSAING: Hotel di Kota Semarang saat ini hanya mengandalkan okupansi dari tamu bisnis, sehingga membuat hotel kehilangan banyak pemasukan dibanding tahun-tahun sebelumnya. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sepanjang 2015 ini, bisnis hotel diprediksi sulit berkembang. Banyak faktor yang memengaruhinya. Paling memukul dunia perhotelan adalah larangan meetings, incentives, conferences, and exhibitions (MICE) untuk pemerintahan.

MICE dan okupansi kamar adalah pilar pendapatan ranah perhotelan. Salah satu pilar terbilang sudah roboh sejak kebijakan larangan government meeting di hotel yang berlaku sejak awal November 2014. Dengan begitu, hotel hanya mengandalkan nilai okupansi sebagai satu-satunya jurus pemungkas agar bisa terus eksis.

“Biasanya, tiga bulan pertama memang sepi tamu. Tapi tahun ini, agaknya jumlah okupansi akan tetap rendah entah sampai kapan. Apalagi, makin banyak kompetitor yang tumbuh di Semarang,” ungkap Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Semarang Dedy Sumardi.

Masa kejayaan okupansi hotel terjadi pada 2013 silam. Misalnya di Hotel Quest, year of date (1 Januari – 31 Desember) mencapai 92 presen. Angka itu mulai turun di 2014 yang hanya mencapai 92 persen. “Tahun ini dipredisi kembali merosot. Mungkin sekitar 84 persen,” kata Dedy yang juga General Manager Hotel Quest Semarang.

Penurunan itu lebih realistis lantaran akan banyak apartemen yang tumbuh di Kota Atlas. Agaknya itu bukan masalah asal masih tetap berada di dalam koridornya. Tapi jika beralih fungsi jadi hotel, bagi Dedy, bisa mengancam industri perhotelan. “Bagi PHRI, ini nggak fair. Apartemen ya apartemen. Tidak disewakan harian seperti kamar hotel. Seharusnya apartemen untuk tempat tinggal, bukan transit. Minimal satu bulan-lah. Kalau di negara-negara maju, apartemen justru menjadi rumahnya warga yang ekonominya menengah ke bawah lantaran harga landed house di sana tinggi,” paparnya.

Ketatnya kompetisi ini masih ditambah dengan masalah pemerintah yang memudahkan izin pembangunan hotel. Padahal, jumlah tamu yang masuk ke Semarang masih stagnan. “Jika tamu tetap, tapi kapasitasnya terus bertambah, berarti resapannya tidak akan optimal. Misalnya ada seribu tamu dengan 10 hotel, berarti per hotel kebagian 100 tamu. Sekarang yang terjadi, jumlah tamu tetap tapi jumlah hotel meningkat dua kali lipat. Praktis, jumlah tamu hotel akan menurun,” ungkapnya memberi gambaran.

Fenomena ini yang diharapkan Dedy jadi perhatian pemerintah. Bagaimana caranya agar para wisatawan atau pebisnis yang datang ke Semarang bisa bertambah untuk mengimbangi pertumbuhan jumlah hotel.

Diakui, Pemkot Semarang memang kerap menggelar event berskala nasional atau bahkan internasional. Tapi agaknya itu hanya judulnya saja. Pasalnya, event organizer (EO) yang ditunjuk belum mampu menggaet tamu internasional. “Lihat saja, hampir tidak ada bule yang datang di gelaran-gelaran yang katanya bertaraf internasional,” tegasnya.

Kondisi ini membuat prospek industri perhotelan makin suram. Padahal, di Semarang, harga kamar bisa dibilang paling murah dibandingkan kota-kota besar tetangga seperti Solo dan Yogyakarta. Padahal, dua kota itu juga sudah ketat persaingan hotelnya. Perang harga, menurut Dedy bukan solusi. Mungkin masing-masing hotel hanya bisa meningkatkan promo, fasilitas, dan pelayanan saja. “Kalau harga diturunkan jelas tidak mungkin. Pasalnya biaya operasional saja naik,” ungkapnya. (mg16/smu)