SUDAH HILANG : Portal jembatan gantung di Sawangan sebelum hilang dicuri. Diduga besi ini dicuri oleh pemilik mobil yang ingin lewat jembatan. (DOK MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
SUDAH HILANG : Portal jembatan gantung di Sawangan sebelum hilang dicuri. Diduga besi ini dicuri oleh pemilik mobil yang ingin lewat jembatan. (DOK MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
SUDAH HILANG : Portal jembatan gantung di Sawangan sebelum hilang dicuri. Diduga besi ini dicuri oleh pemilik mobil yang ingin lewat jembatan. (DOK MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

MUNGKID– Aksi pencurian di Kabupaten Magelang sangat keterlaluan. Fasilitas umum pun raib dibawa lari pencuri.

Hal ini terjadi di Jembatan Gantung Tlatar Desa Krogowanan Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang. Besi portal bagian tengah jembatan hilang. Kuat dugaan besi tersebut dicuri.

Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral (DPU-ESDM) Heriyanto, mengaku telah memperoleh informasi raibnya batang besi sepanjang dua meter itu. “Upaya pencarian sejauh ini belum ada hasil,” katanya, kemarin.

Batang besi yang hilang, semula direkatkan sekitar 40 cm dari tiang sebelah kiri portal di ujung jembatan dari arah perempatan Tlatar. Tujuannya, untuk mencegah kendaraan roda empat atau lebih, melintasi jembatan gantung tersebut.

Muncul dugaan, besi itu sengaja dilepas oleh pengguna kendaraan roda empat yang terburu-buru dan ingin mencari jalan pintas. Tindakan itu dimungkinkan terjadi malam hari, saat warga sekitar sedang istirahat. “Kalau warga sekitar tak mungkin melakukan tindakan begitu karena mereka sangat menyadari fungsi jembatan tersebut sangat vital bagi masyarakat kawasan lereng barat Merapi,” kata Wahyudi, warga Sawangan.

Sebagai pengganti besi yang hilang, warga sekitar berinisiatif memasang batang bambu. Diharapkan, jembatan semi darurat bisa berfungsi dalam jangka panjang, atau sampai ada jembatan permanen yang baru.

Jembatan gantung di Tlatar dibangun pertengahan 2011 dengan dana dari APBN senilai Rp 3,5 miliar. Bangunan sepanjang 72 meter dan lebar 3 meter itu sebagai pengganti jembatan permanen yang runtuh pertengahan Januari 2011, akibat terus menerus dihajar banjir lahar dingin pascaerupsi Merapi 26 Oktober 2010.

Meskipun hanya bersifat semipermanen, jembatan gantung itu diproyeksikan untuk memulihkan jalur ekonomi, pendidikan dan sosial, masyarakat di lereng Barat Laut Gunung Merapi. “Masalah ini sudah kami koordinasikan dengan Dinas Perhubungan dan Dinas Bina Marga Jateng. Nanti, kalau batang besi yang hilang sudah ditemukan, akan kami pasang lagi ke posisi semula,” kata Heriyanto. (vie/ton)