Median Jalan Ungaran-Bawen Disoal

134
BARU TAPI RUSAK : Pembangunan median jalan di sepanjang Kota Ungaran hingga Terminal Bawen yang baru saja kelar, ternyata sudah rusak. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
BARU TAPI RUSAK : Pembangunan median jalan di sepanjang Kota Ungaran hingga Terminal Bawen yang baru saja kelar, ternyata sudah rusak. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
BARU TAPI RUSAK : Pembangunan median jalan di sepanjang Kota Ungaran hingga Terminal Bawen yang baru saja kelar, ternyata sudah rusak. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN-Pembangunan median jalan yang pengerjaannya satu paket dengan proyek peningkatan Jalan Banyumanik-Bawen, Yakni mulai dari Taman Serasi Ungaran hingga dekat kawasan Pasar Babadan, dinilai asal-asalan. Selain pembangunannya asal ditempel semen, juga tidak memihak kepentingan sosial masyarakat dan estetika perwajahan kota.

“Median jalan yang dibangun asal-asalan, begitu terbentur kendaraan langsung rusak,” kata Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bambang Kusriyanto.

Menurutnya, median jalan di perkotaan semestinya pendek-pendek, tidak setinggi yang dibangun selama ini. Selain itu memperburuk wajah kota. Tentu saja, kondisi tersebut dikeluhkan masyarakat, lantaran banyak kendaraan merasa nyaman melaju kencang.

“Beberapa kali, kami telah menyampaikan kepada eksekutif, agar tidak menggunakan pembatas jalan yang model tinggi, tapi model pendek saja. Tapi tak diindahkan,” tuturnya.

Sementara itu, median jalan yang konstruksinya pendek hanya terdapat di beberapa titik di wilayah perkotaan. Di antaranya, di depan kantor DPRD Kabupaten Semarang dan Kantor Bupati Semarang. Anehnya, di jalur luar kota seperti akses keluar tol Bawen ke Tuntang, median jalannya justru pendek-pendek.

“Kondisi ini, bukti yang telah kami sampaikan dalam rapat paripurna tidak ditanggapi oleh eksekutif. Padahal, apa yang kami sampaikan adalah aspirasi masyarakat yang diterima DPRD. Semestinya eksekutif koordinasi dengan gubernur dalam proses pembangunan tersebut,” kata Bambang.

Bahkan Bambang menilai pembangunan median jalan terkesan seenaknya. Sebab material median jalan tersebut tidak ditanam, hanya ditata dan diberi penguat semen. Selain itu, luasan median jalan yang dibuka juga tidak disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya pembukaan median jalan di depan PT Mas Ungaran yang terlalu sempit. “Akibatnya, masyarakat kesulitan saat menyeberang dari Jalan KS Tubun Susukan Ungaran Timur menuju Kota Semarang,” katanya.

Sementara itu, Wisnu Soebroto, 39, warga Kota Ungaran menilai semestinya median jalan di beberapa lokasi seperti di depan pasar atau persimpangan dengan jalan kota dibuat lebih pendek. Sebab, jika dibuat model tinggi masyarakat kesulitan menyeberang jalan. Selain itu, jangan terlalu banyak bukaan median.

“Kalau antar satu bukaan dengan bukaan median jalan lainnya hanya berjarak beberapa meter, sangat berbahaya dan rawan kecelakaan. Semestinya jaraknya dibuat lebih jauh,” tutur Wisnu. (tyo/ida)