MENCURI LAPTOP: Tersangka Asef Puspa Hariyadi dan Muhammad Son Asyaddudin saat gelar perkara di Mapolsek Ngaliyan kemarin. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)
MENCURI LAPTOP: Tersangka Asef Puspa Hariyadi dan Muhammad  Son Asyaddudin saat gelar perkara di Mapolsek Ngaliyan kemarin. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)
MENCURI LAPTOP: Tersangka Asef Puspa Hariyadi dan Muhammad Son Asyaddudin saat gelar perkara di Mapolsek Ngaliyan kemarin. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)

NGALIYAN – Setelah mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) ditangkap lantaran diduga melakukan pemerkosaan terhadap gadis di bawah umur, kali ini giliran dua mahasiswa Universitas Islam (UIN) Walisongo Semarang yang harus berurusan dengan pihak berwajib. Keduanya dibekuk petugas Reskrim Polsek Ngaliyan setelah mencuri 4 unit laptop di tiga rumah kos untuk biaya skripsi.

Kedua mahasiswa tersebut adalah Asef Puspa Hariyadi, 22, mahasiswa semester 9 Jurusan Ekonomi Islam, Fakultas Syariah UIN Walisongo Semarang, warga Dusun Kelapa Tiga RT 1 RW 4 Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Tersangka lainnya, Muhammad Son Asyaddudin, 22, mahasiswa semester 9 Jurusan Hukum Ekonomi, Fakultas Syariah, UIN Walisongo Semarang. Dia tercatat sebagai warga Jalan Kedondong RT 4 RW 1 Kecamatan Gajah, Demak.

”Dua tersangka terbukti melakukan tindak pidana pencurian laptop di tiga tempat kos. Sebanyak empat laptop sudah berhasil dijual oleh kedua tersangka,” ungkap Kapolsek Ngaliyan Kompol Saprodin saat gelar perkara di Mapolsek Ngaliyan, Senin (12/1).

Saprodin menjelaskan, kedua tersangka berstatus mahasiswa semester akhir yang sedang menyelesaikan proses skripsi. ”Berdasarkan pengakuannya, uang hasil penjualan barang curian digunakan untuk biaya skripsi,” ujarnya.

Aksi pencurian terakhir dilakukan tersangka di sebuah rumah kos di Perum Bakti Persada Indah (BPI) Blok G 12 Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Semarang, pada Rabu (7/1) sekitar pukul 12.00 lalu. ”Tersangka kemudian menjual laptop hasil pencurian itu lewat jual beli online,” terang Saprodin.

Kasus ini terungkap setelah pihaknya melakukan penelusuran mendalam, hingga jejak penjualan online yang dilakukan tersangka berhasil diendus. ”Uang hasil penjualan barang curian Rp 1,2 juta berhasil kami sita dari tangan tersangka. Sementara laptopnya belum ditemukan dan masih kami cari,” bebernya.

Modus yang dilakukan, lanjut Saprodin, kedua tersangka pindah-pindah kos. Setiap kali menempati kos baru, mereka mencuri laptop. Lalu pindah lagi sampai tiga kos. Di antaranya tempat kos di daerah Segaran, Karonsih Utara dan Perum BPI. ”Di tempat kos terakhir, mereka mencuri dua laptop,” katanya.

Pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan pihak UIN Walisongo bagian kemahasiswaan. Ini untuk memastikan apakah benar dua tersangka itu merupakan mahasiswa UIN Walisongo Semarang. ”Sudah ada perwakilan kemahasiswaan yang ke sini,” ujarnya.

Tersangka Asef Puspa Hariyadi saat diinterogasi petugas hanya tertunduk malu. Ia mengaku menyesali perbuatannya. ”Iya, kami mencuri berdua. Ada tiga tempat kos, dapat laptop empat,” ujar mahasiswa yang mengaku memiliki IPK 3,2 ini.
Diakuinya, aksi pencurian itu dilakukan atas ide berdua. Bermula kehabisan uang saku, Asef dan Son menyusun rencana pencurian. ”Semua korbannya teman satu kos yang sudah dikenal. Tapi beda kamar,” katanya.

Dia mengaku setiap hari sudah mengamati laptop yang diincar. Saat penghuni kamar lengah, ia langsung beraksi. ”Laptop itu kami jual seharga Rp 1,2 juta melalui toko online. Uangnya kami bagi berdua untuk biaya skripsi,” ucap mahasiswa yang dengan jujur mengakui ”membeli” skripsi kepada oknum biro pembuatan skripsi di daerah Kedungpane itu.

Selain itu, uang hasil penjualan barang curian juga digunakan untuk mentraktir semua teman satu kos. Bahkan sang korban pun diajak makan bersama menggunakan uang hasil pencurian tersebut. ”Korbannya kami ajak makan bersama, biar tidak curiga. Saya bilangnya ya sedang dapat rezeki,” ujarnya.

Tersangka mengaku menjual barang tersebut dengan cara menawarkan di situs belanja online Toko Bagus. ”Setelah ada pembeli, kami janjian di suatu tempat. Terakhir kali, kami ketemuan dengan pembeli di Jalan Pandanaran Semarang,” katanya.

Sedangkan Son mengaku pusing saat menggarap skripsi. Terlebih membutuhkan banyak biaya. ”Kami baru dapat Bab 1. Karena kesulitan, kemudian membeli kepada biro skripsi,” kata mahasiswa ber-IPK 3,0 ini.

Son juga mengaku menyesal dan pasrah akan menjalani proses hukum. Sampai saat ini, ia belum mengetahui bagaimana nasib kuliahnya di UIN Walisongo. ”Apakah dikeluarkan atau tidak, saya belum tahu,” ujarnya lesu.

Keduanya dijerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara. Barang bukti yang diamankan antara lain uang tunai hasil penjualan laptop Rp 1,2 juta terdiri atas pecahan Rp 50 ribu sebanyak 24 lembar. (amu/aro/ce1)