Sekolah Internasional Patuhi Aturan

200
KETERANGAN PERS: Chairman GMIS Suresh Vasmani (tengah) dan Presiden GMIS Shyam Rupchand Jethnani memberikan keterangan pers, kemarin. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)
KETERANGAN PERS: Chairman GMIS Suresh Vasmani (tengah) dan Presiden GMIS Shyam Rupchand Jethnani memberikan keterangan pers, kemarin. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)
KETERANGAN PERS: Chairman GMIS Suresh Vasmani (tengah) dan Presiden GMIS Shyam Rupchand Jethnani memberikan keterangan pers, kemarin. (Eko Wahyu Budiyanto/Radar Semarang)

SEKAYU – Pengelola sekolah internasional menyatakan tunduk terhadap semua kebijakan pendidikan yang dikeluarkan pemerintah. Tak ada alasan mereka memberikan pelayanan dengan baik namun meninggalkan aturan yang diterapkan otoritas pendidikan di Indonesia.

”Kami sepenuhnya tunduk dan menaati segala peraturan yang dikeluarkan pemerintah. Baru-baru ini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bahkan meminta sebagian sekolah kembali ke Kurikulum 2006. Kami pun segera menyesuaikan dengan kebijakan itu termasuk mempersiapkan SDM yang dimiliki,” terang Chairman Gandhi Memorial International Schools (GMIS), Suresh Vasmani, saat launching GMIS Stamford Semarang, Minggu (11/1).

Suresh didampingi Presiden GMIS Shyam Rupchand Jethnani memberikan penjelasan tentang sikap sekolah internasional atas kebijakan pemerintah. Mereka menilai kebijakan yang dikeluarkan Kementerian pasti telah melalui kajian mendalam.

Tujuannya tak lain kemajuan mutu dan pendidikan di tanah air. Lama berkecimpung di dunia pendidikan dasar dan menengah, mereka juga melihat pertimbangan memberikan kemudahan dengan pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan ini. Sekolah maupun siswa yang belum siap melaksanakan Kurikulum 2013, diberi kemudahan menjalankan KTSP.
”Kami sebagai pengelola sekolah internasional juga mendukung bila ujian nasional tetap dipertahankan. Meski sebagian kalangan ada yang berpendapat untuk tak perlu dipertahankan,” tuturnya.

Dikatakan, GMIS Stamford Semarang didirikan bersama dengan Ghandi Sekolah Ancol pada tahun 1950, dan merupakan sekolah internasional di Jakarta. ”GMIS merupakan sebuah sekolah yang juga ada di 50 negara di dunia. Nah ini kami akan membuka sekolah tersebut juga di Kota Semarang dengan nama GIMS Stamford Semarang dan sekolah tersebut merupakan GIMS pertama di Jawa Tengah,” kata Shyam.

Dia juga mengatakan GIMS merupakan sekolah yang pertama kali memperoleh status sekolah dunia IB (International Baccalaureate). Selain itu, ia juga menargetkan sebanyak 1.000 siswa di GIMS.

”Sasaran kita yaitu semua level perekonomian. Mulai dari perekonomian bawah hingga perekonomian atas. Selain itu, kita nanti akan mendatangkan tim khusus yang akan memberikan pelatihan kepada pengajar-pengajar GIMS Stamford Semarang. Kita sudah membeli lahan di Kota Semarang yang luas dan nantinya akan dibangun gedung yang dapat menampung ribuan siswa,” lanjutnya.

Tentang persaingan sekolah internasional yang ada di Jawa Tengah khususnya di Kota Semarang, Shyam tidak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut. Menurutnya, kualitas pembelajaran akan menjadi bukti bahwa GIMS lebih unggul dari sekolah yang lain. (ewb/ric/ce1)