RAMAI: Para penggemar burung memberi support burung-burungnya yang dinilai oleh juri dalam lomba yang diadakan Songgo Langit Pasar Burung Bandongan kemarin (11/1). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
RAMAI: Para penggemar burung memberi support burung-burungnya yang dinilai oleh juri dalam lomba yang diadakan Songgo Langit Pasar Burung Bandongan kemarin (11/1). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
RAMAI: Para penggemar burung memberi support burung-burungnya yang dinilai oleh juri dalam lomba yang diadakan Songgo Langit Pasar Burung Bandongan kemarin (11/1). (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MUNGKID – Para penggemar burung, punya cara khusus untuk mengadu kicauan burung peliharaannya. Yakni dengan mengikuti latihan prestasi (latpres). Minggu (11/1) kemarin, ratusan peserta dari Magelang, dan luar daerah sepeti Jogjakarta, Purworejo, Temanggung, Surabaya, meramaikan lomba burung berprestasi yang dihelat Songgo Langit Pasar Burung Bandongan di lapangan setempat.

Ada 20 kelas yang dilombakan. Di antaranya kelas Anis Merah Mega Bintang (MB), Cendet MB, Pleci MB, Cucak Hijau VIP, Murai Batu VIP, Love Bird VIP, Kacer VIP, Kenari VIP. Kemudian Cucak Jenggot atau K. Tbk MB, Ciblek Bintang, Anis Merah Bintang, Pleci Bintang, Cendet Bintang, Cucak Hijau Mega Bintang, Murai Batu MB, Love Bird MB, Kacer MB, Kenari MB, Cucak Jenggot atau K. Tbk Bintang dan kelas bebas bintang.

Ketua panitia Songgo Langit, Sudaryono mengatakan latpres sudah diselenggarakan selama satu setengah tahun setiap Minggu Kliwon. Pesertanya bebas dari mana saja. Dia mengaku, respons latpres tak pernah surut. Bahkan selalu ada peserta baru yang bergabung.

“Tujuan dari latpres ini untuk mengangkat pasar burung di sini. Dari even ini, pasar burung jadi makin ramai,” ujarnya yang mengatakan even juga bertujuan untuk mencetak burung handal.

Even yang juga untuk menjalin persaudaraan sesama kicau mania itu, memperebutkan hadiah uang pembinaan, piagam dan trofi. Kata dia, juara bisa diambil hingga 20 pemenang menyesuaikan jumlah gantangan tiap kelas.

“Kalau bisa sampai 60 gantangan, pemenangnya bisa sampai 20. Juara 1, 2 dan 3 mendapat trofinya, sedangkan 4-20 mendapatkan piagam. Tujuannya untuk menambah semangat pemiliknya,” ujarnya.

Pria 42 tahun itu juga menjelaskan manfaat dari mengikuti ajang burung bergengsi seperti itu. Apabila juara, harga burung akan mahal bila dijual. “Misalnya burung itu belinya Rp 1 juta. Tapi kalau latpres dapat juara 1, harganya bisa laku Rp 30 juta tanpa ditawar. Yah namanya juga hobi ya, jadi walau harganya segitu, tetap dibeli,” ungkapnya.

Selama pelaksaan lomba, sebanyak 6 juri sibuk menilai burung-burung yang digantang. Kemudian satu koordinator lapangan (korlap) selalu mendampingi. Ketua panitia ikut mengawasi untuk menjaga fair play.

“Ada beberapa bendera yang kami gunakan untuk menandai burung,” beber warga Cacaban, Magelang Tengah itu.
Sebut dia, bendera merah menandakan juara pertama, bendera hijau juara kedua, dan bendera kuning juara ketiga. Sedangkan bendera-bendera kecil beraneka warna jingga, pink, bitu, hitam, kuning dan hijau untuk memberi tanda bahwa burung tersebut sudah bekerja dan sudah dipantau oleh tim juri.

Adapun kriteria penilaian, dari irama atau lagu, volume, fisik atau gaya, durasi, dan penampilan. Di tempat yang sama, Ketua Pelestari Burung Indonesia (PBI) Cabang Bantul, Astono menegaskan, latpres maupun latber harus sering diadakan untuk memberikan semangat bagi para kicau mania. Lebih-lebih bagi yang membeli burung murah dan bisa juara, punya harapan harganya jadi mahal. (put/lis)