Mulai Berfungsi Kendalikan Banjir

222
FINISHING: Pekerja melakukan finishing tetenger Waduk Jatibarang di Gunungpati, Kota Semarang. Waduk serbaguna tersebut mulai berfungsi mengendalikan banjir seiring batas ketinggian genangan yang limpas. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
FINISHING: Pekerja melakukan finishing tetenger Waduk Jatibarang di Gunungpati, Kota Semarang. Waduk serbaguna tersebut mulai berfungsi mengendalikan banjir seiring batas ketinggian genangan yang limpas. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
FINISHING: Pekerja melakukan finishing tetenger Waduk Jatibarang di Gunungpati, Kota Semarang. Waduk serbaguna tersebut mulai berfungsi mengendalikan banjir seiring batas ketinggian genangan yang limpas. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

GUNUNGPATI – Proses pengairan waduk Jatibarang diketahui telah limpas pada awal Januari 2015 ini. Dengan pelimpasan tersebut berarti pemanfaatan waduk sebagai pengendali banjir dan cadangan bahan baku mulai dapat dirasakan. Selain juga sebagai tempat pariwisata seperti yang telah dicanangkan bersama dengan pengelola objek wisata Gua Kreo.

”Pelimpasan terjadi pada 3 Januari 2015 pukul 17.36 lalu. Mulai pengisian sejak 5 Mei 2014 lalu. Jadi butuh waktu sekitar 8 bulan untuk mencapai elevasi muka air normal 149,3 meter dengan tampungan volume sebesar 17,3 juta meter kubik,” beber Kepala Satuan Non Vertikal Teknis (SNVT) Pembangunan Waduk Jatibarang, Duki Malindo.

Malindo menjelaskan, pelimpasan ini merupakan kali pertama sejak dimulai pengisian. Pelimpasan tersebut juga diketahui lebih cepat dari target yang telah ditetapkan yaitu pada akhir Januari 2015. Hal tersebut disebabkan curah hujan yang cukup tinggi akhir-akhir ini. Meski begitu, jika hujan masih terus terjadi, fasilitas spillway otomatis berjalan sehingga air tetap bisa keluar. ”Dengan pelimpasan ini dapat menjadi air baku untuk PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Kota Semarang yang membutuhkan paling tidak 1.050 liter per detik,” terangnya.

Atas pelimpasan tersebut, lanjut Malindo, menjadi peluang untuk mengajukan sertifikasi bendungan kepada komisi keamanan bendungan sehingga mendapat izin operasi. Ia optimistis dalam waktu satu bulan target tersebut dapat dicapai.
Selain itu, ia juga terus mengupayakan pengelolaan bendungan secara internal sehingga umurnya sesuai dengan umur yang direncanakan. ”Hal ini tidak terlepas dari perencanaan tata ruang yang dilakukan,” imbuh Malindo yang juga merencanakan menggandeng pihak lain terkait potensi Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro sebesar 1,5 megawatt.

Malindo berharap dengan pelimpasan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Tidak hanya warga di sekitar bendungan tetapi juga masyarakat di bawah. Selain itu, dapat meningkatkan kelestarian fungsi konservasi daerah aliran sungai Kaligarang dan meningkatkan pariwisata Kota Semarang. ”Kita juga punya sabuk hijau yang dapat digunakan untuk berinteraksi dengan masyarakat,” pungkasnya. (fai/ric/ce1)