RUSAK PARAH: Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang ada di depan RSUD Tugurejo rusak parah dan mangkrak. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
RUSAK PARAH: Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang ada di depan RSUD Tugurejo rusak parah dan mangkrak. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
RUSAK PARAH: Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang ada di depan RSUD Tugurejo rusak parah dan mangkrak. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

TUGUREJO – Jembatan penyebrangan Orang (JPO) yang berada di Jalan Walisongo, Tugurejo Semarang atau tepatnya di depan RSUD Tugurejo, Semarang, mengalami kerusakan cukup parah. Padahal JPO tersebut termasuk vital lantaran sebagai penyeberangan dari dan menuju area RSUD Tugurejo. Terlebih lagi Jalan Walisongo merupakan jalan nasional yang sangat padat.

Dari pengamatan Radar Semarang, kerusakan parah terjadi pada bagian atap JPO yang terbuat dari plastik. Saat ini kondisi JPO pun mangkrak serta tidak terurus. Warga pun enggan menggunakan JPO karena sudut kemiringan tangga yang cukup tinggi sehingga menyulitkan.

Zulfikar Langit Lazuardi, 35, warga sekitar mengatakan jika JPO tersebut belum pernah diperbaiki oleh pihak terkait. Bahkan kerusakan terkesan dibiarkan sehingga JPO mangkrak serta dimanfaatkan untuk istirahat gelandangan. ”Letaknya cukup strategis, tapi rusak bagian atapnya. Tangga JPO pun terlalu tinggi sehingga menyulitkan wanita dan manula untuk menggunakannya,” katanya.

Walaupun berbahaya, warga memilih menyeberangi jalan raya dengan tidak menggunakan JPO. Tak jarang, kecelakaan sering terjadi di depan RSUD Tugurejo. ”Kalau kendaraan dari Timur (Semarang, Red) tidak kelihatan karena ada tikungan yang tajam. Sementara kalau dari Barat (Kendal, Red) merupakan jalur yang lurus sehingga banyak kendaraan yang ngebut,” paparnya.

Hal senada dikatakan Djawartini, 65, yang juga enggan menggunakan JPO. Menurutnya, sudut kemiringan JPO menyulitkan untuk para manula. ”Tangganya sangat curam, sehingga manula seperti saya susah untuk menggunakannya. Kalau mau menyeberang ya, harus sabar ketika kondisi jalan lengang,” tambahnya.

Sementara itu, pengamat transportasi Djoko Setijowarno menuding Dinas Perhubungan enggan untuk merawat JPO yang ada. ”Kalau dirawat ya nggak akan rusak, yang dirawat jangan hanya di pusat kota yang bisa disewakan untuk reklame. Itu kan akses vital bagi pengguna jalan yang akan menyeberang,” katanya.

JPO yang dibangun Dishub Kota Semarang sendiri menurut dia tidak ramah terhadap warga dan dinilai tidak manusiawi. Contohnya saja sudut kemiringan 45 derajat yang curam sehingga menyulitkan penggunanya. ”Semua JPO yang ada menurut saya tidak manusiawi karena terlalu curam. Kerusakan JPO yang di depan RSUD Tugurejo pun harus segera dibenahi lantaran di sana merupakan jalur cepat,” paparnya.

Dirinya menyarankan kepada Pemerintah Kota Semarang, untuk menggandeng pihak ketiga dengan cara menyediakan papan reklame yang bisa disewakan. Sehingga pemerintah bisa mendapatkan pemasukan di biaya sewa yang ada. ”Biaya sewa yang didapat, bisa digunakan sebagai dana perawatan JPO. Sehingga tidak ada JPO yang mangkrak dan rusak,” pungkasnya. (den/ric/ce1)