PEMALANG-Jenazah Barjo bin Kurdi, salah satu anak buah kapal (ABK) pencari ikan Oryong 501 berbendera Korea akhirnya dipulangkan ke kampung halamannya, Jum’at (09/01) malam kemarin. Yakni, di Dukuh Ujungkumpul RT 03/RW 06 Desa Limbangan Kecamatan Ulujami Pemalang.

Jenazah Barjo saat tiba di rumah duka yang telah dibungkus rapi, menggunakan peti yang dilapisi kain putih bertuliskan Barjo. Seluruh keluarga yang sudah menunggu sejak siang hari, menyambutnya dengan isak tangis.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Pemalang, H Sultanto melalui Kabid Pentalatas, H Wiyono mengungkapkan bahwa Barjo adalah ABK Oryong 501 yang tenggelam di laut lepas Bering Rusia. Namun penanganan Barjo dan ABK kapal lainnya merupakan yang tercepat dari kasus yang sama yang pernah terjadi di dunia internasional selama ini.

Kurang lebih 40 hari sejak tenggelamnya kapal tersebut, jasadnya sudah ditemukan dan sebagian sudah diantar atau dipulangkan ke kampung halamannya masing-masing, termasuk Barjo di Pemalang. “Menurut kami, ini rekor tercepat dalam penanganannya, yaitu kurang lebih 40 hari,” ujar Wiyono yang ikut menyambut dan takziyah di rumah duka.

Ditambahkan Wiyono, Barjo merupakan tenaga kerja luar negeri yang legal dan resmi. Sehingga dengan mudah mendapat hak-haknya, baik sisa gaji maupun santunan serta asuransi dari perusahaan. Semua gaji ditransfer melalui rekening keluarganya dan tidak ada potongan sama sekali. “Atas nama dinas dan Pemkab Pemalang, kami berkewajiban memfasilitasi dan mengupdate informasi tentang Barjo kepada keluarga,” tuturnya.

Kedatangan jenazah Barjo ke rumah duka di Desa Limbangan disambut oleh Kepala Desa Limbangan, Camat dan Kapolsek Ulujami beserta jajarannya. Bahkan diantar dan didampingi langsung dari Otoritas Bandara Udara Soekarno – Hatta Kementerian Luar Negeri, Engkus Kusnadi.

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi dalam siaran persnya menyampaikan bahwa ada 13 ABK yang menjadi korban tenggelamnya Kapal Oryong 501. Mereka tiba di Jakarta pada Jum’at (9/1) dini hari sekitar pukul 02.50, menggunakan pesawat Kargo Korean Air yang tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta. Adapun 13 ABK tersebut 3 dari Jawa Barat, 2 dari Maluku, 1 dari Sulawesi Utara, 1 dari Sulawesi Selatan dan 6 dari Jawa Tengah termasuk Barjo bin Kurdi. (han/ida)

Gelar Yasin dan Tahlil Selama 40 Hari
SEMENTARA itu, sejak mengetahui Barjo Bin Kurdi meninggal dunia akibat kecelakaan Kapal Oryong 501 yang tenggelam di laut lepas Bering Rusia pada 1 Desember 2014 lalu, sang ayah, Kurdi, selalu mengirim doa kepada almarhum Barjo. Yakni dilakukan selamatan selama 7 hari berturut-turut setiap malam. Bahkan doa tahlil dan yasin juga digelar sampai hari ke-40 yang jatuh pada malam Kamis (08/1) sebelumnya. “Kami bersyukur jasad anak saya bisa dibawa pulang. Menurut kami, 40 hari adalah waktu yang lama untuk menunggu,” ujarnya, Jumat (09/01) malam.

Disampaikan Kurdi, bahwa kabar akan dipulangkannnya jenazah sudah dia dengar sejak Kamis (8/1) lalu. Kabar itu disampaikan kepada istri dan anak-anaknya (kakak dan adik-adik Barjo) serta keluarga lainnya. Keluarga korban juga telah menerima sisa gaji dan santunan dari perusahaan. “Kami menerima Rp 300 juta lebih dan utuh tidak ada potongan apa-apa. Sangat cukup untuk mengurus jenazah dan lainnya,” terangnya.

Camat Ulujami, Purjanto menyampaikan bahwa Barjo termasuk ABK yang tertib dalam mengurus administrasi, sehingga pantas jika perusahaan memberikan hak-haknya. Apalagi proses yang dilaluinya adalah legal. “Almarhum Barjo termasuk orang baik, terbukti yang ikut takziyah banyak,” terang Purjanto dalam sambutannya.

Oleh karenanya Purjanto selaku camat menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan kepada masyarakat agar ikut mendoakan almarhum agar diterima amal baiknya dan diampuni dosa-dosanya. (han/ida)