Pengunjung Pasar Dargo Makin Meningkat

172

SEMARANG – Pasar Dargo yang dulu dianggap sepi dan dijauhi para pedagang, kini tak lagi. Semenjak dilakukan relokasi pedagang kaki lima (PKL) Kartini, semakin ramai dikunjungi masyarakat.

Dari pantauan Radar Semarang di lapangan, Sabtu (10/1) kemarin, aktivitas jual beli di dalam bangunan Pasar Dargo terlihat ramai. Rata-rata para pengunjung adalah penggemar batu mulia (batu akik). Meski banyak pedagang makanan dan pakaian.

Sekretaris Paguyuban Pedagang Kartini Semarang (PPKS) Sunar Hadi Suwarno mengatakan selain mengalami peningkatan jumlah pengunjung juga mengalami penambahan jumlah pedagang yang masuk di dalam bangunan tersebut.

“Kalau hari Sabtu-Minggu sama tanggal merah, jumlah pedagang yang jualan mencapi 20-30 pedagang. Tapi kalau hari Senin hingga Jumat, ya kembali berkurang. Memang sebagian besar pengunjungnya merupakan penggemar batu akik,” ungkapnya kepada Radar Semarang, Sabtu (10/1) kemarin.

Jumlah awal pedagang di Pasar Dargo mencapai 117 pedagang. Sedangkan jumlah terbanyak merupakan pedagang batu mulia yang mencapai 50 pedagang. Namun demikian, jumlah pedagang yang mencapai ratusan itu belum semuanya masuk ke dalam bangunan pasar.

“Karena ini berkaitan dengan perut, saya tidak bisa memaksa mereka. Silahkan mau berjualan dimana saja, yang penting tidak kembali berjualan di lokasi Taman Kartini. Kalau alasannya, saya kurang tahu,” terangnya.

Meski sudah 3 bulan sejak 18 Oktober 2014 lalu menempati Pasar Dargo, namun ada fasilitas yang dibutuhkan para pedagang belum direalisasikan pemerintah.
“Kipas angin belum ada. Padahal di dalam sangat panas. Lampunya juga masih kurang terang. Apalagi kalau musim penghujan sekarang ini, sore hari sudah terasa gelap. Selain itu, masih ada 11 titik atap yang masih bocor,” katanya.

Saat ini, pihaknya telah mengusulkan kepada Pemkot Semarang terkait pembuatan lapak. Selama ini para pedagang memakai lapak yang ala kadarnya. Selain itu, pihaknya juga mengusulkan supaya tempat tersebut dijadikan Dargo Semarang Gems Centre yang diharapkan tempat tersebut menjadi ikon di Kota Semarang.

“Kalau ikon ini jadi, nantinya yang punya nama kan pemerintah dan dinas terangkat. Jadi Pak Wali Kota ibaratnya harus cancut tali wondo atau bergerak cepat seperti yang dilakukan Pak Jokowi dalam melakukan penataan pasar. Paling tidak, selalu melakukan pendekatan secara persuasif kepada para pedagang,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Ketua PPKS, Supartono yang kerap dipanggil Gatot mengatakan bahwa penggemar batu mulia di Kota Semarang tidak mengenal kalangan. Sekarang ini, para pelajar menengah, mahasiswa dan para pegawai menyukai batu tersebut.

“Batu mulia ini baru booming, anak muda juga senang. Kalau terkait mistis, itu tergantung pemakai. Kalau kami menilai, batu itu seni. Harganya juga bervariasi sampai miliaran rupiah pun ada,” ujarnya.

Pihaknya berharap, pemerintah segera merelaisasikan fasilitas yang dibutuhkan para pedagang. Selain itu, kerusakan yang ada dalam bangunan secepatnya dilakukan perbaikan.

Terpisah, Kepala Dinas Pasar Kota Semarang, Trijoto Sardjoko mengatakan masih melakukan pembahasan mengenai hal itu. Pihaknya akan mengakomodir terkait fasilitas yang dibutuhkan para pedagang.

“Seperti pembuatan tempat dagangan itu, kami masih melakukan pembahasan. Karena itu terkait anggaran. Sedangkan fasilitas seperti penerangan dan kipas angin, nantinya kami upayakan,” katanya. (mha/ida)