Sesalkan Program PNPM Dihentikan

123
TINGKATKAN SKILL : Ibu-ibu warga Desa Bumiharjo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang mengikuti praktik tata boga. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
TINGKATKAN SKILL : Ibu-ibu warga Desa Bumiharjo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang mengikuti praktik tata boga. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
TINGKATKAN SKILL : Ibu-ibu warga Desa Bumiharjo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang mengikuti praktik tata boga. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MUNGKID – Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) Kabupaten Magelang, tetap melangsungkan program terakhir pascakebijakan pemerintah menghentikan program PNPM.

Pelatihan tata boga yang berlangsung selama enam hari hingga 12 Januari mendatang berlangsung di Balai Desa Bumiharjo, Kecamatan Borobudur diikuti puluhan ibu-ibu.

PJOK PNPM-MP Kecamatan Borobudur, Siti Baroroh mengaku ada dua program pelatihan terkahir yang berlangsung di dua desa, yakni di Desa Bumiharjo dan Karang Reji. Menurutnya, program tersebut harusnya dilaksanakan pada tahun 2014, namun terlambat dalam pelaksanaan karena adanya pemangkasan dana dari pusat sebesar 11,8 persen atau sekitar Rp 135 juta dari Rp 1,150 miliar yang digunakan untuk program sarana prasarana atau infrastruktur, pelatihan serta perguliran simpan pinjam perempuan (SPP) dan usaha ekonomi produktif (UEP) yang tetap berlanjut.

“Karena adanya pemotongan itu, pelaksanaan program terlambat. Kemudian dapat bantuan dari dana APBD untuk melanjutkan program. Pelatihan ini program terakhir,” katanya, kemarin.

Adapun tujuan dari pelatihan itu, kata Siti, untuk membekali ilmu ibu-ibu khususnya yang sudah berumah tangga agar dapat mengimplementasikan keterampilan tata boga. Di sisi lain, dapat membantu ekonomi keluarga.

Pihaknya berharap, program seperti ini dapat berlanjut. Sebab, program-program PNPM dapat mendorong percepatan infrastruktur pedesaan dan mendorong masyarakatnya aktif.

Hal sama dikatakan Wahyuningsih yang merupakan tim pengelola kegiatan (TPK) Desa Bumiharjo yang menyesalkan penghentian program. Apalagi, antusias masyarakat sangat baik dan kegiatanpun dilaksanakan dari hasil musyawarah mufakat.

Dia beralasan, tata boga menjadi pilihan ibu-ibu karena melihat potensi hasil bumi di desa tersebut. Sehingga perlu digali dengan inovasi makanan. Selain itu potensi wisata yang ada di sekitar desa salah satunya Candi Borobudur.
Sementara itu, Enok Atin, 41, warga Sigung, Kelurahan Bumiharjo, Kecamatan Borobudur, mengaku senang mengikuti latihan. Banyak resep baru yang dia dapatkan.

Selain itu, pelatih tata boga Wheny Herawati Rahayu, mengaku selama enam hari, pihaknya memberikan 17 resep makanan tradisional maupun modern. Dia menjelaskan, tiap orang diberi buku panduan resep, lalu teori dan terakhir praktik. (put/lis)