KURIR SABU: Tersangka Eko Andri Atmoko menunjukkan barang bukti sabu saat gelar perkara di Mapolda Jateng kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
KURIR SABU: Tersangka Eko Andri Atmoko menunjukkan barang bukti sabu saat gelar perkara di Mapolda Jateng kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
KURIR SABU: Tersangka Eko Andri Atmoko menunjukkan barang bukti sabu saat gelar perkara di Mapolda Jateng kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

MUGASSARI – Seorang kurir sekaligus pengedar sabu-sabu seberat 500 gram (0,5 kg) berhasil disergap aparat Direktorat Reserse Narkoba Polda Jateng. Tersangka diketahui bernama Eko Andri Atmoko, 27, warga Blok Kesambi RT 4 RW 3 Kelurahan Gabus Wetan, Indramayu. Eko dibekuk di sebuah rumah kontrakan di Dukuh Tanon Lor, Tohudan No 4679 RT 3 RW 2 Kelurahan Gedongan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Rabu (7/1) sekitar pukul 20.00 lalu. Ironisnya, peredaran narkoba itu dipasok dan dikendalikan oleh seorang narapidana berinisial D di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klaten.

”Tersangka kami tangkap saat berduaan bersama istrinya di sebuah rumah kontrakan. Barang bukti sabu yang kami sita seberat 0,5 kg,” kata Direktur Reserse Narkoba Polda Jateng, Kombes Pol N Simbolon, saat gelar perkara di Mapolda Jateng, Jumat (9/1).

Dijelaskan, peredaran sabu ini sudah kali kesekian dikendalikan oleh narapidana. Sabu seberat 0,5 kg itu diamankan dari tangan tersangka Eko yang dipasok dari narapidana berinisial D di Lapas Klaten. ”D adalah napi kasus narkoba yang ditangani Polres Klaten,” kata Simbolon.

Dijelaskan Simbolon, napi D sendiri sudah diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka. ”Jadi tersangkanya ada dua. Tapi tersangka D penanganannya kami serahkan ke Polres Klaten,” terangnya.

Simbolon membeberkan, terungkapnya kasus ini setelah pihaknya menerima informasi akan adanya transaksi sabu-sabu. Pihaknya mengintai gerak-gerik tersangka Eko yang mengambil sabu tersebut tergeletak di bawah tiang lampu bangjo atau traffic light di Jalan Parangtritis, Jogjakarta. ”Mereka berkomunikasi melalui SMS. Tersangka Eko juga diminta menaruh sabu di alamat sesuai perintah napi D,” bebernya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, tersangka Eko telah beraksi sejak 7 bulan lalu. Pengiriman paling banyak baru kali ini. Wilayah peredarannya di daerah Solo Raya. ”Peran Eko sendiri sebagai kurir yang diminta menaruh di tempat sesuai perintah napi D,” katanya.

Tersangka Eko mengaku, selama 7 bulan telah melakukan pengiriman sebanyak 12 kali. ”Paling banyak baru kali ini. Sebelumnya, berkisar antara 100 sampai 200 gram,” katanya.

Sabu-sabu tersebut kemudian dibungkus ke dalam plastik dalam ukuran 1 gram, 5 gram, dan 10 gram. ”Per 1 gram, saya mendapat untung Rp 1 juta. 5 gram mendapat Rp 5 juta dan 10 gram Rp 10 juta,” ujarnya.

Setiap kali pengiriman, kata Eko, biasanya habis dalam waktu dua minggu. Untuk sasaran pemasarannya dari semua kalangan. ”Kurang lebih sudah berhasil menjual 200 gram,” imbuh pria yang berprofesi sebagai sopir rental mobil ini.

Selain menangkap tersangka, petugas menyita barang bukti 5 gram paket besar sabu terbungkus plastik klip transparan seberat 500 gram (0,5 kilogram) senilai Rp 875 juta. Selain itu, satu paket kecil sabu dalam plastik klip transparan seberat 3,5 gram, 1 buah timbangan elektrik, 3 buah sendok plastik, 1 buah tas kresek warna putih berisi plastik klip transparan, 2 buah lakban 1 buah isolasi kecil warna bening, dan 1 handphone yang digunakan transaksi. Atas perbuatannya, tersangka bakal dijerat pasal 114 ayat (2) dan pasal 112 ayat (2) UU RI No 35 tahun 2009 tentang narkotika. (amu/aro/ce1)