Ahwan Fanani. (DOK. PRIBADI)
Ahwan Fanani. (DOK. PRIBADI)
Ahwan Fanani. (DOK. PRIBADI)

Bangsa Indonesia terdiri atas beragam suku, agama, ras, dan golongan. Jika tidak dikelola dengan baik, maka akan rawan terjadi konflik. Salah satu upaya untuk mengantisipasinya adalah melalui mediasi. Seperti yang dilakukan Ahwan Fanani. Seperti apa?

AHMAD FAISHOL, Ngaliyan

SIANG itu ruang kantor pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo tampak ramai. Beberapa mahasiswa di kampus tersebut terlihat duduk-duduk di kursi yang terletak di pintu utama. Rupanya mereka tengah menunggu jadwal tes mahasiswa yang akan dilaksanakan di kampus itu.

Di dekat ruang tunggu itu, ada ruang berukuran 4×3 meter yang di dalamnya ada sosok yang cukup sibuk. Dialah Ahwan Fanani, salah satu dosen yang getol mengembangkan sekaligus membumikan mediasi dan peace study dalam berbagai kegiatan. Ia juga menjadi salah satu anggota Walisongo Mediation Center (WMC). ”Mediasi dan resolusi konflik menjadi minat dan pengabdian saya,” ujarnya kepada Radar Semarang.

Pria yang akrab disapa Ahwan ini mengaku, keterlibatannya dalam dunia mediasi memberikan kesadaran dan spirit baginya untuk turut membangun Indonesia, yang memiliki potensi konflik sebagai konsekuensi kebhinekaan yang dimilikinya. Meski begitu, ia yakin bahwa kebhinekaan itu bukanlah ancaman, melainkan kekayaan dan khazanah bagi kehidupan berbangsa.

”Mediasi adalah langkah agar kebhinekaan itu menjadi rahmat bagi bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Atas hal itu, bersama dengan WMC, ia mencoba melakukan berbagai upaya untuk memasyarakatkan mediasi dan resolusi konflik Indonesia. Berbagai kerja sama dalam rangka diseminasi telah dilakukan. Ia juga yang memfasilitasi workshop dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama RI Tahun 2012-2013 untuk program pengenalan mediasi untuk membangunan kerukunan umat beragama serta multikulturalisme.

”Di antaranya, pelatihan mediasi untuk para tokoh agama yang dilakukan oleh Badan Litbang Kementerian Agama, pelatihan untuk para tokoh agama (Islam) yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Semarang, dan pelatihan mediasi oleh Kesbangpol dan Linmas Provinsi Jateng,” terangnya.

Selain itu, pelatihan mediasi dan resolusi konflik juga diselenggarakan berbagai lembaga maupun perguruan tinggi. Misalnya, CCRPS IAIN Aceh, Mataram Mediation Center IAIN Mataram, Maliki Mediation Center UIN Malang, Syekh Nurjati IAIN Cirebon, IAIN Surabaya, STAIN Salatiga, dan Program Magister Hukum Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Semarang.

Ahwan mengakui, pemahaman dirinya tentang mediasi tidak terlepas dari pendidikan yang ia dapat. Selepas menamatkan program S1 dan S2 di IAIN Walisongo, ia melanjutkan Program Doktor di IAIN Sunan Ampel Surabaya dengan predikat cumlaude.

Selain itu, ia juga menempuh pelatihan di luar negeri, seperti Tailor Made Mediation and Conflict Resolution Course di Belanda, Advanced International Study Program in Peace and Conflict Transformation di European University for Peace Study (EPU) Austria, Workshop Professional Development Program in International Research Management and Preparation of Manuscript for International Publication di The University of Queensland Australia serta melakukan penelitian bekerja sama dengan The University of Queensland Australia mengenai kebijakan pemerintah Australia dalam mengembangkan multikulturalisme.

Minat Ahwan terhadap mediasi ternyata juga diwujudkan dalam penelitian maupun buku. Seperti yang tertuang dalam buku Pengantar Mediasi dan Khutbah Perdamaian. Selain mengajar di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, ia juga menangani bagian akademik di Program Pascasarjana UIN Walisongo sejak 2013.

”Juga menjadi dosen tamu di Pascasarjana UIN Malang untuk mata kuliah mediasi, dan mengajar di Program Studi Agama dan Perdamaian Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo,” kata pria kelahiran Kediri, 36 tahun yang lalu ini. (*/aro/ce1)