BARUSARI – Direktur PT Semarang Makmur, berinisial TS, diperiksa terkait kasus dugaan pembobolan rekening senilai Rp 8 miliar milik nasabah Bank Mandiri Cabang Jalan Pemuda Semarang. Pemeriksaan tersebut dilakukan oleh penyidik Reserse Mobile (Resmob) Polrestabes Semarang atas Pasal 362 KUHP tentang pencurian sebagaimana yang dilaporkan.

Hingga saat ini, penyidik telah menaikkan kasus tersebut dari tahap penyelidikan ke tahap penyidikan. ”TS sudah kami periksa. Statusnya belum tersangka,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Sugiarto dikonfirmasi Radar Semarang, Kamis (8/1).

Dijelaskan Sugiarto, pemeriksaan tersebut merupakan tindak lanjut proses hukum dalam kasus dugaan pembobolan rekening bank milik seorang nasabah Bank Mandiri atas nama Sri Rahayu, yang tak lain adalah ibu kandung TS. ”Sudah dinaikkan dari tahap penyelidikan ke tahap penyidikan,” katanya.

TS diperiksa sebagai saksi dan diperiksa sebagai langkah klarifikasi. Selama kurang lebih 6 jam, TS diperiksa intensif oleh penyidik Polrestabes Semarang. ”Tidak menutup kemungkinan, status TS naik menjadi tersangka. Masih terus dikembangkan,” tandasnya.

Dalam kasus tersebut, lanjut Sugiarto, TS diberi mandat oleh pihak keluarga untuk menjaga rekening tersebut. Namun ia justru mengambil uang dalam rekening tersebut tanpa sepengetahuan ahli waris yang lain.

Kasus ini dilaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang, pada Selasa 16 September 2014, dengan nomor LP/B/1489/IX/2014/jtg/Res Tbs Smg. Pelaporan di Polrestabes Semarang tersebut, berdasarkan barang bukti print out transaksi di rekening Bank Mandiri, atas nama nasabah Sri Rahayu, yang merugikan Rp 8 miliar.

Pembobolan rekening itu terjadi dalam kurun waktu 2000-2004. Pihak pelapor Widiyanto Agung Widodo, 49, warga Jalan Teuku Umar No 105 A RT 2 RW 4 Kelurahan Tinjomoyo, Banyumanik Semarang, menuding adanya dugaan keterlibatan orang dalam di Bank Mandiri selama proses penarikan uang nasabah tersebut. Sehingga pencairan uang bisa terjadi tanpa melalui prosedur pencairan yang semestinya.

Sementara itu, kasus ini merupakan buntut dari kasus yang dilaporkan di Ditreskrimum Polda Jateng pada 16 Mei 2005 silam, dengan nomor LP/137/VII/2005/Reskrim, terkait dugaan tindak pidana pemalsuan surat, penipuan dan penggelapan. Namun kasus ini digantung hingga sembilan tahun.

Korban mengungkap, sebenarnya ada uang ratusan miliar warisan Soemoharmanto (ayah Sri Rahayu), yang seharusnya masuk di rekening Sri Rahayu. Namun uang tersebut raib misterius.

Di Polda Jateng, ada tiga terlapor, yakni Sri Hartoko, Suyadi dan Ivan Hartawan. Ivan Hartawan sendiri telah ditetapkan tersangka atas pelaporan itu. Namun kelanjutannya tidak jelas. Ivan dalam kasus ini, selaku orang yang diberi mandat atau surat kuasa dalam pembagian warisan bernilai ratusan miliar, yang hingga sekarang raib misterius tersebut. (amu/ida/ce1)