KRAPYAK – Setiabudi Purwatan, 57, pengusaha springbed warga Jalan Truntum Raya, Tlogosari, Semarang yang menjadi terdakwa kasus pencabulan terhadap anak kandungnya sendiri, Ks, 16, awalnya sempat membantah keterangan saksi atas dugaan pencabulan sebagaimana didakwakan. Namun setelah diperlihatkan bukti rekaman CCTV, akhirnya ia tidak dapat mengelaknya.

”Terdakwa dalam sidang mengatakan semua pernyataan saksi tidak benar. Begitu rekaman CCTV disetel di persidangan, ia baru mengakui jika itu memang benar dirinya bersama korban,” ungkap istri terdakwa Elly Kurniawati, 46, menceritakan jalannya persidangan yang digelar secara tertutup di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, kemarin.

Dijelaskan, dalam rekaman CCTV tersebut terlihat jelas bahwa terdakwa melakukan aksi bejat terhadap korban di rumahnya di Kediri, Jawa Timur. Menurutnya, CCTV tersebut sengaja dipasang untuk mengantisipasi tindak kejahatan lantaran rumah dalam keadaan kosong.

”Saat itu, saya yang kondisinya sehat, normal, serta tak mengalami gangguan jiwa dimasukkan terdakwa ke Rumah Perawatan Jiwa (RPJ) Puri Saras Jalan Sompok, Semarang,” akunya.

Terpisah, Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Negeri Semarang Andita Rizkianto menyatakan akan menyiapkan nota tuntutan lantaran pemeriksaan terdakwa telah selesai. Majelis hakim yang diketuai Avia Uchriana memberikan waktu sepekan untuk mempersiapkannya. ”Sidang ditunda dan dilanjutkan kembali Selasa (13/1) dengan agenda tuntutan,” ujarnya usai persidangan.

Sebagaimana dakwaan jaksa, terdakwa diduga melakukan tindakan pencabulan sejak 2007 hingga 2014. Yaitu, ketika korban masih kelas 5 SD hingga kelas 1 SMA. Selain di rumahnya di Kediri, perbuatan cabul itu juga dilakukan di rumahnya di Jalan Truntum Raya, Tlogosari, Semarang.

Pihak keluarga sebelumnya tidak berani melaporkan tindakan terdakwa karena mendapatkan ancaman akan dibunuh. Dalam kasus ini, terdakwa didakwa melanggar pasal 81 ayat 1 Undang-Undang (UU) Nomor 23/ 2002 tentang Perlindungan Anak junto pasal 64 KUHP. (fai/aro/ce1)