Pemerkosa Siswi SMA Dipecat dari Unnes

158
TRAGIS: Mahasiswa Unnes S alias NK saat digelandang petugas Reskrim Polrestabes Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
TRAGIS: Mahasiswa Unnes S alias NK saat digelandang petugas Reskrim Polrestabes Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
TRAGIS: Mahasiswa Unnes S alias NK saat digelandang petugas Reskrim Polrestabes Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

SEKARAN – Nasib S alias NK, mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Semarang (Unnes) sungguh tragis. Atlet nasional cabang olahraga sepak takraw asal Jepara (bukan Kudus seperti diberitakan kemarin, Red) itu akhirnya dipecat dari kampusnya setelah diduga melakukan pemerkosaan terhadap siswi SMA berinisial Pr, warga Ketapang, Kendal. Hal itu diputuskan setelah digelar rapat terbatas yang dilakukan Rektor Unnes, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, dan Dekan FIK, Rabu (7/1) kemarin. Hasil rapat terbatas tersebut memutuskan jika mahasiswa semester V itu melakukan pelanggaran berat dan terpaksa dikeluarkan dari Unnes.

Rektor Unnes Fathur Rakhman ditemui usai rapat terbatas di Rektorat Gedung H Kampus Sekaran kemarin mengatakan, S dinilai telah melanggar kode etik kehidupan kampus. Meski saat ini masih dugaan pemerkosaan, namun yang bersangkutan telah melakukan tindakan asusila di lingkungan kampus, yakni di salah satu kamar di mes atlet Unnes.

”Maka dengan tegas kita keluarkan, karena kita berkomitmen pada pembentukan karakter mahasiswa,” ujar Fathur.
Surat keputusan pemecatan S dari Unnes itu telah dikeluarkan oleh pihak universitas sejak 7 Januari 2015 kemarin. Sebelumnya, pihak rektorat telah memanggil pengelola mes, kedua orang tua S, pihak Dekanat FIK, serta berkoordinasi dengan Pusat Bantuan Hukum dan HAKI Unnes (Pusat Kajian Hukum Unnes) yang dikoordinatori oleh Dr Rodiah.

”Ini hanya membantu supaya berjalan sesuai proporsinya. Karena hasil pemeriksaan penuh kejanggalan. Kita tetap memercayakan ke kepolisian dengan asas praduga tak bersalah. Kita juga mendengarkan berbagai informasi dari kepolisian, orang tua, pelaku dan korban, serta kita membentuk tim investigasi yang diketua Pak Nasuha,” lanjutnya.

Dijelaskan, pihaknya akan melakukan peningkatan pembinaan terhadap seluruh penghuni mes atlet tersebut. Pihaknya juga menyesalkan terjadinya peristiwa tersebut. Fathur mengatakan, kasus itu merupakan kelalaian dari pengelola asrama. Sebab, kejadiannya pada pukul 23.00, di mana pengelola asrama pada pukul 21.00 sudah tidak ada di tempat, sedangkan satpam sedang berpatroli di tempat lain.

”Mereka masuk pukul 23.00 yang sebelumnya janjian ketemuan di salah satu kafe. Semua pimpinan akhirnya merekomendasi bahwa ini adalah pelanggaran etika kampus. Itu bersanksi berat. Ini akan memberikan efek jera kepada mahasiswa lain. Ini nanti kita minta kepada pihak kepolisian agar dari pihak perempuan juga dilakukan penyidikan, takutnya nanti ada indikasi pemerasan terhadap pelaku,” katanya.

Setelah terjadi kasus memalukan tersebut, kata dia, pihak universitas berjanji akan meningkatkan keamanan dan pengelolaan di mes atlet FIK Unnes. Diketahui S merupakan atlet nasional peraih medali emas pada PON yang mewakili Jateng. Fathur berharap pihak kepolisian dapat mengungkapkan fakta yang sebenarnya. Sehingga dapat diketahui duduk permasalahannya.

Dibuat Mabuk
Saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang kemarin, tersangka S yang mengenakan penutup kepala, tampak tertunduk lesu saat diinterogasi petugas. S mengaku berkenalan dengan korban melalui BlackBerry Messenger (BBM) pada November 2014 lalu. Merasa dekat, korban yang baru pulang dari Jogja pada Senin (5/1) lalu, menghubungi dirinya untuk minta diantarkan pulang ke Kendal.

”Saya ketemu dia (korban) di Jembatan Kartini Semarang sekitar pukul 16.30. Kemudian saya ajak nongkrong di kafe di daerah Sampangan, lalu ke mes atlet di dekat kampus,” akunya.

Malam harinya, niat jahat S muncul ketika korban menumpang mandi. S lalu keluar dari kamar dengan alasan membeli makanan. ”Setelah ngobrol, dia (korban, Red) numpang mandi. Saya keluar untuk beli makanan dan sebotol anggur merah,” katanya.

Sampai di mes, tersangka S memaksa korban menenggak anggur yang dibawa. Tak berselang lama, korban mengeluh pusing kepala lalu tertidur. Saat itulah nafsu bejat S muncul. Ia melucuti baju dan celana korban lalu memerkosanya. ”Saya perkosa sekali. Begitu sadar, dia (korban) menangis,” ujarnya sambil tertunduk lesu.

Karena bingung, S kemudian membawa korban ke Jalan Kelud, Sampangan, tepatnya di depan PDAM. Di sana, ia meninggalkan korban sendirian. Sebelum pergi, S sempat melempar uang Rp 20 ribu ke wajah korban. Karena tak terima, korban kemudian menelepon kakaknya dan melaporkan perbuatan tersangka ke Mapolrestabes Semarang.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono mengatakan, modus tersangka dengan membuat mabuk korban kemudian memerkosanya. ”Dari pengakuan tersangka memang dibuat mabuk dulu. Mereka kenal lewat sosial media,” jelasnya.

Ditambahkan, dari hasil visum tim medis RSUP dr Kariadi, terdapat luka pada kemaluan korban. Sehingga kuat diduga korban memang diperkosa. ”Kita masih selidiki kasus ini lebih mendalam. Belum ada tersangka lain dari kasus ini,” ujarnya.

Hingga kemarin, tersangka masih meringkuk di sel Mapolrestabes Semarang. Dia akan dijerat pasal 81 UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Terpisah, pakar Psikologi Probowatie Tjondronegoro mengatakan, masa-masa remaja merupakan identik dengan hal coba-coba. Ditambah dengan pengaruh lingkungan yang sangat besar, sehingga kasus pemerkosaan kerap terjadi. Dikatakan Probo, dampak psikologis yang diterima korban pemerkosaan sangatlan besar. Hal itu dapat berpengaruh terhadap pola pemikiran hingga kehidupannya ke depan.

”Di sini juga harus dilihat baik-baik dulu. Apakah pemerkosa merupakan remaja baik-baik, atau sebaliknya si korban kerap memancing agar diperkosa. Jika perempuannya itu baik-baik, dampak trauma dari tindak asusila itu sangat besar sekali,” kata Probowatie.

Menurut Probo, dalam hal ini orang tua korban harus melakukan pendampingan yang intensif karena tindak asusila tersebut membuat kejiwaan korban menjadi goncang. ”Kita sebagai orang timur, kegadisan itu sangatlah dijunjung tinggai. Terjadinya pemerkosaan tersebut dampaknya bisa sampai seumur hidup,” tandasnya. (ewb/den/aro/ce1)