UNGARAN- Tingginya angka kematian ibu dan anak di Kabupaten Semarang membuat Pemkab bertindak cepat dengan membentuk Tim Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian Kematian Ibu dan Anak.

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Semarang Gunawan Wibisono mengatakan, atas perintah Bupati Semarang Mundjirin Satgas Pengendalian Kematian Ibu dan Anak dibentuk Senin (5/1) kemarin. Tim langsung bekerja untuk mengatasi masalah kematian ibu dan anak. Pembentukan Satgas tersebut karena kondisi angka kematian ibu dan anak di Kabupaten Semarang cukup tinggi. “Tahun 2013 angka kematiannya 17 kasus, tahun 2014 naik menjadi 20 kasus. Tugas jangka pendek penyusunan rencana strategis untuk mencapai Millenium Development Goals (MDGs) yakni di bawah 100 per 100.000 kelahiran hidup di Kabupaten Semarang pada 2015 ini,” tutur Soni panggilan intim Gunawan Wibisono, Selasa (6/1) kemarin.

Langkah-langkah yang akan diambil, dengan mendeteksi by name ibu-ibu yang hamil. Nantinya pada ibu hamil dipantau terus perkembangannya. Sehingga jika sewaktu-waktu akan melahirkan akan dapat penanganan cepat yang dapat menekan angka kematian ibu dan anak. “Minimal kepala desa (kades) atau tokoh masyarakat tahu nama-nama ibu-ibu hamil dan tahu kondisinya. Sehingga sepekan sebelum kelahiran, terus dipantau hingga melahirkan,” imbuhnya.

Soni menambahkan, selain pemantauan ibu hamil juga membangun jejaring kerja dengan melibatkan seluruh komponen. Misalnya membuat jaringan kerja dari tingkat desa hingga kabupaten. Sehingga jika memang butuh dirujuk, maka seluruh pihak sudah dapat segera ambil perannya. Termasuk menggandeng seluruh dokter kandungan baik swasta maupun pemerintah. “Sementara itu hasil mapping kewilayahan yang termasuk zona merah yakni Sumowono, Suruh, Tengaran, dan Pabelan,” kata Soni.

Sementara itu Kepala Bidang Layanan Kesehatan (Yankes) Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, dr. Ngakan Putu membenarkan angka kematian ibu hamil meningkat dibandingkan tahun lalu. Kondisi itu disebabkan karena tiga terlambat dan empat terlalu. Selain itu ada factor lainnya berkaitan dengan sumberdaya manusia (SDM). Sekalipun kemampuan skil bidan maupun dokter yang ada di puskesmas, klinik, serta rumah sakit sudah baik tetapi bisa saja terjadi lupa menjalankan kewajiban sesuai prosedur.

“Tiga terlambat yakni terlambat mendiagnosis, mengirim, dan menangani. Sedangkan empat terlalu yakni terlalu sering, tua, muda, dan banyak melahirkan. Untuk itu kami akan bertahap melakukan penyegaran kepada para pelaku pelayanan kesehatan. Tapi dari kajian yang ada, tren penyebab kematian cenderung berubah-ubah. Seperti di tahun 2013 dominan karena keracunan kehamilan, di tahun kemarin yakni pendarahan,” imbuh dr. Ngakan. (tyo/zal)