PASAR TRADISIONAL: Pasar Tarumanegara Magelang yang lokasinya berdekatan dengan Pasar Rejowinangun. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
PASAR TRADISIONAL: Pasar Tarumanegara Magelang yang lokasinya berdekatan dengan Pasar Rejowinangun. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
PASAR TRADISIONAL: Pasar Tarumanegara Magelang yang lokasinya berdekatan dengan Pasar Rejowinangun. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MAGELANG–Pedagang Pasar Tarumanegara berselisih paham dengan pedagang Pasar Rejowinangun. Disebut-sebut, pasar terbesar di kota jasa itu sepi lantaran sebagian pembeli lebih memilih ke Pasar Tarumanegara.

Suminingsih, 54, seorang pedagang rempah-rempah mengaku tekanan batin selama menempati Pasar Tarumanegara yang hanya berjarak beberapa meter dari muka Pasar Rejowinangun.

Apalagi, sejak Pasar Rejowinangun yang terbakar pada 2008 silam dibangun kembali oleh Pemkot, kata dia, tudingan miring terhadap pedagang Pasar Tarumanegara sering dilayangkan.

“Kesenjangan antar-pedagang itu ada. Apalagi pasarnya sudah dibangun bagus, sementara pembelinya berkurang alias masih sepi. Memang banyak pembeli yang lebih senang ke sini (Tarumanegara, Red) karena aksesnya mudah. Walau tempatnya tidak terlalu luas, tapi sudah komplet. Pedagang sini disebut-sebut sebagai faktor sepinya pasar sana (Rejowinangun, red),” kata perempuan 48 tahun itu, kemarin.

Warga Dusun Bendolang, Kelurahan Ngasem, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang itu setuju jika rencana Pemkot memindahkan pedagang Pasar Tarumanegara ke Pasar Rejowinangun, terealisasi. Namun, ia tak paham betul, kapan akan di pindah. Padahal, pendataan sudah dilakukan sejak Desember 2014 lalu.

“Sudah didata kok. Di foto-foto, terus disuruh ngumpulin foto kopi kartu tanda penduduk (KTP) juga. Tapi sampai sekarang belum jelas kapan kami akan di pindah ke sana, ada yang bilang sebelum puasa Ramadan tahun ini, ada juga yang bilang juga setelah Idul Fitri nanti,” akunya.

Terpisah, Kepala Dinas Pasar Joko Budyono menjelaskan, rencana pemindahan pedagang Pasar Tarumanegara hanya bagian tegah saja. Sedangkan untuk kios-kios di sekitar pasar dan Jalan Tarumanegara, tidak ikut direlokasi.
“Kami lihat kondisinya tidak layak. Terpal-terpalnya sudah banyak yang rusak dan banyak pedagang lesehan yang melebar ke jalan,” tuturnya.

Melihat banyaknya pedagang yang akan direlokasi jumlahnya mencapai 320 pedagang, pihaknya akan membuatkan los. Ia berharap, jadi satunya para pedagang dapat mengoptimalkan fungsi dan fasilitas Pasar Rejowinangun. “Intinya, kami ada satu perencanaan pengembangan Pasar Rejowinangun yang sekaligus menampung pedagang Pasar Tarumanegara.”

Joko pun melanjutkan, “Kurang pas juga jika ada Pasar Rejowinangun kok ada Pasar Tarumanegara yang jaraknya berdekatan.” Joko menyebut, besarnya dana APBD 2015 yang nantinya digunakan untuk pengembangan Pasar Rejowinangun Rp 5.977.336.000. Pengembangan terfokus pada lantai dua pasar. “Kalau sudah disiapkan tempat, baru direlokasi.”

Joko meyakini, setelah pedagang bersatu pada satu area, maka keramaian pasar akan terdongkrak. Sampai saat ini pihaknya mengakui sepinya Pasar Rejowinangun, karena pembeli tidak terfokus pada satu pasar saja. (put/isk)