PERMINTAAN TINGGI: Elpiji tabung 3 kg banyak dicari warga setelah harga elpiji 12 kg naik menjadi Rp 134.700 per tabung sejak 2 Januari lalu. Tampak aktivitas penjualan elpiji 3 kg di agen Jalan Barito Semarang. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
PERMINTAAN TINGGI: Elpiji tabung 3 kg banyak dicari warga setelah harga elpiji 12 kg naik menjadi Rp 134.700 per tabung sejak 2 Januari lalu. Tampak aktivitas penjualan elpiji 3 kg di agen Jalan Barito Semarang. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
PERMINTAAN TINGGI: Elpiji tabung 3 kg banyak dicari warga setelah harga elpiji 12 kg naik menjadi Rp 134.700 per tabung sejak 2 Januari lalu. Tampak aktivitas penjualan elpiji 3 kg di agen Jalan Barito Semarang. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kenaikan harga elpiji nonsubsidi 12 kg sebesar Rp 11.225 per kg atau Rp 134.700 per tabung sejak 2 Januari lalu, membuat warga banyak yang migrasi atau beralih ke elpiji tabung 3 kg. Akibatnya, permintaan elpiji subsidi ini melonjak. Dampaknya, harga elpiji 3 kg pun meroket, bahkan kemarin tembus hingga Rp 25 ribu per tabung. Padahal harga eceran normal gas 3 kg ini berkisar antara Rp 14 ribu-Rp 16 ribu per tabung. Tak hanya itu, elpiji tabung melon ini juga mulai sulit dicari. Sejumlah pengecer mulai kehabisan stok.

Abdul Rochim, perajin tempe di Ngaliyan mengaku terpaksa keliling ke pengecer setiap pagi untuk mencari elpiji 3 kg. Bahkan, ia kerap berburu hingga Boja Kendal.

”Dulu saya pakai elpiji tabung 12 kg. Tapi karena harganya naik terus, akhirnya mulai Agustus 2014 saya beralih ke tabung 3 kg. Tapi sekarang kok susah mencarinya. Pernah coba langsung nembusi ke agen, tapi ditolak meski mau beli banyak. Padahal warung-warung di sekitar sini sering kehabisan stok. Kadang sampai Boja mencarinya. Tapi di sana harganya jauh lebih mahal Rp 23.000 per tabungnya,” jelasnya kepada Radar Semarang, Selasa (6/1).

Salah satu pengecer gas melon di daerah Boja mengaku mematok harga Rp 25 ribu per tabung. Alasannya, karena hanya ada beberapa toko saja yang memiliki stok.

”Dijual segini saja laris-manis kok. Bahkan banyak konsumen dari kota (Semarang) yang katanya sering dapat harga Rp 16 ribu sering ke sini. Toh mereka juga tetap beli meski pakai ngedumel,” papar pengecer elpiji yang enggan disebutkan namanya itu.

Pengecer itu bahkan masih menarik Rp 5 ribu jika elpiji 3 kg itu diantar sampai rumah. ”Sekali kirim maksimal lima tabung, ongkos tambahannya Rp 5 ribu,” katanya.

Beberapa pengecer elpiji 3 kg di Kota Semarang kemarin juga mengeluh kehabisan stok. Seperti di kios milik Tina di daerah Purwoyoso, Ngaliyan. Sebanyak 30 tabung elpiji 3 kg ludes hanya dalam 2 hari. Bahkan, terkadang sehari saja sudah habis. ”Kiriman dari agen tidak rutin. Pernah dua minggu baru dikirim. Belakangan memang dikirim seminggu sekali, tapi jarang bisa genap 30 tabung. Paling cuma 20-an tabung saja,” ungkapnya.

Jika ingin jumlah pengiriman sesuai yang diinginkan, Tina mengaku harus menyogok pihak ekspedisi agen. Besarnya Rp 750 per tabung. ”Kulakannya kan Rp 12.750 per tabung. Kalau ditambah uang sogokan Rp 750 jadi Rp 13.500. Padahal saya jualnya Rp 16 ribu. Tapi mau bagaimana lagi, daripada nggak dapat stok,” ucapnya.

Pungutan liar (pungli) tersebut diakui sang sopir ekspedisi agen elpiji 3kg. Petugas yang enggan disebutkan nama dan asal agennya ini mengaku harus ’bermain’ lantaran merasa kerap dipojokkan pengecer. ”Mereka sering marah-marah lantaran tidak kebagian elpiji 3 kg. Meski ada, tidak seperti yang dipesan,” akunya.

Sogokan itu dianggap sopir sebagai win-win solution. Petugas bisa dapat uang lebih, sementara stok pengecer selalu tersedia. Angka mel-melannya, lanjut sopir itu, berbeda-beda. Mulai Rp 500 hingga Rp 1.000 per tabung, tergantung jarak tempuh dari agen ke pengecer.

”Kalau tidak mau bayar lebih ya maaf saja kalau tidak bisa rutin mampir setiap pekan. Lagi pula, pengecer bebas menjual tabung melon sesuka mereka,” paparnya.

Bantah Langka
Terpisah, Assistant Manager External Relation Marketing Pertamina Jateng-DI Jogjakarta, Robet MV Damatubun membantah jika saat ini stok gas elpiji ukuran 12 kg mengalami kelangkaan pasca kenaikan harga per 2 Januari lalu. ”Kita jamin stoknya aman, kalau ada kelangkaan tidak mungkin. Soalnya kita menambah pasokan selama satu tahun ini,” katanya saat dihubungi Radar Semarang, kemarin.

Menurut dia, kenaikan harga elpiji 12 kg yang dilakukan PT Pertamina saat ini hanya untuk menyesuaikan. Jika memang terjadi kelangkaan, menurut dia, diduga lantaran pihak agen tidak kembali mengisi tabung ukuran 12 kg ke depo pengisian. ”Kami akan menerjunkan tim ke lapangan, kalau memang langka pasti ada permainan dari agen,” ujarnya.

Pada tahun ini, kata dia, Pertamina menargetkan penjualan sebesar 130.682 matrix ton elpiji 12 kilogram atau setara dengan 130.682.00 kg elpiji. Target tersebut naik sebesar 3 persen dibandingkan tahun lalu. ”Tahun lalu saja stoknya aman, apalagi tahun ini kita naikkan 3 persen. Jelas bisa mencukupi kebutuhan selama satu tahun ini,” tandasnya.

Pasca kenaikan harga elpiji 3 kg, lanjutnya, Pertamina sudah bersiap menghadapi migrasi pengguna elpiji tabung 12 ke 3 kg. Sebelum kenaikan awal Januari ini, kenaikan harga juga sempat dilakukan pada September 2014 yang menyebabkan migrasi sebesar 8 persen. ”Migrasi pasti ada, tapi kemungkinan tidak terlalu banyak,” katanya.

Untuk mengantisipasi adanya potensi migrasi yang besar, pihak Pertamina memberikan langkah antisipasi untuk mencegah kelangkaan elpiji ukuran 3 kg dengan melakukan ekstra droping di sejumlah wilayah antara 2-12 persen. ”Ekstra droping dilakukan sesuai wilayah. Contohnya saja Semarang yang diberikan jatah ekstra droping sebesar 2 persen dari alokasi bulanan 1.623.160 tabung. Untuk wilayah Banyumas ekstra droping sebanyak 12 persen dari alokasi bulanan,” paparnya.

Ketua Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Jateng, Trianto Cahyo Legowo, mengamini pasca kenaikan harga elpiji 12 kg akan terjadi migrasi ke 3 kg. ”Migrasi pasti ada, tapi belum tahu berapa jumlahnya. Konsumen elpiji 12 kg berbeda dengan yang 3 kg. Yang sudah biasa menggunakan 12 kg enggan menggunakan elpiji 3 kg karena lebih repot dalam penggunaan dan tentunya lebih boros,” katanya. (mg16/den/aro/ce1)