Bikin Steak, Selipkan Cincin Lamaran di Dalam Daging

158
PROFESIONAL: Donny Gunawan (kaus hitam) saat unjuk kebolehan memasak menu kuliner yang menggugah selera. (AJIE MAHENDRA/RADAR SEMARANG)
PROFESIONAL: Donny Gunawan (kaus hitam) saat unjuk kebolehan memasak menu kuliner yang menggugah selera. (AJIE MAHENDRA/RADAR SEMARANG)
PROFESIONAL: Donny Gunawan (kaus hitam) saat unjuk kebolehan memasak menu kuliner yang menggugah selera. (AJIE MAHENDRA/RADAR SEMARANG)

Tamu adalah raja. Prinsip itu selalu dipegang Donny Gunawan. Pria yang berprofesi sebagai private chef ini ingin memanjakan siapa saja yang mengisi perut dengan menu racikannya. Uniknya, dia melayani tamu dengan memasak langsung di dapur klien. Seperti apa?

AJIE MH

PERNAH membayangkan menyantap menu bercita rasa sekaliber hotel berbintang fresh from the kitchen di rumah? Jebolan pendidikan chef di Hotel Institute Montreux Swiss, Donny Gunawan, bisa mewujudkannya. Private chef ini akan melayani mulai dari penyediaan bahan masakan, meracik, memasak, sampai penyajian sesuai keinginan sang tuan rumah.

Donny mengaku lebih suka ngobrol langsung dengan konsumen agar bisa tahu benar menu seperti apa yang ingin dilalapnya. Ya, ketimbang dituntut menjadi chef di restoran atau hotel bonafide, dia memilih menjalani private chef.

”Ini profesi baru di dunia chef, sudah setahun berjalan saya memilih jalur private chef. Konsepnya adalah sebuah usaha jasa chef yang membawa nuansa restoran ke rumah Anda. Jadi, saya akan masak di rumah pelanggan sesuai dengan pesanan yang diinginkan,” kata pria kelahiran Semarang, 27 September 1983 ini.

Dikatakan Dony, private chef bukan profesi anyar. Koki pribadi ini sudah beken di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, maupun Denpasar. Di Semarang sendiri sebenarnya sangat potensial mengingat banyaknya ekspatriat yang di negaranya mungkin sudah pernah menggunakan jasa private chef untuk memeriahkan momen spesial.

Biasanya mereka yang mengundang memasak selama ini datang dari personal, keluarga, pasangan kekasih atau bahkan perusahaan dan instansi. Rata-rata personal, semisal acara lamaran sepasang kekasih dengan minta dimasakkan steak dengan suguhan istimewa di dalam daging saat dipotong ada cincin lamarannya.

”Pernah juga ada pelanggan yang minta dimasakkan Italian food dan es krim, lalu sebagai rendezvous-nya diselipkan cincin di dalam es krimnya, saat sedang menikmati maka akan didapat cincin tersebut di gelas sang wanita. Jadi kesan food-nya dapat, juga romantis momennya mengena,” ujarnya, yang pernah melayani pelanggan seorang pria ’menembak’ pasangannya.

Tak sebatas pada personal saja, pelanggan mulai dari 2-100 orang kerap diterima. Pesta anniversary, ulang tahun pernikahan, bahkan acara gathering perusahaan jadi agenda rutin Dony.

”Tak usah datang ke restoran. Saya yang akan membawa restoran ke rumah Anda,” timpalnya.

Soal harga, Donny mematok mulai dari Rp 1,7 juta untuk dua orang. Harga itu tergantung pesanan, table setting, suasana, hingga dekor yang dibuatnya sendiri sesuai tema yang diinginkan pelanggan.

Diceritakan Donny, perjalanan menjadi private chef tak dijalani begitu saja. Keinginannya untuk berpikir mandiri, kreatif, dan menjadi pengusaha dengan latar belakang memasak harus berbeda dengan chef-chef yang sudah ada.

”Kebanyakan chef punya obsesi bekerja di restoran dan hotel. Tapi bagi saya, private chef lebih menantang. Pasalnya, imajinasi sekaligus kreasi dituntut lebih runcing agar bisa memenuhi keinginan klien. Jadi kantor atau dapur saya ya di rumah pelanggan itu,” paparnya.

Soal menu andalan, Donny mengaku tidak punya. Meski begitu, aneka kuliner dari mancanegara mampu disajikannya tanpa mendapat kritikan. Mulai European, Mediteranian, Italian, Western, Chinesse, Cuisine, Asian Food, hingga masakan tradisional.

”Pernah dulu ada pelanggan yang minta masakan unik yang saya sendiri belum pernah memasaknya. Saat itu, klien saya itu minta untuk dibuatkan main course perpaduan dari berbagai jenis masakan. Dalam satu piring harus ada nasi, daging Eropa, ikan, serta sayur khas Sunda,” kenangnya.

Sejatinya, klien seperti itulah yang dicari Donny. Dia memang getol berinovasi dengan memadukan ilmu memasak antara ilmu sains terapan dengan produk masakan yang disebutnya molecular gastronomi. Sebuah terobosan masakan yang disajikannya dibuat laksana kubah dengan berisi gas yang aman dikonsumsi. Teknik ini ia terapkan semisal pada Bacon yang biasanya disajikan panas dan krispi sekarang dibuat menjadi es krim.

”Intinya, mengubah molekul masakan untuk menimbulkan pengalaman baru saat menyantapnya. Pengubahannya dengan cara menggabungkan ilmu kimia dengan teknik memasak tanpa mengubah cita rasa masakan itu sendiri,” jelasnya. (*/aro/ce1)