Tangkap Pengguna Ganja dan Bandarnya

175
TUNJUKKAN BARANG BUKTI : Kasatres Narkoba Polres Batang AKP Farial M Ginting menunjukkan sejumlah barang bukti dari tangan pelaku, kemarin. (mahfudz alimin/radar semarang)
TUNJUKKAN BARANG BUKTI : Kasatres Narkoba Polres Batang AKP Farial M Ginting menunjukkan sejumlah barang bukti dari tangan pelaku, kemarin. (mahfudz alimin/radar semarang)
TUNJUKKAN BARANG BUKTI : Kasatres Narkoba Polres Batang AKP Farial M Ginting menunjukkan sejumlah barang bukti dari tangan pelaku, kemarin. (mahfudz alimin/radar semarang)

BATANG – Pada malam tahun baru, Satresnarkoba Polres Batang berhasil mengamankan pemakai narkoba. Tersangka adalah A, 17, warga Buaran, Pekalongan yang tertangkap tangan di sebuah tempat karaoke. Setelah berhasil mengamankan A, bandar dari narkoba tersebut kini berhasil diamankan, yaitu Abdul Muhyi, 31, warga Tegaldowo, Tirto, kabupaten Pekalongan. Serta Miftakhul Kirom, 20, warga Simbangkulon, Buaran Kabupaten Pekalongan, yang menjual ganja kepada A.

Kapolres Batang AKBP Widi Atmoko melalui Kasat Resnarkoba AKP Farial M Ginting, mengungkapkan, pada malam tahun baru kemarin pihaknya menangkap A yang sedang asyik karaoke di kafe Amazone, Batang. Saat pihaknya melakukan razia, A kedapatan membawa ganja hingga akhirnya tertangkap tangan oleh petugas.

Dari penangkapan tersebut, petugas melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan 2 orang pelaku lainnya. “Pertama yang kita tangkap adalah A, dia membawa satu paket ganja kering saat karaoke. Setelah dimintai keterangan, ternyata A membeli ganja tersebut dari rekannya warga Pekalongan,” terang AKP Ginting.

Dari hasil keterangan A itulah akhirnya petugas melakukan pengejaran terhadap pelaku lainnya. Pada Kamis (1/1) akhirnya petugas berhasil mengamankan Miftakhul Kirom, 20, warga Simbangkulon, Buaran. Dia adalah pelaku yang menjual ganja kepada A. Kirom sendiri ditangkap saat berada di jalan sekitar rumahnya dan langsung digelandang ke Mapolres Batang.

Polisi terus melakukan pengembangan hingga akhirnya diketahui jika Kirom membeli ganja tersebut dari Abdul Muhyi, 31 warga Tegaldowo, Kecamatan Tirto seharga Rp 100 ribu per paket.

Dari keterangan tersebut petugas langsung membekuk Muhyi di rumahnya. Pada saat menggerebek rumah pelaku, petugas melakukan penggeledahan dan menemukan barang bukti 9 paket ganja yang disimpan di bawah pot bunga di samping rumahnya.

Selain menemukan 9 paket ganja kering, petugas juga mengamankan barang bukti 62 paket pil dextro masing-masing berisi 20 butir, 35 paket dextro masing-masing berisi 10 butir dan eximer 22 paket masing-masing berisi 5 butir serta ponsel yang digunakan untuk jual beli dan uang hasil penjualan. “Abdul Muhyi ini merupakan bandar, dia tidak hanya menjual ganja, tapi juga menjual pil dextro dan eximer. Karena terbukti telah menjadi bandar ganja, dia langsung kami bawa ke Mapolres untuk menjalani pemeriksaan,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, Kirom mengaku jika dia membeli ganja satu paket dari Abdul Muhyi seharga Rp 100 ribu, kemudian dijadikan 2 paket dan dijual kepada A satu paket Rp 50 ribu, sedangkan satu paket lainnya dipakai sendiri. Kirom sendiri mengaku jika paket ganja tersebut dia dapatkan dari penjual yang ada di Senen, Jakarta seharga Rp 300 ribu.

Sesampainya di rumah, Abdul menjadikan paket ganja tersebut menjadi 10 paket dengan harga Rp 100 ribu dan dua paket seharga Rp 50 ribu. Sedangkan untuk dextro dia jual per butirnya Rp 1.000 dan setiap paketnya dijual Rp 10 ribu. Abdul Muhyi sendiri pernah mendekam di penjara karena kasus jual dextro, jambret dan perkelahian.

“Mereka kami kenakan pasal Pasal 114 UU 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun,” tandas AKP Ginting.

Sementara itu, Abdul Muhyi mengaku jika dirinya baru dua bulan menjadi pengedar ganja. Dia mengambil dari rekannya di Jakarta dengan harga Rp 300 ribu per paket besar. Setelah itu dia bagi menjadi 12 paket dan dijual Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu. Begitu juga dengan dextro, dia mengambilnya di Jakarta. Karena tahun baru, dia banyak mendapat pesanan dari para pembeli dan membeli dari Jakarta dengan jumlah cukup banyak.

“Malam tahun baru kemarin saya banyak dapat pesenan, sehingga saya belanja ke Jakarta sendiri. Biasanya pembeli datang langsung ke rumah, namun jika tidak kenal tidak akan saya layani,” ungkapnya.

Kirom juga mengaku bahwa dia baru sekali menjual ganja tersebut, sebelumnya dia memakainya sendiri. Namun karena ada yang minta, sehingga satu paket seharga Rp 100 ribu dijadikan dua paket Rp 50 ribu. “Saya sengaja beli untuk malam tahun baru kemarin, dan saya jadikan dua paket. Satu paket saya jual kepada A, dan satu paket lainnya saya pakai sendiri,” terangnya. (mg12/ric)