Melongok Usaha Pitoyo Dalam Mengembangkan Pupuk Organik
Melongok Usaha Pitoyo Dalam Mengembangkan Pupuk Organik
Melongok Usaha Pitoyo Dalam Mengembangkan Pupuk Organik

Tidak ada yang menyangka Pitoyo warga Selo Ngisor, Batur, Kopeng, Kabupaten Semarang yang dulunya bangkrut dalam bertani, kini berhasil mendapat penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, P4S berprestasi tahun 2014 lalu di Istana Negara. Seperti apa?

MUNIR ABDILLAH

Semuanya dimulai saat tahun 1998, paska krisis monoter. Lahan garapan sayurnya seluas 3000 meter mengalami gagal panen. Itu juga awal Pitoyo berpindah dari pupuk kimia ke pupuk organik.“Saya memulai ke organik karena awalnya saya tidak mempunyai biaya untuk membeli pupuk kimia,” ceritanya.

Para petani Kopeng yang saat itu memakai pupuk kimia sempat beranggapan miring terhadap Pitoyo yang mencoba membuat terobosan dengan memakai pupuk organik bikinan sendiri. Bahkan ada beberapa orang yang menganggapnya gila. “Saya sempat diejek karena tanaman sayur saya memakai pupuk organik seadanya. Saya membuat dengan tangan saya sendiri. Saya belajar otodidak. Memang pengetahuan saya tentang pupuk organik tidak begitu dalam. Sehingga saya mencoba melihat di majalah dan belajar kepada beberapa orang yang saya anggap pandai,” katanya.

Satu tahun Pitoyo mencoba pupuk buatannya sendiri tidak menghasilkan apa-apa. Motivasinya saat itu, kenapa zaman dahulu orang bisa menanam sayuran dengan pupuk organik dan menghasilkan, tapi sekarang kenapa tidak bisa?. Pertanyaan itu terus menghantuinya dan merasa tertantang sampai melakukan uji coba selama 3 tahun. Tahun ke 4, hasil sayurannya sudah hampir sama dengan hasil pupuk kimia.

“Saya mencoba sayuran cabe, buncis prancis, kentang. Dan alhamdulillah tahun keempat sudah dapat menghasilkan. Saya coba menambah lahan menjadi enam ribu meter, hasilnya tidak kalah dengan pemakai pupuk kimia, bahkan lebih baik,” katanya.

Setelah mulai menghasilkan, warga banyak berdatangan minta untuk dibuatkan pupuk cair seperti yang Pitoyo buat. Dari situ kemudian Pitoyo berinisiatif untuk mengembangkan bisnis pupuknya. Dari yang awalnya komunitas ke komunitas, sekarang pupuknya sudah mendapat pesanan dari beberapa provinsi, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan, Papua, Jawa Timur dan NTT.

Dari membuat pupuk, Pitoyo kemudian didapuk menjadi narasumber di dinas pertanian dari kabupaten, provinsi dan nasional. Terakhir di tingkat provinsi Pitoyo menjadi narasumber di Palembang, Kepulauan Riau, Padang, Kalimantan Timur dan Irian Jaya. Bahkan dari pupuk, dia sempat memberikan materi cara membuat pupuk di Singapura dan Papua Nugini.

“Pupuk saya sekarang tiap harinya bisa terjual seribu liter perhari. Pemesannya sudah dari berbagai kota di Indonesia. Saya mencoba akan terus mengembangkan pupuk saya. Tapi saya tidak akan pelit kepada masyarakat yang ingin belajar bercocok tanam kepada saya,” tuturnya.

Setelah belasan tahun bergelut di bidang pertanian, penghargaan demi penghargaan berhasil diraihnya. Tahun 2006 Pitoyo berhasil mendapatkan penghargaan ketahanan pangan dari presiden. Tahun 2011, mendapat penghargaan adi karya wirapangan nusantara dari presiden. Tahun 2014, mendapat penghargaan P4S berprestasi kelas madya, yang kesemuanya Pitoyo menerimanya di Istana Negara.

Beberapa pejabat-pun sempat mampir di rumahnya, mereka adalah wakil Mentan Rusman Hariawan, Gubernur Bibit Waluyo, Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati.“Saya selalu memotivasi diri agar bisa mengajak warga agar memelihara lingkungan. Seihingga nanti terjadi keseimbangan terhadap lingkungan. Dari keseimbangan akan dapat meminimalisasi kerusakan alam,” ujarnya.

Atas usahanya, Pitoyo berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Anak pertamanya Eko Binti Lestari telah lulus kuliah di UMY Yogyakarta jurusan pertanian. Anak keduanya Lintang Dwi Nandani baru kelas 6 SD.
Pitoyo mempunyai cita-cita dari pupuknya nanti tercipta masyarakat yang mengkonsumsi makanan yang organik. Sehingga dapat mengurangi penyakit yang banyak diakibatkan oleh pola makanan dan bahan makanan. Dan masyarakat tidak lagi tergantung dengan produk pabrik. Petani yang kini mulai dipandang sebelah mata, dapat menjadi tumpuan kehidupan. (*/zal)