ADU CEPAT: Suasana lomba menggiring bebek di Dusun Betisan yang terkenal sebagai sentra bebek di Temanggung. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)
ADU CEPAT: Suasana lomba menggiring bebek di Dusun Betisan yang terkenal sebagai sentra bebek di Temanggung. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)
ADU CEPAT: Suasana lomba menggiring bebek di Dusun Betisan yang terkenal sebagai sentra bebek di Temanggung. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)

Balap bebek di Dusun Betisan, Desa Sukomarto, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung, sudah menjadi momen rutin tahunan yang banyak ditunggu warganya. Seperti apa?

ISSATUL HANI’AH, Temanggung

MOMEN maulidan di Dusun Betisan, Desa Sukomarto, Kecamatan Jumo, Minggu (4/1) pagi lalu, dimeriahkan dengan gelaran budaya khas warga dusun setempat: lomba balap bebek. Sebuah lomba yang sudah berlangsung sejak dulu kala, sebagai unjuk warga bahwa dusun tersebut, selama ini, merupakan sentra penghasil bebek.

Ya, selama ini warga Dusun Betisan, dikenal sebagai wilayah peternak bebek. Lebih tepatnya, bebek betisan, sesuai nama dusun para peternaknya.

Maka, ratusan warga dusun pun tumplek blek, tak menyia-nyiakan momen istimewa itu. Tua, muda, pria, wanita, anak-anak dan remaja, tampak semringah menonton pertunjukan lomba balap bebek. Kemeriahan begitu terasa, sebelum lomba digelar.

Ratusan warga, sejak pagi, sudah bersiap menyiapkan “arena” sepanjang kira-kira satu setengah meter. Arena tersebut, diberi pembatas kain agar penonton tidak masuk. Arena itulah yang akan digunakan oleh para bebek untuk adu lari mencapai garis finish.

Tanda garis start dan finish pun dibuat sederhana. Hanya garis putih dari kaleng warna yang disemprotkan di permukaan jalan. Meski sederhana, penonton tetap antusias.

Halim, 26, panitia lomba balap bebek mengatakan, lomba tak cuma berlaku bagi warga Dusun Betisan. Tapi juga semua warga Desa Sukomarto. Tujuannya, menciptakan rasa solidaritas antar-dusun.

“Pesertanya tahun ini meningkat, meski jumlah bebek di desa ini semakin berkurang,” ucap Halim. Perlombaan diikuti 37 peserta. “Sistem yang kami gunakan adalah sistem gugur,” ucap Halim.

Hadiah yang bisa dibawa sang pemenang, lumayan menarik. Uang tunai Rp 500 ribu bagi juara I, Rp 400 ribu untuk juara II; dan Rp 300 ribu untuk juara III. Juara harapan I pun masih berhak mendapat uang tunai Rp 250 ribu; dan juara harapan II, uang tunai Rp 200 ribu.

Ironisnya, meski lomba balap bebek dari tahun ke tahun ramai digelar, justru jumlah peternak bebek betisan, makin merosot. Hal itu menjadi keprihatinan sang Kades Sukamarto, Miftahudin.

Menurut Kades Miftah—sapaan intimnya—dari sekitar 600 KK di Dusun Betisan, kini hanya tersisa 20 persen yang setia menjadi peternak bebek. Kini, penduduk setempat, lebih memilih beralih menjadi petani tembakau.

Padahal, kenang Miftah, dulu bebek benar-benar menjadi sumber pendapatan masyarakat. Bisa dikatakan, setiap rumah, pasti memiliki bebek yang istimewa karena ketahanan telurnya.

“Bebek betisan beda dengan bebek lain. Perlu pangon (diangon). Tidak bisa di kandang saja. Bagaimana mau pangon, kalau sudah banyak lahan yang jadi lahan pertanian tembakau? Sekarang saja, orang mau menanam tembakau, bebeknya dijual,” ungkap Miftah, prihatin.

Maka, untuk membangkitkan gairah masyarakat terhadap bebek, pemerintah desa setempat sudah melakukan berbagai upaya. Yaitu, lewat kerja sama dengan Dinas Peternakan Kabupaten Temanggung. Seperti pelatihan, pemberian alat-alat beternak.

Nasir, 40, salah satu peserta lomba balap bebek yang berhasil di babak pertama mengaku senang dengan penampilan bebeknya yang mampu berlari cepat. Bebeknya yang berusia dua tahun, mampu melesat, meninggalkan lawan-lawannya.

Nasir mengakui, meski peternak bebek tak sebanyak dulu, toh ia tetap setia memelihara bebek. “Ya untuk senang-senang saja, biar ada yang dilakukan kalau lagi capek. Lagipula, tembakau juga musiman dan tidak selalu ada. Jadi ya saya menikmati sekali bisa punya bebek.”

Bebek milik Nasir, selalu diikutkan lomba balap. Tujuan balap bebek, agar masyarakat jadi tahu bahwa bebek-bebeknya sehat dan layak untuk dikonsumsi. (*/isk)