Pernah Dikejar Polisi, Kini Punya Segudang Prestasi

258
BUTUH DUKUNGAN: Sebagian anggota Komunitas Freestyle Loenpia Extreme Semarang. Tampak Choirul Syaifudin (ketiga dari kanan). (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
BUTUH DUKUNGAN: Sebagian anggota Komunitas Freestyle Loenpia Extreme Semarang. Tampak  Choirul Syaifudin (ketiga dari kanan). (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
BUTUH DUKUNGAN: Sebagian anggota Komunitas Freestyle Loenpia Extreme Semarang. Tampak Choirul Syaifudin (ketiga dari kanan). (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
ADENNYAR WICAKSONO/RADAR SEMARANG
ADENNYAR WICAKSONO/RADAR SEMARANG

Sekelompok anak muda pencinta freestyle bergabung dalam komunitas. Namanya Komunitas Freestyle Loenpia Extreme Semarang. Mereka tak lagi kucing-kucingan dengan polisi saat beraksi.

ADENNYAR WYCAKSONO

MINGGU sore itu hujan lebat mengguyur Gelanggang Olahraga (GOR) Jatidiri Semarang. Namun hujan deras itu tidak menyurutkan sekelompok anak muda yang tergabung dalam Komunitas Freestyle Loenpia Extreme Semarang (LXS) untuk melakukan latihan. Sejumlah gerakan berbahaya ditunjukkan. Seperti gerakan stoppie, burn out, dan one hand circle wheelie.

Komunitas Freestyle Loenpia Extreme Semarang sendiri sudah cukup lama eksis di Kota Atlas. Komunitas ini dibentuk sejak 9 Juni 2006. Pembentukan komunitas ini berawal dari keprihatinan atas banyaknya komunitas motor liar yang melalukan balap liar di Jalan Pahlawan Semarang. Selain itu, juga bentuk keprihatinan dan kegelisahan tidak adanya wadah bagi pencinta freestyle motor ekstrem.

”Dulu banyak yang balapan di Pahlawan, kami sebaliknya. Kami melakukan aksi akrobat untuk menunjukkan eksistensi. Kalau kami datang, balapan selesai, dan mereka malah menonton kami beraksi,” kata Ketua LXS, Choirul Syaifudin kepada Radar Semarang.

Aroel, sapaan Choirul Syaifudin mengaku, jika dunia freestyle di Indonesia, khususnya di Kota Semarang masih kurang mendapatkan dukungan. Bahkan minimnya sarana dan event membuat mereka harus bermain di jalan raya, hingga menjadi hiburan gratis bagi pengguna jalan.

Aroel mengatakan, aksi komunitasnya sempat dianggap ilegal oleh beberapa pihak. Bahkan, pernah ditertibkan petugas. Namun berkat tangan dingin Kasatlantas Semarang saat itu, AKBP Drs Agus Suryo Nugroho, komunitas ini mendapatkan ruang dan digandeng untuk bisa berprestasi.

”Dulu kami kaget waktu latihan disambangi polisi, kami sempat takut lantaran kami sering bermain di Jalan Pahlawan. Beliau (AKBP Agus Suryo) malah menggandeng kami, dan dimasukkan ke Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM). Kami pun mendapatkan dukungan untuk berprestasi,” kenang Aroel.

Tak ingin disebut komunitas liar yang kerap mengganggu kenyamanan warga, pria berumur 33 tahun ini selalu menekankan anggotanya tertib aturan, berlatih di tempat yang disediakan, dan terus berkreatif sampai akhirnya memenangkan berbagai kejuaraan freestyle yang diselenggarakan di Kota Semarang maupun di luar kota.

Menurut dia, jika mendapatkan ruang, generasi muda yang ada di Semarang bisa menyabet segudang prestasi. Freestyle sendiri tidak dilakukan asal-asalan lantaran harus memiliki keberanian dan nyali untuk melakukannya. Selain itu skill mumpuni harus dimiliki setiap orang yang ingin menjadi freestyler.

”Ada 4 kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang freestyler, yakni wheely (berputar), stoppie (mengangkat roda belakang), burn out (membakar ban) hingga akrobatik. Empat syarat tadi adalah basic yang digunakan sebagai regulasi dalam lomba freestyle,” bebernya.

Setelah berdiri hampir 9 tahun, kini LXS memiliki 25 anggota dengan 6 rider freestyle yang berprestasi. Riders dari LXS sendiri berasal dari pembinaan yang dilakukan dengan merangkul club freestyle yang ada di beberapa daerah, seperti Pati, Kendal, Grobogan, Semarang dan Solo.

”Namanya anak muda, pasti mereka ingin mencari jati diri. Untuk itu, kami merangkul beberapa anggota dari daerah, banyak dari mereka yang bisa berprestasi di tingkat nasional. Salah satunya Tino Cemani asal Pati dan Bagus Ucil yang masih berumur 15 tahun,” katanya.

Untuk freestyle Jateng dan Semarang, menurutnya, masih kurang ada pembinaan dari pemerintah. Hal inilah yang membuat freestyle di Semarang bisa dibilang ketinggalan dengan kota besar lain, seperti Makassar.

Selain itu, minimnya event yang digelar, membuat freestyle Semarang kurang cepat berkembang. ”Karena minim event, kami selalu memberikan motivasi kepada beberapa atlet yang tergabung dari LXS. Jika motivasi tidak diberikan, saya khawatir mental akan down dan mereka malah mencari uang dengan balapan liar,” tegas suami Citra Ratnasari ini.

Komunitas ini latihan rutin setiap Minggu di area GOR Jatidiri. Setiap latihan, ia mewajibkan anggotanya untuk tetap memakai alat keselamatan tubuh, sepeti helm full face, knee protector, pelindung dada, dan pelindung leher. ”Dalam latihan safety harus diperhatikan, kita biasakan itu tidak hanya dalam lomba,” ucapnya.

Ia berharap agar dunia freestyle di Semarang bisa berkembang. Ia meminta kepada pemerintah untuk memberikan ruang dan dukungan kepada freestyler sama halnya olahraga motor lainnya seperti road race hingga drag race.

”Kami harap pemerintah bisa mendukung kami. Bagi penggila freestyle yang ingin bergabung dan membersarkan dunia freestyle di Semarang bisa datang ke sekretariat kami Jalan Taman Karonsih II No 1129 RT 5 RW 4 Perumahan Sulanji Ngaliyan atau bisa menghubungi saya di 085225416969,” pungkasnya. (*/aro/ce1)