MISI PENCARIAN: Tim SAR dari Skadron udara TNI AL mempersiapkan pesawatnya di helipad KRI Banda Aceh saat bersandar di Dermaga II Pelabuhan Tanjung Emas kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
MISI PENCARIAN: Tim  SAR dari Skadron udara TNI AL mempersiapkan pesawatnya di helipad KRI Banda Aceh saat bersandar di Dermaga II Pelabuhan Tanjung Emas kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
MISI PENCARIAN: Tim SAR dari Skadron udara TNI AL mempersiapkan pesawatnya di helipad KRI Banda Aceh saat bersandar di Dermaga II Pelabuhan Tanjung Emas kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

TANAH MAS – Setelah diterjunkan untuk membantu mencari dan mengevakuasi jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 selama sepekan lebih, KRI Banda Aceh kembali ke Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dan bersandar di Dermaga II, Senin (5/1) sekitar pukul 13.00 kemarin. KRI Banda Aceh dengan nomor lambung 539 ini bersandar beberapa jam untuk mengisi ulang bahan bakar, dan kembali mengisi logistik yang mulai menipis selama melakukan misi pencarian.

Usai mengisi bahan bakar dan logistik, kapal ini siap kembali membantu pencarian pesawat AirAsia yang jatuh di kawasan Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Komandan KRI Banda Aceh, Letnan Kolonel Laut Arief Budiman, mengatakan, jika KRI Banda Aceh terpaksa bersandar ke Tanjung Emas lantaran semakin menipisnya bahan bakar dan persediaan logistik. Meski telah bersandar di pangkalan terdekat, dirinya mengaku harus bergerak cepat untuk kembali melakukan evakuasi lantaran besarnya gelombang di lautan bisa memindahkan badan atau bangkai pesawat yang jatuh.

”Malam ini (tadi malam, Red) kami akan kembali ke koordinat yang telah ditentukan, dan kembali melakukan pencarian bangkai pesawat yang hilang,” katanya.

Menurut dia, KRI Banda Aceh bertugas mencari korban dan bangkai pesawat di areal pencarian seluas 70 nautical mil dari Pangkalan Bun. KRI Banda Aceh sendiri adalah kapal terbesar yang diterjunkan. Kapal ini digunakan sebagai kapal induk penemuan serpihan pesawat atau korban sebelum dipindahkan ke daratan.

”Kapal ini kebetulan dijadikan markas atau kapal induk dari kapal-kapal yang menemukan puing-puing pesawat ataupun korban,” tambahnya.

Kapal ini diperkirakan akan sampai di titik jatuh pesawat atau di Selat Karimata pada Selasa pagi (hari ini). Selain itu, jika cuaca cerah dan mendukung, 37 penyelam akan diterjunkan di titik yang diduga terdapat bangkai pesawat AirAsia yang sudah ditandai.

”Penyelaman akan kembali dilakukan jika cuaca memungkinkan, jika benar itu bangkai pesawat akan dilaporkan ke Basarnas. Kendala kami adalah cuaca yang buruk dengan ketinggian gelombang 3-4 meter dan kecepatan angin 20-24 knot. Sementara untuk arus bawah mencapai 3-5 knot yang membuat minimnya jarak pandang penyelam,” jelasnya.

Kepala Basarnas Semarang, Agus Haryono, mengaku, akan tetap siaga dan berjaga bila ada korban dari pesawat jatuh yang hanyut sampai di Perairan Jawa. ”Kami diminta untuk bersiaga kalau ada korban yang hanyut terbawa arus,” katanya. (den/aro/ce1)