Dinkes Kota Tak Punya Anggaran

149

RANDUSARI – Penyakit langka yang diderita Mugiono, warga RT 1 RW 1 Kedungpane, Kecamatan Ngaliyan, hingga kini belum mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Semarang.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Widoyono, mengatakan, penyakit yang diderita Mugiono tersebut hingga kini belum dapat diketahui jenisnya. Selain itu, penanganan penyakit tersebut bukan merupakan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) dari Dinkes Kota Semarang.

”Memang itu bukan domain kami, tapi kalau saya lebih terketuk dari sisi kemanusiaan saja. Sehingga kita membantu ala kadarnya dengan menarik iuran ke teman-teman di Dinkes untuk membantu warga tersebut,” kata Widoyono kepada Radar Semarang, Senin (5/1).

Dikatakan Widoyono, hingga kini pihaknya masih terkendala penganggaran khusus untuk mengatasi problematika penyakit mesterius yang diderita warga Kota Semarang. Sedangkan terkait Mugiono yang belum terdaftar di Jaminan Kesehatan Masyarakat Kota Semarang (Jamkesmaskot) atau sekarang berubah menjadi Kartu Semarang Sehat (KSS), Widoyono berjanji akan membantu memperoleh kartu Jamkesmaskot, sehingga Mugiono bisa segera mendapatkan pelayanan kesehatan.

”Dari Dinas Kesehatan Kota Semarang menganggarkan bagi masyarakat yang sakit, dan tidak mampu, itu konsepnya. Namun jika penyakitnya merupakan jenis penyakit yang langka itu merupakan teknis rumah sakit, ditangani atau tidak, rumah sakit yang berhak,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga akan memfasilitasi Mugiono segera dirujuk ke rumah sakit tipe A. Di Jateng, RS tipe A di antaranya RSUP dr Kariadi Semarang. ”Nanti akan kita fasilitasi untuk ke RS rujukan, namun jika RS rujukan tersebut tidak mampu menangani dan perlu rujukan ke RS Jakarta, nanti akan didiskusikan lebih lanjut,” katanya.

Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Sovan Haslin Pradana, mengatakan, terkait penyakit yang diderita warga Kedungpane tersebut, pihaknya lebih memberikan informasi saja. ”Kinerja pemerintah saat ini sangat berat, karena personel kurang memadai. Ini sebagai kritikan kepada Pemkot Semarang agar mempedulikan warga yang tinggal di pelosok,” ujarnya.

Pihaknya berjanji akan segera mengunjungi warga tersebut guna melihat kondisi secara langsung. ”Kami akan mendatangi warga tersebut (Mugiono), dan nanti kita akan melakukan koordinasi dengan pihak RS Ketileng agar segera menjemputnya untuk memberikan layanan kesehatan ke warga tersebut. Selain itu nanti kita akan mengimbau personel BPJS Kesehatan untuk lebih memberikan sosialisasi ke masyarakat,” tuturnya.

Mengenai anggaran untuk penanganan penyakit langka, ia menegaskan hingga kini belum ada. ”Namun yang jelas kami mengimbau Pemerintah Kota Semarang untuk selalu memberikan apa pun yang terbaik kepada masyarakat Kota Semarang, berapa pun anggarannya yang penting masyarakat Kota Semarang sehat,” tandasnya.

Terkait masih adanya warga miskin Kota Semarang yang belum ter-cover kartu layanan kesehatan, ia memastikan pada 2015 masyarakat miskin Kota Semarang akan memperoleh Kartu Semarang Sehat.

Terpisah, Kepala Bidang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Dinas Sosial, Pemuda dan Olahraga Kota Semarang, Hengky Surhendioto, SH, mengatakan pihaknya akan mencoba membantu, namun hanya sebatas koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

”Itu pun dengan catatan Bapak Mugiono memiliki KTP, sehingga bisa didaftarkan ke puskesmas dan dirujuk ke rumah sakit dengan menggunakan BPJS Kesehatan. Kalaupun tidak memiliki KTP, pihak keluarga bisa meminta keterangan RT dan RW setempat untuk menguruskan KTP dari Bapak Mugiono,” kata Hengky saat ditemui Radar Semarang di kantornya Jalan Pemuda, Senin (5/1).

Selain itu, ia juga meminta pihak kelurahan dan kecamatan setempat apabila ada warganya sakit segera mungkin berkordinasi dengan dinas terkait agar bisa diberi penanganan segera. ”Karena kami tidak akan tahu tanpa adanya laporan dari mereka, seperti saat ini saya baru tahu ada warga Kedungpane kena penyakit langka, itu pun setelah membaca koran Radar Semarang. Tentang penyakit yang dialami Bapak Mugiono, kami akan mencari solusinya segera mungkin,” ujarnya serius.

Seperti diberitakan Radar Semarang kemarin, nasib malang dialami Mugiono atau yang akrab disapa Sedam, warga RT 1 RW 1 Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Ngaliyan. Ia menderita penyakit aneh sejak masih balita berumur 3 tahun. Sebelumnya, ia merasakan kondisi badan yang sangat panas. Kemudian berubah menjadi sangat dingin. Setidaknya ia menjalani hidup sudah 30 tahun lebih dengan tubuh yang kaku dan tidak bisa digerakkan, sehingga tidak dapat melakukan apa-apa. Usia Mugiono kini sudah 49 tahun. Karena kondisinya, ia tidak dapat beraktivitas layaknya orang seusianya. (ewb/mg21/aro/ce1)