MAGELANG – Setelah penghentian Kurikulum 2013 (K-13) bagi sekolah nonpercontohan oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud), kini Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) berencana mengganti ujian nasional (unas) menjadi evaluasi nasional (enas). Wacana kebijakan tahun 2015 itu diharapkan dapat mengembalikan fungsi evaluasi di dunia pendidikan.

Pengawas SMK Kota Magelang mengaku tidak ada masalah jika unas berganti kulit menjadi enas. Kebijakan itu dinilai sebagai keputusan yang berimbas baik pada dunia pendidikan.

“Secara prinsip tidak masalah. Tapi yang paling penting bukan unas apa enasnya, tapi ada standar kelulusannya. Sepertinya, enas itu akan kembali ke evaluasi belajar tahap akhir nasional (ebtanas),” katanya.

Menurut Mahmud, sebuah standar nilai harus ditetapkan untuk menentukan kelulusan. Sebab itu sebagai parameter terhadap kemampuan akademik siswa dan kualitas pendidikan suatu negara.

“Di negara manapun, pendidikan pasti ada standarnya. Tapi sepertinya, enas bobotnya lebih seimbang ketimbang unas yang bobotnya lebih tinggi,” urainya.

Dia menjelaskan, bobot unas adalah 60 persen nilai unas dan 40 persen nilai ujian sekolah (US). Sedangkan enas bobotnya 50 persen banding 50 persen.

Ditanya soal rencana ujian online untuk 500 ribu siswa se-Indonesia. ia mengaku belum mengetahui lebih lanjut, sebab hingga sekarang belum adanya imbauan mengenai hal itu.

“Sama saja ujian, bedanya cuma pada teknisnya saja. Kalau yang biasa pakai kertas, itu pakai perangkat. Kemungkinan kendalanya hanya pada sarana prasarananya saja, tapi kalau bisa tersedia ya tidak apa-apa,” ungkapnya.

Ia tidak sependapat jika ujian daring dinyatakan untuk menghindari kebocoran soal. Menurutnya, secanggih apapun perangkat yang digunakan untuk ujian, jika sumber daya manusia yang bertanggungjawab terhadap persiapan, pembuatan soal, hingga pelaksanaan tidak jujur, maka besar kemungkinanan tetap akan terjadi.

“Semua itu kembali pada masing-masing SDM. Asal dikelola dengan baik, soal tidak akan bocor. Online ataupun tidak, tapi kan yang membuat soal juga manusia, sehingga bisa saja tetap ada celah untuk kebocoran soal,” jelasnya. (put/ton)