Hanya Tersisa 9 Pedagang, Membuatnya Tak Mudah

106
Srabi Kalibeluk : Srabi Kalibeluk hanya dijual di Pasar Warungasem secara tradisional. Hingga kini hanya ada 9 pedagang saja yang melestarikan makanan tradisional tersebut. (mahfudz alimin / radar semarang)
Srabi Kalibeluk : Srabi Kalibeluk hanya dijual di Pasar Warungasem secara tradisional. Hingga kini hanya ada 9 pedagang saja yang melestarikan makanan tradisional tersebut. (mahfudz alimin / radar semarang)
Srabi Kalibeluk : Srabi Kalibeluk hanya dijual di Pasar Warungasem secara tradisional. Hingga kini hanya ada 9 pedagang saja yang melestarikan makanan tradisional tersebut. (mahfudz alimin / radar semarang)

Srabi Kalibeluk merupakan Srabi jumbo yang dipopulerkan oleh seorang bernama Muderi pada tahun 1960 an. Sepeninggal Muderi pada sekitar 1985, menjadikan resep tersebut hampir hilang. Beruntung keturunan Muderi melanjutkan kembali pembuatan Srabi Jumbo Kalibeluk. Namun hingga kini hanya terdapat 9 pedagang yang kesemuanya keturunan asli Muderi.

Mahfudz Alimin, Batang

Tak mudah melanjutkan usaha makanan tradisional turun-temurun. Sifat kekinian yang dihadapi para anak cucu, membuat Wayuti, 34, salah satu penjual Srabi khas Desa Kalibeluk, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang itu hingga kini harus berkiprah sendiri. “Anak zaman sekarang mana ada yang mau berpanas-panasan jual kaya ginian,” kata Wayuti sambil menunjuk ke srabi jualannya di bawah terik matahari Pasar Warungasem, Minggu (4/1) siang.

Dengan berbekal bakul dari bambu yang berisi 30 srabi yang dibawanya dari rumah, dia duduk di tempat biasa berjualan. Di emperan Pasar Warungasem, sekitar 6 kilometer dari desanya. “Kami sudah siapkan sejak pagi, dan pukul 09.00 kami berangkat ke pasar,” katanya.

Srabi memang bisa dijumpai di tempat-tempat lain. Dari mulai yang rumahan hingga yang jualan di pinggir jalan. Dengan bahan dasar beras serta kelapa, serta disajikan dengan menggunakan santan sebagai kuahnya. Namun ada yang berbeda dengan Srabi Kalibeluk ini. Disamping ukurannya yang besar, kudapan empuk ini juga disajikan kering tanpa santan. Dengan harga Rp 8.000 satu linting (tangkep-red), seakan pas untuk membayar kelegitan di tiap gigitannya. “Ada dua macam, srabi putih dan srabi merah. Yang membedakan di bahannya. Kalau merah bahannya kami tambah dengan gula Jawa,” jelas wanita yang sudah berjualan srabi selama 9 tahun ini.

Selain bedagang untuk mencari nafkah, dia juga ingin menjaga resep Muderi, ibunya. Namun ia sendiri tidak tahu apakah anak cucunya kelak bersedia melanjutkan usaha tersebut atau tidak. Dan hingga kini, hanya terdapat 9 pedagang yang meneruskan usaha tersebut termasuk dirinya. yaitu Castroliya, Surini, Warniti, Runipah, Juhariyah, Fadhilah, Toyaroh dan Nok Ripah. “Dulu banyak yang meneruskan. Hingga tinggal kami bersembilan, tadinya sepuluh, tapi Danisri belum lama ini meninggal,” katanya.

Hal senada juga dikatakan oleh Nok Ripah, 37, yang juga meneruskan usaha tersebut. Ia mengatakan hanya untuk melestarikan resep orangtuanya tersebut, dengan berjualan di Pasar Warungasem saja sudah cukup. “Kami semua hanya berjualan di Warungasem saja, selain menjaga kepercayaan pelanggan, juga sudah diketahui banyak orang. Harapannya mudah dituju,” ungkapnya.

Ditanya terkait akankah keturunannya akan melestarikan resep serupa, ia menjawab belum tahu pasti. Disamping prosesnya yang dibilang tidak mudah, sebab belum tentu setiap cetak bisa langsung jadi, juga memakan banyak tenaga.
“Sebenarnya tidak susah, hanya saja setiap mencetak belum tentu langsung jadi. Karena cetakannya dari mangkuk yang terbuat dari tanah liat, sehingga seringkali pecah kalau tidak terbiasa,” jelasnya. (mg12/ric)