PERDANA: Kirab tumpeng dan ingkung bebek dalam gerebek budaya Siram Gunung yang berlangsung di Dusun Betisan, Desa Sukomarto, Jumo, Temanggung, Minggu (4/1). (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)
PERDANA: Kirab tumpeng dan ingkung bebek dalam gerebek budaya Siram Gunung yang berlangsung di Dusun Betisan, Desa Sukomarto, Jumo, Temanggung, Minggu (4/1). (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)
PERDANA: Kirab tumpeng dan ingkung bebek dalam gerebek budaya Siram Gunung yang berlangsung di Dusun Betisan, Desa Sukomarto, Jumo, Temanggung, Minggu (4/1). (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)

TEMANGGUNG-Memberi atau mempersembahkan sesuatu pada orang lain merupakan perilaku terpuji yang disukai Tuhan. Bahkan Tuhan juga menjanjikan harta seseorang yang gemar memberi tak akan habis bahkan semakin bertambah. Masyarakat Dusun Betisan, Desa Sukomarto, Jumo, Temanggung tahu betul cara mewujudkan rasa syukur mereka atas segala nikmat yang mereka dapat.

Minggu (4/1) pagi, masyakarakat Desa Sukomarto memadati kompleks makam Sayid Abdurrahman. Ratusan pasang mata itu tertuju pada kirab yang membawa berbagai macam makanan seperti nasi telur, nasi tumpeng juga ingkung bebek. Dusun Betisan, Desa Sukamarto memang terkenal dengan menu bebek betisan.

Para remaja putra dari Ponpes Kyai Parak Bambu Runcing menampilkan kebolehan mereka melakukan beladiri. Selanjutnya diikuti prosesi siram bumi, yaitu mengucurkan air ke atas tanah. Tujuan dari ritual ini adalah agar kebutuhan air di bumi Sukomarto khususnya dan Temanggung secara umum dapat tercukupi. Sehingga tanahnya menjadi kaya, segala apa yang ditanam dapat berbuah subur, gemah ripah loh jinawi.

“Kalau ajaran agama kita kan ada istilah shodaqoh. Inilah yang kami lakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT. Yaitu dengan mensucikan diri kita, tanah kita, hasil-hasil bumi kita, biar segala keburukan terhindarkan,” terang Kepala Desa Sukomarto, Miftahudin.

Dua buah gunungan berisi hasil-hasil bumi seperti terong, wortel, pisang, jeruk, salak, padi, rambutan, nanas dan lainnya juga harus disucikan. Gunungan tersebut juga disiram air agar pengharapan masyarakat agar hasil bumi mereka terhindar dari hama penyakit dapat. Ritual ini bernama Siram Gunung.

Sebuah kotak yang memuat berbagai macam kelopak bunga dan beberapa koin pun ditebar ke udara. Kontan saja koin-koin tersebut menjadi rebutan anak-anak. Inilah yang menjadi perwujudan rasa syukur atas semua nikmat dari Sang Ilahi.

Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama dengan perpaduan budaya dan religiusitas. Penyelenggaraannya yaitu setiap Mulud pada penanggalan Jawa. Tujuannya sebagai wujud syukur kepada Tuhan yang dipadu dengan ritual-ritual bersedekah kepada sesama lewat gunungan.

Puncak dari acara ini adalah perebutan gunungan. Seluruh masyarakat yang hadir tersebut tampak bersemangat untuk mendapatkan salah satu hasil bumi itu. Mereka harus berdesakan, sikut-sikutan dengan perebut lainnya.

Ahmad Gozali, 18, remaja asal Pekalongan yang menuntut ilmu di Parakan ini tak mau ketinggalan mendapat hasil bumi di Gunungan. Ia berhasil mendapatkan jeruk, salak, rambutan, lantas dibagikan pada teman-temannya.

“Tadi desak-desakan sama ibu-ibu yang bawa anak. Kasihan juga saya, makanya tadi dapat apa langsung saya lempar ke belakang. Biar yang lain juga dapat,” katanya.

Meski baru pertama kali berlangsung grebeg budaya di Betisan, namun ia berupaya tahun depan dapat menyaksikan kembali secara langsung. Begitu ramai, begitu mendekatkan semua elemen masyarakat juga begitu asyik, katanya. (mg3/ton)