Awalnya Iseng, Kini Luncurkan Album dan Miliki Fans

179
BUAT VIDEO KLIP : Jupitershop, band indie dari Kota Magelang yang sampai saat ini masih eksis meski sering berganti personel. (IST)
BUAT VIDEO KLIP : Jupitershop, band indie dari Kota Magelang yang sampai saat ini masih eksis meski sering berganti personel. (IST)
BUAT VIDEO KLIP : Jupitershop, band indie dari Kota Magelang yang sampai saat ini masih eksis meski sering berganti personel. (IST)

Jupitershop, salah satu band indie dari Kota Magelang yang memiliki banyak penggemar. Mereka juga meluncurkan album dan video klip sendiri.

PUPUT PUSPITASARI, MAGELANG

Awalnya, Jupitershop (JS) hanya dibentuk karena keisengan. Bisa dibilang band ini adalah band proyekan atau para personelnya sebelumnya sudah memiliki band sendiri-sendiri. Mereka ingin membuat CD kompilasi dari teman-teman hiphop di Kota Magelang, karena tak terurus, akhirnya tanpa sengaja terbentuklah band ini.

“Awalnya nggak sengaja, akhirnya diseriusin,” kata Agung Nugroho salah satu personel Jupitershop.
Dijelaskan Agung, Jupitershop diambil dari nama planet terbesar di tata surya “Jupiter”. Lalu shop berarti toko yang bergerak di bidang jasa. Jadi filosofinya, Juspitershop adalah sebuah kekuatan besar yang memberikan energi positif bagi semua orang.

“Jadi 28 Februari 2010, disepakatilah pembentukan band kami dengan nama Jupitershop itu,” akunya.
Pemuda yang beken dengan nama Nemo itu, menjelaskan JS mengusung musik bergenre rock elektronik. Dia beranggapan, musik itulah yang bisa mewakili jiwa-jiwa para personelnya yang masih muda dan bersemangat.

“Bagi kami, musik adalah hati. Dan mungkin hati kami larinya ke situ (rock electronik, Red),” ungkap Nemo.
Dia optimistis, memandang bahwa musik minoritas lama-kelamaan akan dicintai oleh penikmat musik, atau bisa dikatakan tak memenuhi selera pasar pada saat itu. Terjawablah, hingga saat ini musik mereka mampu diterima oleh publik khususnya untuk anak muda. Walaupun belum bisa tembus ke dapur rekaman berlabel nasional, namun jadwal manggungnya cukup padat.

“Tahun 2013 lalu, kami sudah mengeluarkan album pertama kami yang ber-titlle Distodance yang merupakan singakatan dari jenis musik distorsi yang asyik buat nge-dance. Sambutan dari Big Banger (julukan fans JS, Red) sangat luar biasa,” ungkapnya.

Kendati sudah punya nama, JS kerap diterpa masalah. Hal yang paling sering terjadi adalah gonta-ganti pemain. Lebih-lebih pada basis.

“Sejak awal berdiri sampai sekarang yang bertahan hanya 2 saja, saya termasuk Galih (disc jockey, Red), dan paling sering ganti basis karena mungkin sulit menemukan basis yang cocok dengan musik kami,” tambahnya yang mengaku JS sempat tampil di malam tahun baru 2015 dan pencanangan Ayo ke Magelang 2015, di Alun-alun Kota Magelang.

Hal tersebut menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi personel JS. Galih Novezar, personel lain yang beken dengan nama Gori menambahkan, semangat yang dibendung seluruh personel akhirnya membuahkan hasil. Di tahun 2014, mereka sukses meluncurkan video klip dari hits single terbarunya, yakni Make Me Down.

“Kami persembahkan ini untuk keluarga, teman-teman dan seluruh pihak yang mendukung kami,” tambahnya.
Lebih lanjut, Gori menjelaskan, musiknya cenderung lebih nge-beat dan disisipi hard cord. Merekapun kerap tampil dalam satu panggung bersama musik-musik cadas seperti metal dan hard cord di beberapa even gigs atau komunias musik.
“Nah, di album ada 12 track plus satu bonus track dengan komposisi lagu beat, hard cord, dan rock. Kami usung konsep love and life yang bercerita seputar pernak-pernik kehidupan dari angle anak muda,” tandasnya.

Hingga kini, JS digawangi 6 personel yang masing-masing memberikan warna musik pada band tersebut. Di antaranya, Agung Nugroho sebagai vokalis, Purwoko atau Ucok sebagai raper vokal, Galih Novezar atau Gori sebagai DJ, Fitrahulki atau Uki sebagai drumer, Setiawan atau Ambon sebagai basis, dan lead guitar dipegang Probo. (*/lis)