EKSIS: Perajin asal Desa Gondangsari, Kecamatan Juwiring menyelesaikan proses pembuatan kursi ukir yang sudah di pesan pelanggan. (JPNN)
 EKSIS: Perajin asal Desa Gondangsari, Kecamatan Juwiring menyelesaikan proses pembuatan kursi ukir yang sudah di pesan pelanggan. (JPNN)

EKSIS: Perajin asal Desa Gondangsari, Kecamatan Juwiring menyelesaikan proses pembuatan kursi ukir yang sudah di pesan pelanggan. (JPNN)

Sejak puluhan tahun lalu, Kecamatan Juwiring, Klaten, dikenal sebagai daerah kerajinan kayu yang di ekspor ke berbagai negara di Benua Eropa dan Benua Asia. Beberapa desa seperti Serenan, Gondangsari menjadi sentra perajin kayu yang masih bertahan hingga saat ini.

NAMUN saat ini industri rumahan ini mengalami kendala besar. Ratusan perajin di wilayah ini masih tetap memroduksi, namun banyak di antara mereka yang memilih untuk tidak mengirim hasil kerajinan ke luar negeri. Lambatnya pembayaran menjadi alasan bagi perajin untuk tidak lagi melayani pesanan ekspor.

“Memang harganya lebih mahal dibandingkan dengan dijual ke pengusaha dalam negeri. Tapi pembayaran tidak dapat diterima langsung sesuai dengan pesanan. Misalnya kami mengirim dua kali baru dibayar satu kali,” ujar Sutadi, 45, perajin asal Desa Gondangsari, Juwiring.

Dia menambahkan, meski masih ada pengusaha yang melayani pesanan ekspor jumlahnya tidak banyak. Karena untuk dapat melayani pesanan ekspor tentu membutuhkan modal lebih, pengusaha rela membeli bahan baku meski pesanan belum dibayar. “Saya sekitar empat tahun terakhir menghentikan untuk pesanan ekspor. Modal saya terbatas, jadi saya fokus untuk melayani pesanan lokal. Meski keuntungan lebih sedikit tapi kalau pembayaran lancar, modal dapat diputar dengan membeli bahan baku,” ungkapnya.

Sukadi menjelaskan, meski yang pesan orang lokal namun dia tidak pernah menurunkan kualitas mebel yang dihasilkan tetap standa ekspor. Sehingga pesanan mebel yang dia kerjakan tetap ramai dan masih terus ada order hingga saat ini. “Banyak yang menurunkan kualitas, namun akhirnya justru tidak dapat bertahan. Kalau saya prinsipnya selama produk yang saya hasilkan kualitasnya bagus tentu akan dibayar sesuai dengan jenis yang saya hasilkan,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan perajin lain Sumono, 48, kondisi kerajinan mebel di Juwiring saat ini memang jauh berbeda dengan belasan tahun lalu. Saat itu hampir semua rumah memiliki usaha mebel, namun sekarang banyak yang sudah tutup. “Kondisi usaha di Eropa juga memengaruhi pesanan mebel di Juwiring. Kami berharap dengan kondisi usaha mebel di Juwiring kembali seperti saat jaya dulu. Kami perlu bantuan dan dukungan pemerintah, namun selama ini kepedulian pemerintah memang sangat kurang,” tandasnya. (oh/jpnn/smu)