Gita Kawiswara, Tak Hanya Bermusik, Tapi Olah Jiwa dan Tata Krama

241
ASAH KEMAMPUAN : Sebanyak 15 anggota kelompok karawitan Gita Kawiswara Fakultas Kedokteran Undip tak bosan berlatih sehingga benar-benar kompak dan piawai. Kini banyak order manggung di beberapa acara. (AHMAD FAISHAL/RADAR SEMARANG)
 ASAH KEMAMPUAN : Sebanyak 15 anggota kelompok karawitan Gita Kawiswara Fakultas Kedokteran Undip tak bosan berlatih sehingga benar-benar kompak dan piawai. Kini banyak order manggung di beberapa acara. (AHMAD FAISHAL/RADAR SEMARANG)

ASAH KEMAMPUAN : Sebanyak 15 anggota kelompok karawitan Gita Kawiswara Fakultas Kedokteran Undip tak bosan berlatih sehingga benar-benar kompak dan piawai. Kini banyak order manggung di beberapa acara. (AHMAD FAISHAL/RADAR SEMARANG)

Dunia kampus tidak selalu berkutat pada urusan akademik. Tapi wadah para mahasiwa, dosen, dan juga karyawan ini, bisa digunakan untuk mengembangkan diri dan menempa diri dalam bidang seni karawitan. Seperti apa?

ADALAH kelompok karawitan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro Semarang. Meski sekilas tidak ada kaitannya antara kedokteran dan karawitan, namun para mahasiswa yang tergabung dalam kelompok seni ini bertekad melestarikan salah satu seni budaya Jawa agar tidak punah tergerus kemajuan zaman.

“Awal mula terbentuknya kelompok ini sekitar bulan Juni 2014. Yaitu dari proker yang dicanangkan oleh BEM (badan eksekutif mahasiswa) FK dalam bidang minat dan bakat. Kebetulan alatnya sudah ada di fakultas,” ungkap Annida Dini Kamila, ketua tim kelompok tersebut.

Diceritakan Annida –sapaan akrabnya, waktu itu jumlah mahasiswa yang berminat sangat banyak. Yaitu hampir 40 orang yang mendaftar dari seluruh jurusan. Namun seiring berjalannya waktu, banyak anggota yang kemudian jarang berangkat. “Akhirnya oleh pembimbing Dr Sri Hendratno dan Prof Edi Darmana disepakati untuk membuat tim dari anggota yang tersisa,” imbuhnya.

Dari tim itulah yang kemudian menamakan diri menjadi kelompok Gita Kawiswara yang memiliki arti alunan yang mulia. Nama Kawiswara merupakan singkatan dari Karawitan Suara Medika atau Karawitan Fakultas Kedokteran. Jumlah anggota tetap, hanya 15 orang dan semuanya menjadi tim inti. “Ketika pentas maupun latihan, diusahakan hadir semua,” terangnya.

Ke-15 mahasiswa tersebut adalah Annida Dini Kamila (Sharon), Fransisca Natalia Bintang (Slenthem), Dewi Ulfa (Kenong), Aulia Mufidah (Sinden), Nanda Ilham (Demung), Sofyan (Bonang Penerus), Aulia Evandrian (Kempul Gong), Karina Prawestisita (Bonang Barung), Ozi Rahmat (Kendang), Raini Tri K (Sharon), Luthfi Aulia Rahman (Demung), Slamet Bagaskoro (Peking), Lutfia Indra F (Sinden), Reza Maulana (Sinden), Anindita Rahma Siwi (Sinden), dan Andika Agus (Sinden). “Kami rutin melakukan latihan di sini (FK Undip) tiap Jumat sore pukul 15.00 hingga menjelang Maghrib,” ungkap Dewi Ulfa menambahkan.

Meski berasal dari jurusan dan angkatan yang berbeda, mereka berkomitmen terus berlatih bersama. Menurutnya, belajar karawitan tidak hanya belajar memainkan musik, tetapi juga belajar olah jiwa, rasa, dan juga tata krama. Misalnya, seseorang tidak boleh melangkahi di antara alat yang ada. Selain itu, bermain karawitan juga mengajarkan kesabaran, dan menggunakan perasaan. “Pokoknya musik ini menjadikan kita berlaku lembut dan dapat menghilangkan rasa stress,” imbuhnya.

Karena itulah, kelompok ini dari hari demi hari menunjukkan kualitas yang luar biasa. Bila dibuat grafik, terlihat selalu ada peningkatan. Tidak heran, jika kemudian mereka diminta tampil dalam berbagai kegiatan. Misalnya acara penerimaan mahasiswa baru FK Undip, seminar nasional tentang keperawatan, dan yang terbaru unjuk kebolehan di TVRI Jateng. “Padahal sebelumnya kami belajar dari nol. Kuncinya adalah menjalin keakraban, kekompakan, sehingga seperti keluarga sendiri,” terang Annida yang mengaku berasal dari Betawi ini.

Pengalaman yang paling mengesankan bagi mereka adalah ketika hendak tampil dalam sebuah pertunjukan. Menurutnya, untuk mempersiapkannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bahkan harus menambah jam latihan hingga larut malam.
“Sebelum tampil di TVRI, hampir dua minggu kami terus melakukan latihan. Selain itu, harus bolak-balik Undip-Unnes karena pengajarnya memang dari sana,” imbuhnya.

Mereka bersyukur dari pihak kampus mendukung baik segi moral maupun material. Sehingga dalam latihan dapat maksimal dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Selain itu, respons dari warga kampus juga sangat menyenangkan.

“Kami berharap ke depannya kesenian menjadi lebih terkenal tidak hanya di Semarang tetapi juga di dunia internasional,” pungkas Annida yang mengaku dalam waktu dekat akan melakukan pentas kolaborasi dengan seni angklung, tari, dan wayang untuk menyambut dies natalis Rumah Sakit Nasional Diponegoro tersebut. (fai/ida)