Sopir Angkot Pilih Pasrah

180
TAK BERDAYA : Awak angkot mencari penumpang di Kota Pekalongan, kemarin. Penurunan harga BBM belum ditindaklanjuti awak angkot dengan menurunkan tarif. (Hanafi/radar semarang)
TAK BERDAYA : Awak angkot mencari penumpang di Kota Pekalongan, kemarin. Penurunan harga BBM belum ditindaklanjuti awak angkot dengan menurunkan tarif. (Hanafi/radar semarang)
TAK BERDAYA : Awak angkot mencari penumpang di Kota Pekalongan, kemarin. Penurunan harga BBM belum ditindaklanjuti awak angkot dengan menurunkan tarif. (Hanafi/radar semarang)

PEKALONGAN – Walaupun harga Premium diturunkan pada awal tahun ini dari Rp 8.500 menjadi Rp 7.600, tarif angkutan kota di Pekalongan tidak ikut turun atau tetap sesuai kenaikan harga BBM terdahulu..

Diungkapkan salah satu sopir angkot jurusan Pekalongan – Wiradesa Pardi, 45, sementara pihaknya memang tidak menurunkan ongkos. “Belum ada komplain dari pelanggan. Jadi tarif tetap sesuai kenaikan kemarin,” ucap pria asal Kraton tersebut.

Penumpang menurut Pardi juga tidak dipaksa harus memberi tarif tertentu. Karena sudah sama-sama tahu bensin turun. Selama ini tarif standar jauh dekat, untuk pelajar Rp 2.000, umum dan mahasiswa Rp 4.000 sampai Rp 4.500.

Menurutnya awak angkot juga tidak berani komplain. Kadang ada yang kasih kurang, kadang lebih tidak minta kembalian. “Tapi kalau ada yang minta uang kembalian ya saya kasih. Bahkan kadang masih ada yang tega cuma memberi ongkos Rp1.500,” ungkapnya saat ngetem di Jalan Perintis Kemerdekaan Pekalongan Barat.

Dirinya juga terpaksa tidak menurunkan tarif karena setoran juga masih tetap. “Kalau kemarin masih di bawah Rp 40 ribu sekarang Rp 50 ribu. Apalagi saat ini nyari penumpang juga sulit,” ucapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan Kota Pekalongan, Doyo Budi Wibowo mengatakan memang belum ada ketentuan tarif baru terkait penurunan harga BBM. “Saat ini tarif angkot memang masih sesuai kemarin. Kami juga belum memberi imbauan terkait tarif. Kami juga belum terima SK terkait dari gubernur,” ucapnya. Sehingga Dishub juga tidak bisa melarang atau menyarankan sopir angkot untuk menyesuaikan dengan harga terbaru. (han/ric)