Mayoritas Pengonsumsi Oplosan Pelajar

150

KENDAL—Peredaran minuman keras (miras) oplosan di Kendal semakin memprihatinkan. Sebab mayoritas pengonsumsi miras oplosan adalah generasi muda terutama pelajar. Hal tersebut lantaran harga satu bungkus miras oplosan jauh lebih murah ketimbang miras murni atau bermerek.

Jika satu botol miras bermerek dibandrol Rp 30 ribu – Rp 100 ribu per botol, miras oplosan justru hanya dijual seharga Rp 10 ribu – Rp 15 ribu per liter. Meski berbahaya, tapi karena murah, miras oplosan justru banyak dicari ketimbang miras yang legal. “Bahkan ada yang menjual dengan harga diecer dalam botol plastik seharga Rp 5 ribu,” ujar Kepala Satpol PP Kabupaten Kendal, Toni Ari Wibowo, Jumat (2/1).

Toni mengaku pihaknya sudah berulangkali melakukan razia sejak awal Desember 2014 lalu. Pedagang banyak menggunakan cara penjualan tersembunyi untuk mengelabuhi petugas baik dari Satpol PP maupun Polres Kendal.

Diantaranya, dengan membungkus miras oplosan menggunakan plastik bening ukuran setengah sampai satu liter. Selain itu, pedagang juga menggunakan botol bekas minuman berenerji. “Bahkan ditaruh di etalase bercampur dengan minuman berenerji asli. Jika petugas tidak teliti, maka tidak akan ketahuan. Diketahui itu botol sudah tidak bersegel memiliki aroma yang menyengat,” katanya.

Dari pengakuan pedagang, mayoritas yang menjadi konsumen adalah kalangan anak muda dan pelajar. Hal itu karena harganya jauh lebih murah dibanding miras legal. “Pelajar yang tidak punya banyak duit memilih miras oplosan padahal sangat berbahaya dan merusak kesehatan hingga merenggut nyawa,” katanya.

Untuk memutus mata rantai peredaran miras oplosan dan ilegal, sekaligus mengantisipasi adanya korban jiwa, pihaknya terus melakukan razia. Sejauh ini, pihaknya berhasil mengamankan 1.500 botol miras dan empat jerigen miras oplosan. “Barang bukti tersebut kami amankan di Kantor Satpol PP,” lanjutnya.

Kendati demikian, pihaknya belum bisa memastikan jika miras oplosan yang beredar di wilayah Kendal kandungan atau campurannya apa yang ada dalam minuman. “Yang jelas kadar alkoholnya sangat tinggi, sehingga sangat berbahaya sekali,” ungkapnya.

Pihaknya akan menerapkan pasal tindak pidana ringan (Tipiring) bagi pengedar. “Selama ini hanya pembinaan, tapi untuk 2015 akan ada tindakan hukum yakni penggunaan pasal tipiring,” terangnya. Tak hanya Satpol PP, Jajaran Polres Kendal juga menggalakkan anggotanya untuk mengantisipasi maraknya miras ilegal yang beredar di masyarakat.

Sama halnya Satpol PP, antisipasi peredaran miras oplosan dilakukan pihak kepolisian dengan melakukan razia di tempat-tempat yang dicurigai sebagai tempat penjualan miras. Tidak hanya melakukan penyitaan, polisi juga langsung melakukan penindakan tegas dengan jeratan hukum. “Penjual kami jerat dengan tindak pidana ringan (tipiring) sedangkan barang bukti berupa miras baik yang oplosan atau tidak, kami lakukan penyitaan. Nantinya jika sudah memperoleh izin dari pengadilan, akan kami musnahkan,” tandas Kapolres Kendal, AKBP Harryo Sugihhartono. (bud/ric)