Kenalkan Prenatal Yoga, Persalinan Lebih Alami

428
OLAHRAGA BUMIL: Anggota Komunitas Gentle Birth Semarang sedangkan melakukan prenatal yoga untuk melatih pernapasan, gerak tubuh, dan juga relaksasi. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
OLAHRAGA BUMIL: Anggota Komunitas Gentle Birth Semarang sedangkan melakukan prenatal yoga untuk melatih pernapasan, gerak tubuh, dan juga relaksasi. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
OLAHRAGA BUMIL: Anggota Komunitas Gentle Birth Semarang sedangkan melakukan prenatal yoga untuk melatih pernapasan, gerak tubuh, dan juga relaksasi. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

Kelahiran merupakan proses alami dan spiritual, bukan semata-mata biologis medis. Kehamilan dan kelahiran merupakan masa transformasi diri yaitu menjadikan seorang istri sebagai ibu, dari seorang suami sebagai ayah. Karena alasan itulah, komunitas ini dibentuk. Seperti apa?

AHMAD FAISHOL

KOMUNITAS Gentle Birth Semarang atau yang lebih dikenal dengan Gentle Birth Untuk Semua (GBUS) Semarang kali pertama dibentuk pada bulan Oktober 2014. Ide awal mendirikan komunitas ini dicetuskan oleh beberapa ibu yang ingin memberikan edukasi dan dukungan terhadap ibu hamil (bumil) untuk melahirkan secara alami. Salah satunya adalah Arum Sukma Kinasih yang merupakan psikolog.

”Selama ini melahirkan selalu diidentikkan dengan sesuatu yang sakit. Sehingga seseorang cenderung menakutinya. Padahal sebenarnya melahirkan itu sesuatu yang alami dan menjadi pengalaman yang indah,” ungkap Arina Molitha, salah satu anggota GBUS Semarang.

Dijelaskan, kelahiran merupakan sebuah proses terbentuknya konsep cinta. Ketika anak dilahirkan dengan cara yang positif, maka pada masa pertumbuhan dan perkembangannya, akan dengan mudah merasakan cinta dan kehangatan.

”Sebaliknya, ketika anak dilahirkan dengan kekerasan, perasaan yang menakutkan dan penuh tekanan, maka akan menimbulkan luka traumatis. Tidak hanya bagi ibu, tetapi juga anak. Karena merekam hal-hal yang penuh luka,” imbuh perempuan yang akrab disapa Arin ini.

Untuk menciptakan hal-hal positif selama melahirkan, lanjut Arin, perlu adanya pemberdayaan bagi para perempuan mulai dari awal kehamilan hingga menyusui dan juga merawat anak-anak. Sehingga mereka tidak selalu bergantung kepada tenaga medis sebagaimana yang terjadi selama ini.

Menurutnya, perempuan juga harus aktif mempersiapkan diri. Sehingga mendapatkan kondisi yang baik tidak hanya untuk dirinya tetapi juga anak yang dilahirkan kelak. ”Salah satunya dengan gentle birth. Melalui cara itu, mereka akan mendapat keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa,” imbuhnya.

Di antara kegiatan yang ada dalam gentle birth adalah dengan melakukan prenatal yoga. Melalui cara ini, dapat melatih pernapasan, gerak tubuh, dan juga relaksasi. Berbeda dengan senam ibu hamil yang baru dimulai sejak usia kandungan 7 bulan, prenatal yoga dapat dilakukan di awal mulai kehamilan. ”Bahkan yang belum hamil dan remaja juga dapat melakukannya,” terang perempuan yang mengaku hanya sebagai fasilitator saja ini.

Perempuan yang mempunyai lisensi menjadi guru yoga ini menambahkan, kegiatan secara rutin dilakukan setiap Minggu pagi sekitar pukul 08.00 di rumahnya di Jalan Kyai Saleh Nomor 13 Semarang. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan gratis bagi siapa saja. Sesekali mereka secara patungan memanggil praktisi gentle birth untuk mendapatkan pengetahuan dan berbagi satu sama lain.

”Pesertanya rata-rata masih orang Semarang. Namun ada beberapa dari daerah lain. Sebab mereka telah merasakan manfaatnya,” imbuh perempuan yang mengaku memiliki jumlah anggota sekitar 30 orang ini.

Untuk menyosialisasikan manfaat dari kegiatan tersebut, mereka terjun langsung melakukan sosialisasi kepada ibu-ibu melalui berbagai perkumpulan. Selain itu, aktif menyebarkan informasi melalui media sosial. ”Target kami pada 2015 ini, mengenal gentle birth. Sebab kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Bandung, Jogja telah mengenal sejak lama,” harapnya. (*/ida/ce1)