SEMARANG – Jawa Tengah pada bulan Desember mengalami inflasi sebesar 2,25 persen, lebih tinggi dari bulan November yang berada di 1,36 persen. Kenaikan tersebut dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi serta kenaikan harga beberapa hasil pertanian.

Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng Jam Jam Zamachsyari mengatakan, dampak kenaikan harga BBM pada November lalu masih terasa hingga Desember, bahkan lebih inflasi lebih besar. “Hal ini disebabkan karena kenaikan harga-harga lain yang dipicu oleh kenaikan harga BBM baru dirasa setelah tanggal 18 November, sedangkan di bulan Desember, sebulan penuh dirasa,” ujarnya, kemarin (2/1).

Selain kenaikan harga BBM, komoditi lain yang menyumbang naiknya inflasi diantaranya cabai merah, beras, tarif dasar listrik, serta ongkos tukang dan mandor. Cabai dan beras menyumbang inflasi karena minimnya pasokan sehingga harga tinggi. “Beberapa bulan belakangan ini, setelah kemarau, sejumlah sentra penghasil beras maupun cabai merah di Jawa Tengah baru mulai masa tanam. Karena itu pasokannya sedikit dan harus ambil dari luar Jawa Tengah,” jelasnya.

Kemudian untuk ongkos tukang dan mandor menyumbang inflasi juga karena dampak dari kenaikan BBM bersubsidi. Yaitu saat mereka berangkat kerja baik menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum, ongkos yang dikeluarkan lebih tinggi. “Karena ongkos menuju ke tempat kerja ini, maka ongkos tukang dan mandor juga ikut naik,” kata Jam Jam.

Selain penyumbang inflasi, beberapa komoditi lain juga berperan dalam meredam inflasi. Diantaranya buah-buahan dan ayam kampung. Komoditi ini memiliki ketersediaan yang cukup, sehingga dapat meredam inflasi. (dna/smu)