PRODUKTIF : Kurnia Hidayati menunjukkan sejumlah antologi yang diikutinya hingga akhir 2014 lalu. (Mahfudz alimin / radar semarang)
PRODUKTIF : Kurnia Hidayati menunjukkan sejumlah antologi yang diikutinya hingga akhir 2014 lalu. (Mahfudz alimin / radar semarang)
PRODUKTIF : Kurnia Hidayati menunjukkan sejumlah antologi yang diikutinya hingga akhir 2014 lalu. (Mahfudz alimin / radar semarang)

Kurnia Hidayati merupakan sosok penyair yang tidak pernah lelah dalam mengirimkan karyanya di media massa. Tiap minggu dirinya menyiapkan 35 judul puisi untuk dikirimkan ke minimal 5 media bahkan menerbitkan antologi. Kini dirinya sedang menyiapkan launching buku karyanya sendiri, “Senandika Pemantik Api”. Seperti apa?

Bidang sastra bukanlah dunia baru bagi penyair muda ini. Pasalnya karya-karya sastra sudah dikenalinya sejak ia kecil. Namun perjalanan karir Kurnia Hidayati ini diawalinya sejak pertengahan 2011 dengan mengikuti perlombaan puisi di dunia maya seperti facebook.

“Di facebook banyak sekali perlombaan-perlombaan, dari yang berhadiah pulsa Rp 50 ribu hingga uang tunai. Dulu hobi menulisku sempat terputus saat aku masih SMP bahkan SMA. Padahal aku berniat menggeluti dunia penulisan semenjak aku menginjak Sekolah Dasar,” kata dara berparas manis itu kepada Radar Semarang.

Semangat dalam menulis yang ia alami sempat mengalami penurunan kala beberapa tulisannya seringkali ditolak dalam perlombaan. Hingga akhirnya ia mendapatkan angin segar menjadi juara 3 buku antologi puisi dan cerpen “Setia Tanpa Jendela”. Dari situ, dirinya merambah ke media massa.

“Sejak awal 2013 saya mulai memberanikan diri untuk mengirimkan karya saya di media-media massa dengan menyiapkan 35 judul puisi tiap minggu, kemudian saya kirim ke 5 media. Dan akhirnya April 2013 membuahkan hasil. Karya saya termuat di media luar Jawa, Yaitu Riau Pos,” kata pengidola sastrawan Sapardi Djoko Damono itu.

Hingga kini tulisannya beberapa kali dimuat di media seperti Jawa Pos, Indopos, Riau Pos, Banjarmasin Pos, Pos Bali, Bandung Ekspress, Radar Surabaya, Solopos, Radar Seni, dan Media Indonesia. Selain itu Kedaulatan Rakyat Suara Karya, Majalah Sastra Kalimas, Minggu Pagi, Joglosemar, Ogan Ilir Ekspress, Buletin Jejak, Haluan Padang, Suara NTB, Metro Riau, Harian Cakrawala Makassar, Tabloid Duta Selaparang, mayokoaiko.com, unsa27.net, C-Magz, dan lain-lain
Seiringan dengan usahanya untuk berupaya masuk di media massa, ia pun bergabung di berbagai antologi. Hingga memasuki 2015 ini, dirinya telah mengikuti lebih dari 22 antologi yaitu Setia Tanpa Jeda (2011), Mimpi Seribu Kemenangan (2012), Napas Dalam Kata (2012), Romansa Telaga Senja (2012), Puisi Adalah Hidupku (2012), Galau Antariksa (2012), Qasidah Lintas Cahaya (2012), Di Sebuah Surau, Ada Mahar Untuk-Mu (2012), Parade Pena Berkisah (2012), dan Tentang Pahlawan (2013)

Kurnia memberikan bocoran bahwa saat ini dirinya sedang sibuk menyiapkan launching buku puisinya yang bertajuk “Senandika Pemantik Api” Terkait kapan akan mulai launching, ia mengaku tidak mau buka mulut terlebih dahulu. “Waktu masih dirahasiakan, karena perlu persiapan lebih dalam peluncuran ini” celetuk gadis kelahiran Beji, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang itu.

Ditanya terkait dunia selain puisi, dirinya mengaku dalam tahun 2014 berkomitmen menjadi penyair, sehingga karya yang diciptakannya hanya puisi. Dan 2015, ia berharap bisa menggeluti dunia selain sastra.

“Impian saya menjadi penyair di 2014 sudah saya capai, dan 2015 nanti impian saya bisa menjamah dunia selain puisi, seperti cerpen bahkan essai,” ungkap gadis kelahiran 1 Juni 1992 itu. (mg12/ric)