PARAH : Petugas memasang EWS di puncak bukit di Desa Kalisalak Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
PARAH : Petugas memasang EWS di puncak bukit di Desa Kalisalak Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
PARAH : Petugas memasang EWS di puncak bukit di Desa Kalisalak Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

MUNGKID– Rekahan tanah di lereng pegunungan Menoreh terus meluas dan mengakibatkan tanah bergeser. Kemarin, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang bersama Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta memasang alat pendeteksi dini (early warning system) tanah longsor.

Alat itu dipasang di ujung Dusun Basongan, Desa Kalisalak, Kecamatan SalamanSalaman. Tim UGM dibantu relawan Garuda Bukit Menoreh.

Perwakilan Tim Pusat Studi Bencana Alam UGM Winaryo mengatakan, sebelum memasang alat, pihaknya mencari titik teratas rekahan tanah. Lokasi itu ada di Bukit Pusung Buntung. “Alat ini akan bekerja ketika terjadi rekahan dengan besaran tertentu dan benang yang dikaitkan di dua sisi alat akan mengencang. Kemudian, benang itu akan menarik ke bagian atas yang menuju ke sirine. Bila suara sirine mengeras maka itu tandanya ada pergerakan tanah cukup signifikan,” katanya, Rabu (31/12).

Menurut pengkajiannya, kawasan tersebut cukup rawan terjadi tanah longsor. Salah satu faktornya, terdapat beberapa titik rekahan tanah. Dan ini merupakan tanda-tanda daerah potensi bencana tanah longsor. “Kami seting sesuai karakteristik tanah setiap daerah. Seperti ketika ada pergerakan tanah 10-20 cm merupakan pada level bahaya, maka sirine akan berbunyi,” jelasnya.

Kepala Dusun Basongan, Mukhlis menjelaskan, tanah retak itu muncul usai hujan deras dua pekan lalu. Dia tidak mengetahui persis penyebab kerekahan tanah di daerah Lereng Menoreh itu. Rekahan tanah diketahui memanjang sekitar 50 meter dan lebar sekitar 10 cm. “Setelah muncul tanah retak ini, warga selalu merasa waswas. Terkadang warga harus mengungsi jika hujan mengguyur,” kata Mukhlis.

Sebelumnya, warga telah memasang alat pendeteksi dini di lokasi rekahan dengan peralatan sederhana. Yakni, berupa potongan bambu yang dipasang di dua sisi tanah retak dan diberi ukuran dengan spidol.

Dari pengukuran alat itu, sejak 25 Desember sekitar pukul 15.00 lalu, telah terjadi rekahan susulan. “Dari alat sederhana terlihat ada pergerakan tanah dari 3 cm hingga sekitar 9,5 cm. Itu dapat dilihat dari ukuran yang ditulis pada bambu tersebut,” jelasnya.

Dikatakan bahwa, warga Dusun Basongan sebagian besar tinggal di bawah tebing Pusung Buntung yang memiliki ketinggian sekitar 500 meter. Secara keseluruhan Dusun Basongan dihuni 130 keluarga dengan total 440 jiwa.

“Mereka rata-rata hidup di bawah tebing. Adanya rekahan tanah ini setidaknya terdapat 23 rumah dengan total 84 jiwa yang yang terancam. Hingga hari ini ada sekitar 12 keluarga yang mengungsi jika hujan turun,” jelasnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Magelang Joko Sudibyo berharap, masyarakat yang tinggal di daerah bencana agar paham soal gejala-gejala awal terjadinya tanah longsor. Sehingga warga bisa melakukan antisipasi. (vie/ton)