SOLUSI SEMENTARA: Pengasapan yang dilakukan di Desa Menayu Kecamatan Muntilan pertengahan Desember lalu setelah ditemui sejumalh kasus DBD di desa ini. (DOK RADAR KEDU)
SOLUSI SEMENTARA: Pengasapan yang dilakukan di Desa Menayu Kecamatan Muntilan pertengahan Desember lalu setelah ditemui sejumalh kasus DBD di desa ini. (DOK RADAR KEDU)
SOLUSI SEMENTARA: Pengasapan yang dilakukan di Desa Menayu Kecamatan Muntilan pertengahan Desember lalu setelah ditemui sejumalh kasus DBD di desa ini. (DOK RADAR KEDU)

MUNGKID– Kawasan perkotaan di Kabupaten Magelang masih dinyatakan sebagai wilayah endemis bagi penyakit demam berdarah dengue (DBD). Hal itu dikarenakan pola hidup kurang sehat dan permukiman padat penduduk.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang Hendarto mengatakan, kawasan endemis itu diantaranya di Kecamatan Mertoyudan, Mungkid, Muntilan, Secang dan Bandongan. “Mobilitas dan kepadatan warga yang tinggi ikut mempengaruhi tingginya kasus ini,” kata dia, Rabu (31/12).

Penetapan daerah endemis ini, katanya, sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Pihaknya belum menyatakan penurunan status. “Di kawasan itu DBD masih ditemui puluhan kasus dalam satu tahun,” ungkap Hendarto.

Kasus ini banyak ditemukan saat musim hujan tiba. Karena nyamuk mengalami masa penetasan tiap kali musim hujan berlangsung. “Kemunculannya DBD di daerah endemis dinilai memang rutin terjadi setiap tahun,” ungkap dia.

Masyarakat diminta tetap melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan prnsip 3 M (mengubur, menutup dan menguras). Dinas Kesehatan selama ini telah melakukan fogging (pengasapan) di sejumlah titik sesuai dengan laporan temuan kasus dari warga.

Sebelumnya, pada pertengahan Desember ini, terdapat sedikitnya 25 orang warga Dusun Karangmalang, Desa Candisari, Kecamatan Secang yang diduga terkena penyakit DBD. Salah satu anggota DPRD Kabupaten Magelang, Grengseng Pamungkas mengaku mendapat laporan dari warga bahwa 25 orang tersebut mengalami demam tinggi.

Sementara di Desa Blondo Kecamatan Mungkid, terdapat belasan warga yang diduga terserang penyakit Cikungunya. Mereka rata- rata mengalami gejala panas tinggi dan mengeluhkan seluruh badan yang sakit, kaki terasa kaku hingga tidak sanggup untuk berjalan.

“Tidak hanya orang dewasa yang terserang penyakit ini, tapi juga anak- anak. Berdasarkan hasil pemeriksaan di Puskesmas, mereka dinyatakan positif kena Cikungunya,” kata salah satu warga, Pujo Sumedi. (vie/ton)