Jateng Butuh 20 Ribu Naker TPT

155

SEMARANG – Makin banyaknya industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang masuk ke Jawa Tengah membuat provinsi ini kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor tersebut. Sedikitnya, kebutuhan tenaga kerja di sektor TPT ini masih mencapai 15 ribu hingga 20 ribu tenaga.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng, Deddy Mulyadi Ali mengatakan, kekurangan tenaga ini utamanya mereka yang ‘mumpuni’ atau menguasai ketrampilan menjahit. Pasalnya, selama ini pada industri garmen dan tekstil, kebutuhan tenaga kerja mayoritas dilihat dari tingkat ketrampilan, bukan saja dari kemampuan bekerja. “Jadi, tidak mudah cari tenaga kerja yang sesuai dengan kriteria perusahaan. Di industri garmen ini butuh ketrampilan,” jelasnya.

Menurut Dedy, industri padat karya masih berebut mencari tenaga kerja. Bahkan, tak sedikit yang harus jemput bola mencari ke daerah-daerah pinggiran. “Saking banyaknya kebutuhan tenaga kerja, kita kadang sampai jemput bola ke daerah-daerah, mencari orang yang memiliki ketrampilan menjahit di garmen,” ungkap Dedy, yang juga menjabat sebagai General Manager di PT Sandang Asia Maju Abadi.

Hal senada dikatakan Agung Wahono, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Kota Semarang. Agung mengaku, saat ini dari kebutuhan tenaga kerja di sektor TPT ini, hanya sekitar 50 persen saja yang mumpuni dengan ketrampilannya. “Untuk itu, kami perlu dukungan pemerintah untuk ikut menyiapkan tenaga kerja yang terampil di sektor industri TPT ini, utamanya melalui pelatihan-pelatihan kerja,” ujarnya.

Ditambahkan, selama ini 50 persen tenaga kerja di sektor industri TPT banyak diserap di Kota Semarang, Boyolali, Sragen, dan Kabupaten Semarang. Keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK) milik pemerintah belum mampu mencukupi seluruh kebutuhan SDM. “BLK-BLK yang ada tidak bisa memenuhi kebutuhannya, sehingga terpaksa perusahaan kadang harus merelakan satu line industri karena tidak ada operatornya. Sedangkan untuk melatih SDM sendiri yang jelas menyita waktu dan mengurangi kapasitas produksi,” jelas Agung, yang juga menjabat sebagai GM di PT Apac Inti Ungaran, dan Wakil Ketua Apindo Jateng Bidang Advokasi.

Idealnya, lanjut Agung, dalam satu perusahaan ada 40 – 50 persen karyawan yang teruji dan tersertifikasi. Dengan begitu, perlu juga ada program 3 in 1 dari pemerintah, yakni direkrut, dilatih, dan disalurkan, untuk memberikan daya tarik masyarakat bekerja di sektor TPT. (smu)