Dijanjikan PNS, Guru Honorer Tertipu Ratusan Juta

256

”Saya hanya menjalankan amanat yang ditujukan kepada saya. Ada buktinya masih saya simpan. Saya bicara fakta, kalau nanti harus ke jalur hukum saya siap.” Tut, oknum guru yang diduga sebagai calo CPNS.

SALATIGA — Sejumlah guru honorer Kabupaten Semarang tertipu hingga ratusan juta rupiah, setelah tergiur dengan tawaran oknum guru yang menjanjikan korban bisa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), dengan syarat memberikan uang pelican.

Praktik calo CPNS Kabupaten Semarang tersebut, diduga dilakukan oleh Tut, 48, warga Kecamatan Sidomukti, Salatiga, yang juga guru di SMP daerah Getasan, Kabupaten Semarang. Kasus tersebut mencuat setelah beberapa korban memberanikan diri melaporkan hal tersebut kepada pihak terkait. Dua korban calo CPNS yakni Tatik, 40, dan Catur, 47, keduanya warga Pringapus, Kabupaten Semarang, kemarin mendapat panggilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang didampingi kuasa hukum Y Joko Tirtono. ”Korban tersebut akan kami mintai keterangan. Bagaimana kronologi kejadiannya. Hal-hal seperti bisa merusak citra pendidikan di Kabupaten Semarang. Karena menyangkut soal ketenagakerjaan dan lembaga pendidikan. Kami nanti juga akan memanggil Tut, terkait aksinya tersebut, agar kami bisa mendengar masalah dari kedua pihak,” tutur Kabid SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang Adi Prasetyo, Rabu (31/12).

Kepada Radar Semarang, kuasa hukum korban calo CPNS, Y Joko Tirtono mengatakan, bahwa kliennya dirugikan uang sebesar Rp 157.500.000, dengan estimasi masing-masing korban menyetor sekitar Rp 32 juta. Uang tersebut sebagai pelicin, agar bisa menjadi CPNS. Ternyata sampai bulan Desember, janji-janji tersebut tidak kunjung terbukti. ”Tanggal 5 Juli 2014, sembilan orang berbondong-bondong datang kepada saya dan minta tolong agar masalah mereka dibantu. Mereka bersembilan menandatangani meterai enam ribu,” tutur Joko.

Bahkan sampai sekarang, Tut belum mau mengembalikan uang korbannya. Padahal Joko mengaku sudah memberikan surat somasi kepada Tut, namun tetap tidak ada tanggapan serius. Dalam melakukan aksinya, Tut mengaku tidak sendirian. Tut bersama Ani Widiastuti warga Gemoh, Gang Parkit 22.A Buuh, Temanggung yang juga Ketua Umum Forum Tenaga Honorer Sekolah Negeri Indonesia (FTHSNI). Uang-uang yang telah terkumpul, oleh Tut, sebagian disetorkan kepada Ani Agustina, yang kini telah menghuni penjara di LP Tuban Jawa Timur. ”Saya meminta agar dinas terkait agar segera melakukan tindakan tegas. Karena bukan hanya sembilan orang saja. Tapi lebih, namun tidak berani bicara,” pintanya.

Saat dikonfirmasi, Tut menuturkan bahwa dirinya hanyalah korban. Dia mengaku mendapat pertintah dan ditunjuk oleh Ani Agustina. Setelah mendapat uang dari para korban, Tut segera menyerahkan uang kepada Ani. Bahkan dirinya mengaku kalau dirinya juga korban penipuan yang dilakuakan oleh Ani. Karena sampai sekarang dirinya juga masih berstatus guru honorer.

”Saya hanya menjalankan amanat yang ditujukan kepada saya. Saya menerima atas perintah Ibu Ani untuk menerima titipan dari beberapa guru honorer. Ada buktinya masih saya simpan. Saya bicara fakta, kalau nanti harus ke jalur hukum saya siap,” katanya. (mg14/zal/ce1)