Calo Sabu Terancam Lima Tahun Penjara

180

KRAPYAK – Rendra Resdiar Febianto, warga Semarang yang menjadi calo atau perantara transaksi jual beli narkotika terancam pidana penjara selama 5 tahun. Hal itu menyusul telah dilimpahkannya perkara yang bersangkutan ke Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Rabu (31/12).

Dalam sidang yang beragenda pembacaan dakwaan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang, Dadang S menjerat terdakwa dengan dakwaan subsideritas. Dakwaan primer melanggar ketentuan pasal 114 ayat (1) Undang-Undang 35 Tahun 2009 tentang Narkotika di mana ancaman hukumannya minimal 5 tahun dan maksimal 20 tahun penjara. ”Sementara dakwaan subsider melanggar pasal 112 ayat (2) undang-undang yang sama,” ungkapnya di hadapan majelis hakim PN Semarang.

Dijelaskan, terdakwa diketahui pada 8 September 2014 sekitar pukul 11.00 berhasil ditangkap oleh aparat Polrestabes Semarang di dekat Kantor Bank BRI Pasar Langgar, Semarang. Saat itu, terdakwa kedapatan mengambil lima bungkus plastik berisi sabu yang siap dijual.

”Kasus ini ada kaitannya dengan perkara Endang Sulastri yang pada hari yang sama berhasil ditangkap di dekat Kantor Bank Danamon Jalan Kartini, Semarang lantaran kedapatan membawa empat kantong plastik klip berisi sabu-sabu,” katanya.

Terhadap dakwaan tersebut, Rendra menyatakan tidak akan menggunakan penasihat hukum. Sehingga dalam perkara ini terdakwa mengaku akan menghadapi sendiri. Lantaran JPU belum siap menghadirkan saksi-saksi, majelis hakim menunda persidangan hingga Rabu (7/1) pekan depan. ”Memerintahkan JPU untuk menghadirkan terdakwa dan saksi pada waktu yang ditentukan,” ujar majelis hakim sebelum mengakhiri persidangan.

Seperti diketahui, selain menangkap Endang dan Rendra, polisi juga menggulung belasan pelaku dari jaringan yang telah mengedarkan narkoba di beberapa tempat di wilayah Semarang. Di antaranya, Andre Prijanto bin Darto dan Fasa Gufanatta bin Budi Gunawan yang ditangkap di kamar kos di Jalan Prembaen, Semarang Tengah pada 5 Agustus 2014.

Selain itu, pada 7 Agustus 2014 di sebuah rumah kontrakan di Jalan Lodan, Semarang Utara, polisi menangkap Herry Purnomo bin Suparmin dan Sugiharto bin Wagito. Sugiharto diketahui masih berumur 16 tahun. Pada 26 Agustus 2014, polisi juga menangkap Agus Setiono bin Mulyono di kamar kos Jalan Ngablak Indah II, Genuk, Semarang. Sehari kemudian mereka menangkap Cahyo Pramono bin Ingat Sugiartono di SPBU Jalan Kaligawe, Semarang.

Lalu pada 3 September, seorang warga Semarang Utara bernama Bambang Suprayitno juga ditangkap di kamar kosnya Jalan Brotojoyo VII. Pada 10 September 2014, polisi membekuk seorang warga keturunan Tionghoa, Hendry bin Lin Lie di Jalan Taman Gajahmungkur, Semarang.

Kemudian pada 8 Oktober 2014, polisi menangkap dua warga Madura di belakang SPBU Sriwijaya, Semarang, yakni Mulyono bin Berbi dan Muhammad Jahri bin Slabi, serta menggelandang Mulyadi bin Supardi di Pedurungan, Semarang.

Terakhir, pada 13 Oktober 2014, polisi menangkap dua warga Semarang Barat bernama Ahmad Fauzi bin Saifudin dan Noor Dwiyono bin Bejo di depan Kantor KPU Provinsi Jateng serta seorang warga Semarang Selatan bernama Firgananda William bin Imam Kumono di Sendangguwo. (fai/aro/ce1)