HARUS DIKEMBANGKAN LAGI : Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Klidang Lor merupakan penyumbang terbesar PAD dibanding TPI lain di Kabupaten Batang. (Mahfudz alimin/radar semarang)
HARUS DIKEMBANGKAN LAGI : Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Klidang Lor merupakan penyumbang terbesar PAD dibanding TPI lain di Kabupaten Batang. (Mahfudz alimin/radar semarang)
HARUS DIKEMBANGKAN LAGI : Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Klidang Lor merupakan penyumbang terbesar PAD dibanding TPI lain di Kabupaten Batang. (Mahfudz alimin/radar semarang)

BATANG – Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Batang di sektor perikanan gagal memenuhi target. Pasalnya dari target PAD yang ditetapkan untuk 2014 sebesar Rp 1,9 miliar, sejak bulan Januari hingga Desember ini, baru mencapai Rp 1,5 miliar dengan nilai produksi ikan tangkap sebesar Rp 71 miliar.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, melalui Kabid Perikanan Tangkap, Supranoto mengatakan, meskipun target retribusi dari beberapa TPI di Batang hingga akhir Desember 2014 dipastikan tidak terpenuhi, namun produksi ikan yang dihasilkan sudah cukup tinggi. Yakni sejak Januari hingga akhir November tercatat 24.083.712 kilogram dengan nilai produksi sebesar Rp 71.595.258.700. “Hingga jelang akhir tahun ini baru Rp 1,5 miliar dari hasil raman penjualan ikan. Meskipun begitu sebenarnya nilai produksi ikan di Batang sudah cukup bagus karena ada peningkatan” katanya.

Terkait perolehan ikan dalam setahun, kata Supranoto, menjadi yang tertinggi di triwulan ketiga dengan perolehan ikan sebanyak 10.007.736 kilogram dengan nilai produksi sebesar Rp 18.099.220.000. “Perolehan terbesar produksi ikan berlimpah pada bulan antara Juli hingga September. Sementara bulan lainnya setelah itu hingga jelang akhir tahun merosot. Disebabkan oleh cuaca dan hal lain seperti harga BBM naik hingga nelayan enggan melaut dan sebagainya”, katanya.

Supranoto menjelaskan perolehan nilai tersebut didapat dari sektor perikanan ketika melakukan lelang penjualan di TPI. Ada enam TPI di Batang yang beroperasi dan ikut menyumbang produksi ikan. Yakni TPI Klidang Lor I dan Klidang Lor II, TPI Roban barat dan Roban Timur, serta TPI Siklayu dan Celong. “Penyumbang terbesar saat ini adalah Klidang Lor I dan TPI Klidang Lor II. Sementara empat TPI lainnya merupakan TPI dengan pemasukan yang masih kecil,” jelasnya.

Penyebab tidak tercapainya target tersebut, masih terkait permaslahan klasik. Yakni mengenai pendangkalan muara. Padahal, kata Supranoto, pihaknya terus melakukan pengerukan di berbagai muara yang sering terjadi pendangkalan. Mengingat pemda tahun ini sudah memiliki satu kapal keruk lengkap dengan eskavator. Kendati demikian, keterbatasan anggaran lagi-lagi menjadi persoalan, sehingga pengerukan tidak maksimal.

”Kita terus melakukan pengerukan di berbagai muara yang berpotensi terjadi pendangkalan. Kebetulan kita sudah punya kapal sendiri dengan pembiayaan menggunakan APBD. Ketika anggaran tersebut habis, nelayan pun bersedia menggunakan swadaya. Dengan alat yang telah disediakan oleh Pemda, namun tetap saja anggarannya terbatas” pungkasnya. (mg12/ric)