MERANGKAK: Harga cabai kembali naik menjelang pergantian tahun. Sejumlah pedagang juga kesulitan mendapatkan stok cabai sebab banyak petani cabai yang gagal panen karena tanaman rusak karena pengaruh cuaca. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
MERANGKAK: Harga cabai kembali naik menjelang pergantian tahun. Sejumlah pedagang juga kesulitan mendapatkan stok cabai sebab banyak petani cabai yang gagal panen karena tanaman rusak karena pengaruh cuaca. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
MERANGKAK: Harga cabai kembali naik menjelang pergantian tahun. Sejumlah pedagang juga kesulitan mendapatkan stok cabai sebab banyak petani cabai yang gagal panen karena tanaman rusak karena pengaruh cuaca. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Menjelang pergantian tahun harga cabai Kabupaten Semarang mulai meroket. Sebelumnya harga capai sempat turun di kisaran Rp 20 ribu, pada pekan ini harga cabai mulai meroket hingga tembus hingga Rp 90 ribu per kilogram. Kenaikan cabai hingga 450 persen dibanding harga normal tersebut diperkirakan karena faktor cuaca dan ulah spekulan.

Menurut pedagang sayuran, Sri Wahyuni, 42, warga Leyangan, Ungaran Timur, harga cabai rawit biasa mencapai Rp 90 ribu per kilogram, sedangkan cabai merah Rp 80 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya harga cabai hanya dikisaran Rp 20 ribu per kilogram. Kenaikan harga cabai tersebut terjadi secara bertahap.“Kenaikan harga itu disebabkan stoknya kurang, akibat gagal panen karena cabai busuk karena gangguan cuaca. Padahal permintaan cabai cukup tinggi karena banyak warga butuh untuk masak-masak buat pesta tahun baru,” tutur Sri Wahyuni.

Selain cabai, masyarakat di beberapa wilayah juga kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kilogram. Seperti di Bandungan, sejumlah pedagang mengeluh karena agen dan toko-toko penjual gas elpiji beberapa hari ini stoknya kosong. Warga terpaksa melakukan efisiensi penggunaan gas elpiji hingga elpiji di sejumlah toko dipasok. “Sudah beberapa hari ini kami kesulitan membeli gas, beberapa toko penjual gas stoknya kosong. Biasanya kalau harga gas mau naik, gas elpiji hilang dari pasaran. Kami siap beberapa tabung, kalo pasokan elpiji sudah datang langsung beli yang banyak. Karena biasanya pada akhir tahun sulit dapat elpiji,” tutur Lanny Hartanti, 38, pedagang makanan di Jalan Raya Bandungan-Sumowono.

Sementara itu Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, UMKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Semarang, Imum membenarkan adanya kenaikan harga pada komoditas Cabai. Dari pantauan di sejumlah pasar, harga cabai mulai naik pada minggu ke tiga yang mencapai Rp75 ribu per kilogram. Selanjutnya pada minggu terakhir di bulan ini, naik menjadi Rp 80 ribu per kilogram.“Ini kemungkin karena sentiment pasar dan ada permainan spekulan. Di tambah, kondisi cuaca ekstrim sehingga banyak yang gagal panen. Belum lagi masalah infrastruktur jalan yang mempengaruhi pengiriman komoditas dari wilayah penghasil cabai,” tutur Imum.

Sedangkan untuk masalah elpiji menurut Imum sebenarnya stok mencukupi untuk kebutuhan masyarakat di Kabupaten Semarang. Tetapi kekosongan di sejumlah toko disebabkan karena lambatnya distribusi. Sebab pengiriman elpiji terhambat karena kemacetan lalulintas akibat infrastruktur jalan rusak dan sedang dalam perbaikan. “Kami akan menggandeng instansi terkait untuk melakukan pengawasan kebutuhan pokok masyarakat,” tutur Imum.

Kelangkaan gas elpiji juga terjadi di Salatiga. Pantauan Radar Semarang, kelangkaan yang sebelumnya merata di 4 kecamatan, sampai kemarin (30/12) gas elpiji 3 kg mulai berangsur-angsur ada. Tapi daerah Tingkir dan sekitarnya masih langka. “Mungkin karena dari agen libur, gas elpiji mulai ada hari Selasa, tapi masih belum keseluruhan,” terang Siti, 43, penjual gas elpiji 3kg.

Sementara itu, menurut kepala Disperindagkop Sri Danujo, pihaknya mendapat laporan dari pemkot gas elpiji setelah Natal, mulai langka. Pihaknya pun melakukan pengecekan di pasaran. Dan memang kondisinya langka. “Pertamina biasanya untuk Natal dan tahun menambah jumlah persediaan gas elpiji ke agen,” tandasnya.

Terkait rencana kenaikan gas elpiji, Sri Danujo, mengatakan jika sampai saat ini Disperindagkop sedang mengkaji kenaikan elpiji. Pihaknya mendengar ada perbedaan harga gas elpiji 3kg dari agen antara Salatiga dengan Kabupaten Semarang. Salatiga rencananya Rp.13.750, Kabupaten Semarang Rp. 14.000.“Kami akan konfirmasi dulu, ditakutkan nanti terjadi kesenjangan karena Kabupaten Semarang pendistribusiannya lebih jauh,” kata Danujo. (tyo/mg14/zal)