Dibangun 2 Tahun, Habiskan Rp 64,22 M

156
DIRESMIKAN: Menteri Perdagangan Rachmat Gobel saat berdialog dengan pedagang Pasar Bulu yang dipandu oleh Kepala Dinas Pasar Trijoto Sardjoko di sela peresmian kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
DIRESMIKAN: Menteri Perdagangan Rachmat Gobel saat berdialog dengan pedagang Pasar Bulu yang dipandu oleh Kepala Dinas Pasar Trijoto Sardjoko di sela peresmian kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
DIRESMIKAN: Menteri Perdagangan Rachmat Gobel saat berdialog dengan pedagang Pasar Bulu yang dipandu oleh Kepala Dinas Pasar Trijoto Sardjoko di sela peresmian kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BALAI KOTA – Bangunan baru Pasar Bulu diresmikan oleh Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Selasa (30/12) kemarin. Pasar megah yang menghabiskan anggaran senilai Rp 64,22 miliar itu diharapkan bisa menjadi tempat promosi produk lokal dan mengangkat hasil bumi ke tingkat nasional maupun luar negeri.

Dalam proses revitalisasi pasar yang dibangun di atas tanah seluas 8.541 meter persegi dengan luas bangunan 15.000 meter persegi itu dilakukan secara bertahap mulai 2012 lalu. Kementerian Perdagangan turut memberikan support anggaran sebesar Rp 10 miliar, melalui dana alokasi khusus Tugas Pembantuan APBN.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memberikan bantuan anggaran. Kolaborasi pendanaan ini mengubah pasar rakyat menjadi lebih nyaman dan diharapkan menjadi poros perdagangan rakyat di Kota Semarang. Pasar Bulu merupakan pasar kedua yang diresmikan Menteri Perdagangan setelah sebelumnya Pasar Meruya Ilir, Provinsi DKI Jakarta, yang diresmikan pada 25 November 2014 lalu.

”Kami berharap Pasar Bulu dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah Semarang dengan harga yang relatif lebih terjangkau. Stabilitas harga barang kebutuhan pokok masyarakat dapat terjaga, serta perputaran ekonomi masyarakat Semarang dapat lebih berkembang,” harap Rachmat Gobel saat peresmian Pasar Bulu.

Kementerian Perdagangan akan terus berkomitmen mempertahankan eksistensi dan daya saing peran pasar rakyat melalui program revitalisasi. ”Kami akan terus melakukan upaya mengubah citra dan modernisasi pasar rakyat dari pasar yang kumuh, bau, becek, dan tidak tertib, menjadi pasar yang bersih, tertib, nyaman, dan sejuk,” tegasnya.

Menurutnya, program revitalisasi ini tidak hanya membangun pasar secara fisik. Kemendag juga melakukan pembinaan dan pendampingan.

”Pembangunannya tidak terhadap fisik saja, tetapi juga pembinaan berupa pendampingan bagi manajemen pengelola pasar, dan meningkatkan pengetahuan bagi para pedagang, sehingga ke depan masyarakat akan kembali beralih ke pasar rakyat atau tradisional,” jelasnya.

Rachmat Gobel menambahkan, program revitalisasi pasar rakyat ini juga ditujukan untuk mendorong percepatan pembangunan di daerah. Pertumbuhan ekonomi di daerah akan memperkuat sektor perdagangan dan meningkatkan daya saing pasar domestik. ”Hal ini sangat penting dalam menghadapi tantangan dan kompetisi global yang semakin ketat,” ujarnya.
Mendag berpesan, pada masyarakat dan pengelola Pasar Bulu untuk menjaga dan memelihara pasar dengan baik. ”Kami berharap Pasar Bulu ini dapat dikelola dan dipelihara dengan baik, sehingga kegiatan usaha para pedagang dapat terus berkembang guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di wilayah Semarang,” tandasnya.

Bagi Mendag, program revitalisasi pasar seperti ini sangat penting bagi perdagangan nasional. Perbaikan atau pembenahan pasar rakyat akan berfungsi sebagai sarana usaha bagi pedagang mikro kecil, memperlancar arus distribusi barang, sekaligus sebagai barometer monitoring harga dan ketersediaan barang secara nasional. ”Jangan sampai menjual barang impor ilegal, barang tidak ada labelisasi, dan tak ber-SNI (Standar Nasional Indonesia). Hal ini untuk menjaga kesehatan, keselamatan, dan keamanan konsumen,” pesannya.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyebutkan, ada 152 kios dan 2.002 lapak yang disiapkan untuk para pedagang. Diharapkan pada minggu pertama Januari mendatang, proses perpindahan pedagang ke bangunan baru Pasar Bulu sudah selesai, sehingga minggu kedua aktivitas dagang di bangunan baru sudah normal kembali.

”Ada beberapa catatan yang disampaikan Pak Menteri, yakni jangan jualan barang impor apalagi ilegal, terapkan labelisasi, dan ketiga barang dagangan sebisa mungkin dibuat metode SNI, ini yang akan kita pantau, termasuk tertib ukur akan kita kontrol lagi,” terangnya. Dalam peresmian tersebut juga dihadiri Wakil Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko.
Terpisah, Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Agung Budi Margono mengatakan, dewan mendorong ada target capaian revitalisasi pasar hingga 2015. Namun yang paling penting, menurutnya, adalah pemberdayaan setelah pasar direvitalisasi, termasuk perawatan dan pengelolaannya.

”Bagaimana bisa menjaga kebersihan dan bisa menarik minat masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional. Itu saya rasa lebih besar tantangannya yang harus dilakukan pemerintah,” tandas legislator dari Fraksi PKS itu.

Setelah meresmikan Pasar Bulu yang ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemotongan pita di pintu masuk, Mendag menyempatkan diri melihat kios-kios yang ada di dalam pasar, setelah itu beralih ke Kelurahan Panggung Kidul, Kecamatan Semarang Utara, untuk membuka pasar murah. (zal/aro/ce1)