Syiar Agama Melalui Seni

231
KALIGRAFI: Seorang seniman lukis memamerkan hasil karyanya di GPD Jalan Pemuda, kemarin. (Dhinar Sasongko/Radar Semarang)
KALIGRAFI: Seorang seniman lukis memamerkan hasil karyanya di GPD Jalan Pemuda, kemarin. (Dhinar Sasongko/Radar Semarang)
KALIGRAFI: Seorang seniman lukis memamerkan hasil karyanya di GPD Jalan Pemuda, kemarin. (Dhinar Sasongko/Radar Semarang)

SALATIGA – Sekitar 60-an karya lukis dipamerkan di Gedung Pemerintah Daerah (GPD) jalan Pemuda selama 3 hari (27 – 29/12). Pameran yang bertema Ruang Rupa Kalimosodo itu memamerkan karya lukis kaligrafi dari enam pelukis.

Ketua panitia pameran, Otok Shendra Masruri menuturkan, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk syiar agama melalui seni budaya. “Kali ini, kita ingin mencoba membawa seni ke arah religi sebagai akar budaya Jawa. Dimana saat penyebaran agama tidak ada aliran,” jelas Otok saat ditemui di sela – sela pameran.

Semua karya seni yang dipamerkan merupakan hasil karya enam pelukis. Mereka adalah Otok SM, Wahyu Hape, Eddie Dolan (Bandung) Triyono, alm Maman Suparman (Semarang) serta Lockie Campbell (WNA). “Semua dikerjakan dalam waktu 1.5 bulan,” imbuh pria berambut sebahu tersebut.

Salah satu karya yang cukup mengagetkan mengingat tema yang diambil adalah saat dipajangnya gambar wanita telanjang. Menurut Otok, karya itu melukiskan tentang pertama kali saat pelukisnya sedang masuk ke lingkungan prostitusi. “Itulah yang mengilhami lukisan tersebut,” jelas dia.

Sementara itu pelukis lainnya Wahyu Hape, membuat lukisan dengan kaligrafi bahasa jawa yang membahas tentang ilmu sebagai cahaya. “Saya selesaikan lukisan ini sekitar dua minggu,” terang perempuan berkerudung yang kesehariannya mengajar di SD Muh Suruh tersebut.

Sedangkan Triyono, pelukis asal Salatiga memilih menggunakan tanah liat untuk bahan melukisnya. Menurutnya, tanah liat memiliki komposisi warna yang khas dan unik. “Warna tanah liat sangat bagus, memang cukup lama menyelesaikan lukisan ini karena memutuhkan panas matahari untuk mengeringkannya,” jelas Triyono sambil menunjukkan dua lukisan karyanya.

Pameran lukisan ini dibuka oleh wakil wali kota Muh Haris dan sedianyakan berakhir Senin (29/12) malam. Pameran ini di prakarsai oleh komunitas Salatiga Art Centre. Para pelukis yang tergabung dalam komunitas ini mengharap pemerintah bisa memberikan ruang bagi mereka untuk memamerkan karyanya. Pameran yang dilakukan di GPD sangat mahal karena harus menyewa gedung dengan biaya lebih dari satu juta per hari.(sas/zal)