RILIS KINERJA: Wakapolda Jateng Brigjen Slamet Riyanto (tengah) saat jumpa pers laporan akhir tahun di aula Mapolda Jateng, Senin (29/12). (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
RILIS KINERJA: Wakapolda Jateng Brigjen Slamet Riyanto (tengah) saat jumpa pers laporan akhir tahun di aula Mapolda Jateng, Senin (29/12). (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
RILIS KINERJA: Wakapolda Jateng Brigjen Slamet Riyanto (tengah) saat jumpa pers laporan akhir tahun di aula Mapolda Jateng, Senin (29/12). (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Hingga akhir 2014, sedikitnya ada 10 kasus besar menguap atau belum berhasil diungkap oleh penyidik Polrestabes Semarang. Perkembangan proses hukum kasus-kasus tersebut terkesan jalan di tempat, dan akan menjadi deretan pekerjaan rumah (PR) yang harus ditindaklanjuti pada 2015 mendatang. Publik memang tidak mengetahui ada apa di balik tidak terungkapnya sejumlah kasus besar di wilayah hukum Polrestabes Semarang tersebut. Baik dalam kategori kriminal umum maupun kriminal khusus.

Data yang dihimpun Radar Semarang, di antara kasus kriminal umum yang tidak terungkap adalah kasus penembakan terhadap penjaga rel ganda, Sholeh, 35, di Gang Garuda RT 5 RW 6, Kebonharjo, Bandarharjo, Semarang Utara pada Kamis, 10 Oktober 2013 silam. Pelaku pembunuhan dalam kasus ini menggunakan senjata api, sehingga seharusnya mendapatkan perhatian utama pihak kepolisian untuk mengungkap kasus tersebut. Terlebih korbannya tewas ditembak. Bahkan sempat menyeruak dalam kasus ini diduga melibatkan aparat.

Kasus menonjol lainnya adalah perampokan mobil pengisi ATM BCA Rp 2,5 miliar di Perumahan Tanahmas, Semarang Utara, pada Kamis (5/1/2012). Pelaku menggunakan senjata api laras panjang. Lagi-lagi sempat menyeruak bahwa pelaku melibatkan oknum kepolisian. Kejanggalan-kejanggalan alur dalam perampokan tersebut menuai banyak argumen. Di antaranya, timbul pertanyaan mengapa pengiriman uang sebanyak itu dilakukan tengah malam.

Dari rekonstruksi diketahui, selain tidak membawa senjata, Bripka Eko saat bertugas melakukan pengawalan tidak memakai sepatu, melainkan hanya mengenakan sandal jepit. Fakta-fakta yang berhasil terkuak tersebut sangat tidak sesuai dengan prosedur tetap (protap) dalam pengamanan.

Diketahui mobil berangkat dari kantor yang terletak di Jalan Majapahit No 412 A Semarang sekitar pukul 21.30. Semula mobil tersebut membawa uang sebanyak 7 tas berjumlah Rp 4,2 miliar. Mereka berangkat untuk mengisi di sejumlah ATM, di antaranya ATM di daerah Plamongan dan Kedungmundu. Terakhir usai mengisi di ATM Tanahmas tersisa lima tas di dalam mobil. Berdasarkan rute, sedianya akan melakukan pengisian di ATM BCA Bangkong, Majapahit, dan RS Pantiwilasa Citarum.

Saat itu, pihak kepolisian melalui Kapolrestabes Semarang kala itu Kombes Pol Elan Subilan mengatakan, masih menunggu hasil ahli IT (teknologi informasi). Namun nyatanya hingga sekarang tidak ada tindak lanjut hasil penyidikan.

Sejumlah kasus pembunuhan lainnya yang menonjol dan belum terungkap pelakunya adalah kasus pembunuhan mantan karyawati Roti Swiss, Dian Dwi Puryani, 30, warga Kaliwiru Gang 2 Nomor 45 RT 5 RW 2, Kaliwiru, Candisari, Semarang. Jasad korban ditemukan di hutan wisata Tinjomoyo, Gunungpati pada Selasa (11/11/2014).

Selain itu, juga kasus dugaan pembunuhan mutilasi di Trimulyo, Genuk. Kasus ini berawal dari ditemukannya dua mayat manusia dalam kondisi tubuh hancur terpotong-potong di Polder Trimulyo RT 4 RW 2 Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk, Kamis petang (18/9/2014). Kasus pembunuhan lainnya menimpa seorang nenek pengusaha kos-kosan, Sutirah Pawiro Sudarmo, 80. Korban ditemukan tewas di ruang tamu rumahnya Dusun Bangkongsari RT 5 RW 5, Tugurejo, Kota Semarang, Senin (29/10/2012) silam.

Dan, yang terbaru kasus pembunuhan terhadap seorang nenek bernama Tan Tjoe Nio atau Ratnawati, 86. Ia ditemukan tewas misterius dalam kondisi bersimbah darah di ruang tengah di rumahnya di Jalan Kentangan Tengah No 76, RT 3 RW 5, Kelurahan Jagalan, Semarang Tengah, Sabtu (27/12/2014) lalu. Diduga Tan Tjoe Nio dibunuh perampok yang menyatroni rumahnya.

Sementara dalam kategori kriminal khusus adalah dugaan pembobolan rekening senilai Rp 8 miliar di rekening milik salah seorang nasabah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di Jalan Pemuda No 73 Semarang. Diduga telah terjadi pembobolan rekening bernomor 135-00-1140118 atas nama Sri Rahayu Binti Soemoharmanto. Dilaporkan sejak Selasa, 16 September 2014, dengan nomor LP/B/1489/IX/2014/jtg/Res Tbs Smg. Kasus ini diduga berkaitan pembagian warisan pengusaha Soemoharmanto bernilai ratusan miliar. Bobolnya Rp 8 miliar tersebut diduga melibatkan orang dalam Bank Mandiri. Hingga kini kasus tersebut belum ada perkembangan berarti.

Pengamat kepolisian Universitas Diponegoro (Undip), Budi Wicaksono, mengatakan, adanya sejumlah kasus tidak terungkap tidak sepenuhnya kesalahan aparat kepolisian. Menurutnya, banyaknya kasus yang terjadi selama ini belum berimbang dengan jumlah personel kepolisian.

”Misalnya ada 25 kasus, kemudian terungkap semua sepertinya kok tidak mungkin. Melihat jumlah personel kepolisian di Indonesia masih sangat kurang. Perbandingannya 1:600. Satu anggota polisi harus melayani 600 orang. Idealnya 1:350. Sehingga jika sebuah kasus kejahatan tidak terungkap, tidak bisa menyalahkan pihak kepolisian. Namun demikian, bukan berarti anggota polisi boleh enak-enakan,” bebernya.

Dia menyayangkan, model kinerja yang digunakan tim kepolisian saat ini adalah menerima laporan baru bergerak. Artinya, kepolisian tidak bergerak secara aktif atau melakukan upaya preventif (pencegahan). ”Polisi kita itu kayak modelnya pemadam kebakaran, yang datang setelah ada kejadian. Harusnya lebih memperkuat upaya pencegahan. Jika polisi masih menggunakan model pemadam kebakaran, ya kita tidak bisa berharap banyak,” katanya.

Menurutnya, kepolisian merupakan satu bagian sistem peradilan pidana. Begitu juga dengan hakim. ”Jika ada polisi baik, hakimnya tidak baik, ya percuma. Begitu pun sebaliknya, ada hakim baik tapi polisinya tidak baik ya percuma. Semua harus sinergi. Jika tidak, mustahil berhasil memberikan peradilan kepada masyarakat,” ujarnya.

Budi mengakui, setiap kasus memang memiliki tingkat kerumitan masing-masing. Kepolisian perlu didorong agar tetap memiliki dedikasi. Selain itu, minimnya keterampilan terutama dalam kasus yang memiliki tingkat kerumitan. ”Personel kepolisian harus ditambah, dan model kinerja harus lebih menekankan pencegahan,” tandasnya.

Pakar hukum pidana Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Rahmat Bowo mengatakan, pengungkapan sebuah kasus memang tidak bisa dipastikan ataupun disamakan. Sebab, setiap kasus memiliki tingkat kerumitan berbeda-beda. Terlebih masih minimnya jumlah personel kepolisian.

”Rasio penduduk yang harus dilayani belum berimbang. Selain itu persoalan kemampuan anggota polisi dalam melakukan deteksi masih sangat minim. Begitu pun peralatan atau teknologi yang dimiliki juga sangat minim. Jika peralatan kurang, maka kemampuan untuk mengungkap sebuah kasus juga kurang,” ungkap Rahmat.

Tidak kalah penting, lanjut Rahmat, anggota polisi harus memiliki semangat untuk terus berkembang dan profesional. Maka kepolisian perlu didorong agar memiliki semangat mengungkap kasus secara profesional. ”Jangan sampai polisi hidup dengan kekurangan, apalagi hanya menghadapi konflik dengan TNI saja. Masih adanya kasus tidak terungkap bukan berarti polisi tidak bekerja. Akan tetapi, ada ukuran-ukuran mana yang harus diselesaikan dengan cepat. Misalnya, kasus-kasus itu sudah jelas, modusnya jelas, ya harus diungkap dengan cepat. Kecuali kasus yang memang rumit dan butuh kejelian luar biasa. Memang butuh waktu lama. Tidak boleh salah. Kalau keliru, malah salah tangkap. Bagaimanapun ini menjadi evaluasi,” katanya. (amu/aro/ce1)