GELEDAH MOBIL LEWAT: Tim gabungan jajaran Polrestabes Semarang yang dilengkapi senjata laras panjang melakukan razia di Jalan Veteran Semarang, Sabtu malam (27/12) hingga Minggu (28/12) dini hari. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
GELEDAH MOBIL LEWAT: Tim gabungan jajaran Polrestabes Semarang yang dilengkapi senjata laras panjang melakukan razia di Jalan Veteran Semarang, Sabtu malam (27/12) hingga Minggu (28/12) dini hari. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
GELEDAH MOBIL LEWAT: Tim gabungan jajaran Polrestabes Semarang yang dilengkapi senjata laras panjang melakukan razia di Jalan Veteran Semarang, Sabtu malam (27/12) hingga Minggu (28/12) dini hari. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Fadli, 18, warga Sampangan Semarang, dan Mufid, 17, warga Manyaran Semarang, yang berboncengan mengendarai motor protolan dan tanpa mengenakan helm, melaju kencang dari arah barat atau depan RS dr Kariadi menuju Jalan Veteran, mendadak panik.

Keduanya baru sadar telah masuk perangkap razia yang dijaga berlapis-lapis barisan polisi. Yakni, tim gabungan jajaran Polrestabes Semarang yang dilengkapi senjata laras panjang, sedang melakukan razia di Jalan Veteran Semarang, Sabtu malam (27/12) hingga Minggu (28/12) dini hari.

Kendati demikian, keduanya enggan menyerah begitu saja. Dalam waktu cepat, ia memutuskan membetot gas motornya untuk menerobos barisan polisi. Dia tak mengira, justru karena berusaha kabur itulah membuat tim kepolisian curiga. Sebab, jika pengendara yang tidak bermasalah, tentu akan dengan tenang dan santai saat mendapati razia.

Ternyata benar, setelah sejumlah petugas menggeledah di jok motor dan saku celana, ditemukan sejumlah pil setan yang sering disebut pil trihex. ”Itu bukan milik saya Pak, tadi dikasih teman,” ujar Mufid, berdalih kepada petugas polisi.

Namun setelah dicecar dengan sejumlah pertanyaan, akhirnya ia mengaku memiliki pil penenang yang kerap disalahgunakan tersebut. Para remaja kerap mengonsumsinya untuk menambah nyali. Tak jarang, pengguna pil tersebut kemudian melakukan aksi kejahatan.

Mufid mengaku mendapatkan pil tersebut dari seseorang bernama Memet, warga Manyaran. Ia juga mengaku tidak bermaksud melakukan kejahatan. ”Saya hanya ingin jalan-jalan menikmati malam Minggu saja di Jalan Pahlawan,” dalihnya.

Sementara Fadli, mengatakan bahwa pil tersebut bisa dibeli eceran. Jika membeli satu paket berisi 10 butir seharga Rp 15 ribu. ”Saya beli eceran Rp 5 ribu dapat 3 butir. Ini mau nongkrong. Minum pil agar tenang saja,” kata remaja yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih gudang di kawasan Industri Krapyak ini.

Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat (Sat Binmas) Polrestabes Semarang AKBP I Nengah Wirta Damayana, mengatakan kegiatan razia tersebut dilakukan dalam rangka pra kondisi pergantian tahun 2014-2015. ”Fokus razia ini kejahatan 3C (curas, curat, dan curanmor), penggunaan senjata api tanpa izin, dan terorisme,” kata Nengah di sela-sela memimpin razia tersebut.

Dikatakan dia, untuk razia kali ini tidak ditemukan kasus menonjol. Pihaknya mengamankan sejumlah pil trihex dan minuman keras dari sejumlah pengendara. ”Untuk seterusnya, akan terus kami tingkatkan pengawasan melalui razia seperti ini,” katanya.

Nengah mengimbau kepada masyarakat, menyambut pergantian tahun kali ini, sebaiknya tidak melakukan pesta pergantian tahun di pusat kota. ”Alangkah baiknya merayakan di kelurahan masing-masing,” katanya.

Menurutnya, hal itu agar Kamtibmas tetap terjaga. Termasuk tidak merayakan tahun baru dengan cara pesta minuman keras agar Kamtibmas tetap kondusif. ”Jangan mengubah pergantian tahun menjadi musibah,” pungkasnya. (amu/ida/ce1)