Polisi Ciduk Peramu Miras Oplosan

186
BIKIN MABUK: Berbagai jenis minuman keras yang berhasil disita jajaran Polres Magelang Kota selama operasi Penyakit Masyarakat 2014. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
BIKIN MABUK: Berbagai jenis minuman keras yang berhasil disita jajaran Polres Magelang Kota selama operasi Penyakit Masyarakat 2014. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
BIKIN MABUK: Berbagai jenis minuman keras yang berhasil disita jajaran Polres Magelang Kota selama operasi Penyakit Masyarakat 2014. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MUNGKID– Meski telah beberapa kali menelan korban, peredaran minuman keras oplosan masih saja ditemui. Terbaru, jajaran Polres Magelang berhasil menangkap pengoplos minuman setan ini di kawasan Borobudur.

Pengoplos miras tersebut diketahui bernama Heri Purnomo, 43. Dia tinggal di Kanggan Desa Wringen Putih, Kecamatan Borobudur. “Tersangka kami tangkap saat meracik miras oplosan tersebut,” kata Kapolres Magelang AKBP Rifky, Minggu (28/12).

Dari tangan tersangka ini, polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Diantaranya, uang sebesar Rp 120.000, sejumlah botol kemasan miras, 7 botol berisikan minuman keras oplosan. Juga beberapa bungkus minuman berenergi dan bekas alkohol murni. “Semua bahan sudah diracik. Pelaku memang meracik di rumahnya,” kata Rifky.

Kasubag Humas AKP Edy Sukrisna menambahkan pelaku diketahui sudah lama beroperasi. Dia juga telah memiliki sejumlah pelanggan.

Komposisi campuran miras oplosan ini adalah satu liter alkohol murni dicampur air mineral 9 liter. Kemudian dicampur 9 bungkus minuman berenergi, orange essence aroma makanan satu tutup. “Bahan-bahan ini, selanjutnya dicampur di dalam sebuah ember, setelah bahan – bahan tersebut tercampur kemudian dimasukkan ke dalam botol,” kata Edy.

Menurutnya, setiap botol dijual seharga Rp 20 ribu. “Miras ini sangat berbahaya bagi pengkonsumsinya. Selain bisa mengakibatkan kerusakan organ tubuh juga bisa menyebabkan kematian,” ungkap dia.

Bahan baku miras tersebut, kata dia, didapatkan dari sejumlah toko di Kabupaten Magelang. Pelaku sebelumnya pernah melakukan eksperimen tersebut.

Hingga kemarin, polisi masih memeriksa tersangka secara intensif. “Masih kami kembangkan kasus ini,” kata dia.

Penyidik bisa mengancam tersangka telah melanggar pasal 204 ayat 2 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Ancaman hukuman 20 tahun penjara atau seumur hidup.

Terpisah, masih ditemukan berbagai jenis dan merk minuman keras (miras) selama operasi penyakit masyarakat (pekat) 2014, disinyalir karena peraturan daerah Kota Magelang yang mengatur denda dan hukuman kepada penjualan maupun pengedar cukup ringan. Sehingga penjual maupun pengedar tetap berjualan minuman memabukkan itu.

Kapolres Magelang Kota AKB Zain Dwi Nugroho mengaku telah berkoordinasi dengan Pemkot Magelang untuk mengkaji kembali Perda Nomor 16 Tahun 2002 tentang minuman beralkohol itu. Disebutkan bahwa hukuman maksimal 6 bulan kurungan penjara dan denda maksimal Rp 5 juta masih dianggap terlalu ringan dibandingkan keuntungannya.

“Kami merasa perda tersebut tidak memberikan efek jera bagi para pelaku, sehingga mereka selalu mengulangi perbuatannya. Apalagi keuntungan mereka itu sangat besar, kecil sekali mereka membayar dendanya itu,” kata Zain kemarin (27/12).

Zain mengharapkan jika ada perubahan perda, maka yang tercantum adalah hukuman dan denda minimal. Dia menilai hal itu bisa memberikan efek jera. Terlebih itu akan penting untuk menyambut program Ayo ke Magelang 2015, agar para wisatawan juga bisa merasa aman berkunjung ke kota jasa.

“Saya sendiri menginginkan dalam perda mengatur hukuman minimal bukan maksimal. Misalnya minimal hukuman 6 bulan penjara dan denda minimal Rp 5 juta. Saya rasa kalau seperti itu para pelaku bisa kapok. Ya paling tidak hukumannya sama lah dengan narkoba, minimal 2 tahun penjara,” usulnya.

Terpisah, Ketua DPRD Kota Magelang, Endi Darmawan sependapat dengan usulan berbagai pihak terlebih dari aparat penegak hukum yang meminta Perda 16/2002 bisa dilakukan perubahan. Dia menyatakan, bahwa dewan bisa mengusulkan perubahan tersebut, agar Kota Magelang bisa bebas dari miras.

“Kasus miras bisa juga masuk ke dalam tindakan pidana ringan (tipiring) dengan hukuman paling tidak satu tahun penjara, dendanya bisa ditingkatkan berlipat dari denda yang sekarang, yakni bisa Rp 50 juta juga sampai Rp 100 juta, supaya bisa memberikan efek jera,” tuturnya. (put/lis/vie/ton)