Omzet Pedagang Merosot 70 Persen

171

RANDUSARI – Para pedagang dan pemilik toko di sentra oleh-oleh Jalan Pandanaran mengeluhkan kebijakan Pemkot Semarang mengenai pelarangan parkir di pinggir Jalan Pandanaran mulai 1 Desember lalu. Pasalnya, sejak aturan tersebut diberlakukan, pendapatan mereka merosot hingga 70 persen.

Penjual Lunpia Mbak Lien, Muhammad Nur Fauzi, mengaku kecewa dengan peraturan baru itu. Menurutnya, pelarangan parkir di pinggir jalan merugikan berbagai pihak. Terutama para pedagang yang terpaksa kehilangan pelanggan, karena calon pembeli tidak boleh menghentikan kendaraan di depan lapaknya.

Alasan penyebab kemacetan, menurut Fauzi –sapaan akrabnya- tidak masuk akal. ”Kalau macet itu tidak bisa bergerak. Selama ini kan tidak pernah terjadi. Hanya merayap saja. Kecuali kalau terjadi kepadatan arus lalu lintas sampai di Simpang Lima sana. Ini kan hanya sampai lampu merah situ. Kepadatannya pun hanya beberapa meter,” keluhnya.

Dikatakan Fauzi, selama ini hanya segelintir pengguna jalan yang mengeluhkan soal kepadatan jalan di depan pusat oleh-oleh khas Semarang itu. Kebanyakan dari mereka tetap enjoy dan tidak merasa terganggu dengan kondisi itu.

Soal pengalihan lahan parkir di Jalan Batan Miroto, bagi Fauzi bukan solusi. Pasalnya, tidak semua wisatawan mau memarkirkan kendaraan di sana. Selain belum tahu, antusias mereka jadi mengendur lantaran dituntut berjalan dengan jarak yang relatif jauh. Memang pemerintah menyediakan minibus untuk mengantar-jemput wisatawan yang ingin membeli oleh-oleh. Tapi, tetap saja belum banyak yang berminat.

”Buktinya, sampai sekarang masih saja sepi pengunjung. Penurunannya sampai 70 persen lho,” kata Fauzi yang sudah berdagang selama 20 tahun.

Jika niat pemkot ingin mengatur, lanjutnya, sebaiknya dicarikan solusi yang lebih realistis. Tidak merugikan pedagang. Mungkin dengan menata pedagang seperti di areal Simpang Lima.

”Kemarin sempat beredar isu kalau pedagang di sini mau dipindahkan ke lantai 2 Pasar Bulu. Itu malah semakin tidak masuk akal. Mana ada pencari oleh-oleh masuk di pasar tradisional? Masak jualan lunpia dan wingko babat jejer dengan pedagang sayur atau ikan. Kalau di pinggir jalan masih mending. Tapi, kalau itu benar-benar terjadi berarti pemerintah sama saja mengajak kami bunuh diri. Wong sentra oleh-oleh di Pandanaran ini sudah jadi ikonnya Semarang. Semua wisatawan dari luar kota hingga mancanegara kalau mau mencari oleh-oleh, tahunya, ya di sini. Kalau jadi dipindah, berarti pemerintah menghapus karakter kotanya sendiri,” papar Fauzi.

Senada dengan Eni. Penjual wingko babat ini sangat tidak setuju dengan cara pemerintah yang seperti ini. Menurutnya, banyak pelanggan yang kecele lantaran tidak boleh parkir di areal pusat oleh-oleh tersebut.

”Mungkin kesal lantaran dilarang parkir, mereka tidak kembali ke sini lagi. Mungkin cari oleh-oleh di tempat lain,” ungkapnya.

Eni pun mengiyakan soal pendapatannya yang menurun drastis. Wanita berambut cepak ini mengaku, biasanya mengantongi rata-rata hampir Rp 1 juta pada liburan panjang seperti sekarang. Tapi, agaknya masa panen itu tidak lagi terjadi karena ulah pemerintah yang dianggap egois dan mencekik pedagang.

”Orang jualan di sini itu sudah sejak 25 tahun yang lalu. Sekarang terjadi macet kok yang disalahkan pengunjungnya. Mbok jalannya itu yang diperlebar,” cetusnya.

Okta Primasari, pengunjung asal Pekalongan juga merasa kerepotan dengan kebijakan ini. Dia harus diturunkan di pinggir Jalan Pandanaran untuk membeli oleh-oleh. ”Karena tidak boleh parkir, terpaksa saya diturunkan di pinggir jalan. Papa sama mama menunggu di tempat yang boleh untuk parkir. Nanti kalau saya sudah selesai belanja, baru BBM minta dijemput,” kata Okta ketika ditemui Radar Semarang, kemarin.

Meski disiasati dengan cara itu, Okta mengaku kapok. Menurutnya, lain kali dia tidak mau disuruh berburu oleh-oleh sendirian. Selain tak ada teman ngobrol, dia merasa kesulitan membawa hasil belanjanya. ”Mana ini titipan semua lagi. Bawanya susah,” ungkapnya.

Di lain pihak, shuttle bus yang disediakan Dinas Perhubungan dirasa kurang efektif. Empat armada yang tersedia harus terus rolling mengantar-jemput wisatawan. Ironisnya, meski di hari libur panjang ini, tidak satu pun armada yang tampak dipenuhi pelancong. Kondisi itu dianggap membuang-buang bahan bakar saja.

Salah satu pengawas shuttle bus Gunawan menuturkan, setiap armada harus berjalan setiap armada lain pulang ke markas meski tidak ada yang diantar. ”Nantinya yang berangkat ini akan menjemput wisatawan yang tadi diantar oleh kloter sebelumnya. Memang harus berangkat meski tanpa penumpang. Rutenya sementara ini hanya di pusat oleh-oleh Jalan Pandanaran dan Lawangsewu,” ungkapnya.

Ditambahkannya, cara ini merupakan pelayanan agar wisatawan tidak menunggu terlalu lama setelah puas berbelanja atau jalan-jalan di Lawangsewu. Ditanya soal jumlah penggunanya, Gunawan mengaku sudah lumayan. ”Mungkin karena ini baru diperkenalkan. Jadi, masih sedikit yang tahu,” katanya. (mg16/aro/ce1)